Majalah Sunday

The Hum: Suara Misterius yang Hanya Bisa Didengar 2% Manusia di Dunia

Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia

Awal dari The Hum: sebuah keanehan dan suara misterius

Malam itu seperti pada rumah baru umumnya. Masih ada bau cat yang menyengat, lampu tidur berkedip, suara angin yang nyari celah lewat jendela. Baru tiga minggu aku dan keluarga ku pindah ke rumah pinggiran kota ini, tetangga ku ramah, jalanan terasa tenang. Tapi tepat jam satu dini hari, ada sesuatu yang bikin aku terbangun.

Bukan suara biasa. Tapi sebuah dengungan tak biasa, kayak mesin kapal besar lagi jalan di bawah kamar. Rasanya nggak cuma di telinga, tapi sampai ke tulang rahang. Aku coba untuk mematikan semua alat di rumah ku. Aku cabut kabel charger, cabut steker kulkas waktu turun ke dapur, nyalain lampu, tapi semua normal. Tidak ada ke anehan di rumah ku, hanya saja dengungnya tetap ada dan makin jelas.

Keesoak harinya aku bertanya pada ibu, dan manggil adik ku. Mereka bilang tidak mendengar suara itu. “Nggak ada apa-apa, Nak. Mungkin hanya angin.” Di sekolah aku coba menceritakan hal ini. Temen-temen ku nggak percaya, guru BK bilang mungkin aku lagi banyak pikiran. Aku jadi sedikit ragu disini, apakah benar hal yang ku alami? Atau hanya lagi banyak pikiran seperti kata guru BK? Sampai malamnya ketika aku googling setengah ngantuk, aku menemukan informasi tentang The Hum. Katanya cuma 2% orang yang bisa denger. Lega. Sampai aku baca lebih jauh, dan mencoba memahami nya.

The Hum: Suara yang hanya bisa didengar 2% manusia
Image Source: unsplash.com

Proyek rahasia & sobekan selimut realitas

Ada artikel aneh soal proyek rahasia milik Amerika Serikat. Katanya proyek rahasia ini berhubungan dengan eksperimen frekuensi, namun berujung gagal. Percobaan itu ngebuat insiden nggak biasa, “sobekan” kecil di selimut realitas. Sedikit aja, tapi cukup buat suara dari “sana” bocor ke sini. Dan katanya, beberapa orang jadi “antena” alami karena pernah hampir mati waktu uji coba itu, dan lebih ngerinya lagi frekuensi itu nempel turun-temurun. Baca itu, rambut kudukku berdiri.

Beberapa malam kemudian, dengung berubah. Bukan cuma makin kenceng. Tapi juga jadi berlapis-lapis, kaya banyak orang lagi berbisik sekaligus. Aku menutup pintu, gembok, narik lemari depan kamar. Tapi pas aku mencoba fokus, ada satu kalimat yang bukan berasal dari mulut manusia suara kayak kertas diseret, bergetar, tapi jelas artinya.

“Kita tahu kamu bisa dengar.”

Jantungku mau lompat rasanya, tangan gemetar. Aku nyalain semua lampu, tapi bisikan itu tetap ada, ikut di kepala. Keesokan harinya aku sadar ada sesuatu yang ikut, bayangan di ujung lorong. Awalnya cuma bayangan samar, melayang sekitar 20 cm di atas lantai, tubuhnya gelap tanpa ujung, kaya potongan tinta hitam. Malam berikutnya ia lebih dekat tiga langkah. Lalu satu malam, dia berdiri tepat di depan pintu kamar mandi, kalian tau rasanya melihat sesuatu yang kelihatan salah di logika? 

The Hum: Suara yang hanya bisa didengar 2% manusia
Image Source: unsplash.com

Rasa takut dan sosok mengerikan The Hum

Puncak suara dengung, biasanya jam 2 lewat 40 tapi disitulah ada bayangan muncul. Dua titik merah samar seperti mata, tapi bukan mata. Lebih ke kilau aneh, seperti sirip ikan di dasar laut. Dan bisikan berubah jadi paduan suara serak seperti nyanyian atau panggilan, aku nggak tau apa itu sebenarnya. Yang kutau, setiap kali suara itu bilang sesuatu, tubuhku kebas, napas susah, kayak ada magnet yang narik aku ke tempat gelap.

