Majalah Sunday

Sebuah Puisi: Sadar

Penulis: Ayu Anjani – Universitas Pendidikan Indonesia

Sadar

Sadar bahwa langit biru menari dengan awan putih,

Bumi hijau merangkul sungai dan hutan lebat.

Angin berbisik rahasia kepada pohon-pohon tua yang bersih,

Menyatukan denyut nadi kehidupan yang tak pernah penat.

 

Manusia berjalan ringan di atas tanah yang subur,

Tak merusak, tapi menjaga alur alam semesta.

Langkahnya begitu selaras, tak serakah dan tak angkuh menggugur,

Karena sadar bumi bukan hak milik, melainkan titipan bersama.

 

Sadar bunga mekar dalam pelukan suasana pagi,

Serangga menari di antara warna yang bersemi.

Sungai mengalir jernih, membawa kisah dalam harmoni,

Gunung berdiri tegak menjaga keseimbangan bumi.

Sadar....

Jika kita memelihara keseimbangan ini,

Tak perlu lagi ada luka pada hutan, laut, dan udara.

Langit akan tetap teduh menaungi generasi nanti,

Dan bumi tersenyum tanpa jejak nestapa manusia.

Burung bernyanyi tanpa takut ada yang kehilangan rumah,

Karena ranting dan daun tetap terjaga utuh.

Hewan berlari bebas tanpa ancaman yang resah,

Dalam ekosistem yang kuat, saling menopang dan terus tumbuh.

Tenangnya peradaban maju bukan berarti menaklukkan semesta alam,

Melainkan hidup berdampingan dengan bijaksana.

Teknologi dan tradisi berjalan dalam satu irama yang dalam,

Menguatkan harmoni antara manusia dengan semesta.

Langit dan bumi bukan sekadar ruang dan tanah,

Mereka adalah nyawa yang saling terhubung.

Ketika satu terluka, yang lain ikut gelisah,

Menandakan itu ikatan yang tak pernah terputus dan terhitung.

Maka jagalah akar, air, udara, dan cahaya,

Agar siklus kehidupan terus berputar dengan seimbang.

Dalam ekologi yang lestari, kita menemukan makna yang sebenarnya,

Bahwa hidup damai lahir dari menjaga, bukan sekadar hal menang.

Kesimpulan

Sadar bayangan alam dalam puisi ini sebenarnya sudah jelas, langit dan bumi ada di titik seimbang, semua makhluk hidup saling menjaga tanpa ada yang dominan atau serakah. Tapi justru disitu letak kritiknya, realitanya ketika kita (termasuk sunners) jadi pihak yang merusak keseimbangan itu secara sadar. Bagaimana dampaknya? Jadi inti puisi ini bukan sekadar imajinasi indah, tapi semacam “tamparan halus” bahwa harmoni itu cuma akan jadi wacana kalau kita masih hidup konsumtif dan setengah peduli. Masalah utamanya bukan kurang paham, tapi kita terlalu nyaman buat berubah. Solusi akhirnya juga ditarik ke hal yang lebih realistis, mulai dari diri sendiri dengan hidup lebih sadar (mengurangi konsumsi berlebihan, nggak buang sampah sembarangan), lalu naik ke level sosial, soal berani nge-push circle biar ikut peduli, dan nggak normalize kebiasaan merusak. Karena kalau keseimbangan itu gagal dijaga, yang runtuh bukan cuma alamnya, tapi juga masa depan kita sendiri.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1