Aku mulai mencatat setiap jam, durasi, dan apa yang aku rasa. Aku coba rekam pakai HP. Hasilnya? Hening. Bahkan pas aku set volume maksimal, yang aku dengar di rekaman cuma suara kipas angin. The Hum ini nggak mau masuk ke alat. Dia langsung ke kepala, lewat cara yang belum ada penjelasannya.

Aku coba cari orang lain yang ngalamin. Forum-forum internasional penuh cerita sama. Ada yang pindah rumah, tapi dengungnya ikut. Ada yang pergi berobat, diberi obat penenang, tapi masih denger. Di satu thread, ada yang bilang dia dulu pernah kerja di pelabuhan militer dan aku baru ingat kakek buyutku juga kerja di pelabuhan yang sama. Ada kesamaan detail kecil disini yaitu pingsan pas uji coba, dan bangun dengan darah di telinga. Aku mulai mikir, apa ini warisan?

Malam itu aku hampir kehilangan akal, dengung berubah jadi panggilan yang ngerti bahasa aku. Bukan suara normal, tapi artinya jelas.

“Buka. Kami sudah lama menunggu.”

Aku nggak ngerti siapa “kami”. Kadang suara itu seakan berdoa, dan kadang menawar sesuatu. Di kepalaku seakan muncul gambaran bukit gelap, cahaya biru samar, dan orang-orang yang nggak bernyawa tapi masih bergerak perlahan. Aku mencoba untuk bicara “tinggalkan aku” dalam hati. Nada itu tertawa, bukan tertawa manusia, lebih ke gemerisik daun kering.

The Hum: Suara yang hanya bisa didengar 2% manusia
Image Source: pexels.com

Perasaan aneh tak kunjung berakhir dan suara The Hum semakin jelas

Beberapa minggu berlalu. Bayangan semakin sering muncul, nggak cuma di rumah. Aku pernah tidur di rumah nenek, dan dengung tetap ada. Mereka nggak berasal dari tempat nenek ku, tapi mereka berasal dari kepalaku. Seakan ada sesuatu dalam diri ku yang nyambung ke… suatu lubang kecil antara dunia.

Aku pernah baca kalau hanya 2% yang bisa dengar. Dulu aku pikir itu angka kecil, kayak badge keren. Sekarang aku sadar kalau aku termasuk 2%, dan artinya ada sesuatu yang nggak orang lain punya dengan gambaran di kepalaku seperti sebuah pintu. Dan pintu itu mulai terekspos.

Suatu malam, aku kebangun karena satu sensasi aneh pada tangan dan  atas paha ku, rasanya dingin tapi aku sadar betul kalau hanya kedua bagian itu saja yang dingin. Aku mencoba meraba, nggak ada apa-apa. Lampu dan TV mati. Tapi entah mengapa suara itu muncul kembali. Suara itu meniupkan ide di kepalaku tapi bukan sebuah paksaan, lebih seperti tawaran “Kita akan bawa kamu lebih dekat. Kamu bisa lihat seperti kami. Kamu bisa mendengar semua.”

Aku menutup mata, menggigit gigiku sampai ngilu. Siapa pun, tolonglah aku. Disini aku menarik selimut sampai ke dagu, tapi suara itu malah semakin menjadi dan mulai bercerita, rasanya aneh karena suaranya lebih lembut dari biasa. Isi ceritanya adalah tentang kota bawah tanah, tentang pintu yang dibuka oleh suara, tentang manusia yang berubah jadi gema. Aku berbisik pada diri sendiri “jangan di jawab”.

The Hum: Suara yang hanya bisa didengar 2% manusia
Image Source: pexels.com

Apakah ini akhir dari The Hum? Atau justru akhir dari ku?

Keesokan harinya aku sadar ada goresan halus di kaca jendela kamar. Bentuknya seperti simbol sederhana, sebuah garis melengkung yang aku nggak tau artinya. Tapi yang aneh, aku yakin nggak ada siapa-siapa yang bisa masuk lewat jendela itu karena tinggi. Nenek bilang mungkin tikus. Aku berbohong dan meng iyakan ucapan nenek.

Semakin hari, mereka nggak cuma memanggil. Mereka mulai meminta sesuatu. Yang terakhir aku denger, suaranya seperti dingin dan rapi “Kamu akan membuka, atau kami akan menarik.” Aku tak paham apa maksudnya itu, tapi aku tau akan terjadi sesuatu malam ini.

Malam pun tiba dan aku melakukan locked-down total diriku, gembok ganda, lemari di depan pintu, kasur disusun menghadap dinding. Aku nulis ini karena mungkin ini satu-satunya bukti kalau aku masih ada pikiran jernih. Mungkin bila kamu baca ini dan kamu juga pernah dengar dengungan di malam hari, catatan ini bisa menjadi petunjuk untuk mu. Ingat jangan di jawab. Jangan mengundang. Dan cari cara buat nyari orang lain yang ngalamin. Kita perlu bukti, kita perlu peneliti,dan kita perlu teman.

Kamu harus tau akan kebenaran ini dan membagikannya pada orang lain agar mereka bisa membantu mu, karena apabila suatu malam nanti ketika dengungan itu berubah jadi bisikan yang paham kata-katamu. Kamu mungkin akan berakhir tanpa seorang pun tau tentang kebenaran dibalik akhir diri mu. Ingat begitu mereka tahu namamu, mereka nggak akan berhenti.

Mereka akan datang, dan menarik mu atau justru membuat mu menjadi gila.

Semakin hari, mereka nggak cuma memanggil. Mereka mulai meminta sesuatu. Yang terakhir aku denger, suaranya seperti dingin dan rapi “Kamu akan membuka, atau kami akan menarik.” Aku tak paham apa maksudnya itu, tapi aku tau akan terjadi sesuatu malam ini.

Malam pun tiba dan aku melakukan locked-down total diriku, gembok ganda, lemari di depan pintu, kasur disusun menghadap dinding. Aku nulis ini karena mungkin ini satu-satunya bukti kalau aku masih ada pikiran jernih. Mungkin bila kamu baca ini dan kamu juga pernah dengar dengungan di malam hari, catatan ini bisa menjadi petunjuk untuk mu. Ingat jangan di jawab. Jangan mengundang. Dan cari cara buat nyari orang lain yang ngalamin. Kita perlu bukti, kita perlu peneliti,dan kita perlu teman.

Kamu harus tau akan kebenaran ini dan membagikannya pada orang lain agar mereka bisa membantu mu, karena apabila suatu malam nanti ketika dengungan itu berubah jadi bisikan yang paham kata-katamu. Kamu mungkin akan berakhir tanpa seorang pun tau tentang kebenaran dibalik akhir diri mu. Ingat begitu mereka tahu namamu, mereka nggak akan berhenti.

Mereka akan datang, dan menarik mu atau justru membuat mu menjadi gila.

Aku pernah baca kalau hanya 2% yang bisa dengar. Dulu aku pikir itu angka kecil, kayak badge keren. Sekarang aku sadar kalau aku termasuk 2%, dan artinya ada sesuatu yang nggak orang lain punya dengan gambaran di kepalaku seperti sebuah pintu. Dan pintu itu mulai terekspos.

Suatu malam, aku kebangun karena satu sensasi aneh pada tangan dan  atas paha ku, rasanya dingin tapi aku sadar betul kalau hanya kedua bagian itu saja yang dingin. Aku mencoba meraba, nggak ada apa-apa. Lampu dan TV mati. Tapi entah mengapa suara itu muncul kembali. Suara itu meniupkan ide di kepalaku tapi bukan sebuah paksaan, lebih seperti tawaran “Kita akan bawa kamu lebih dekat. Kamu bisa lihat seperti kami. Kamu bisa mendengar semua.”

Keesokan harinya aku sadar ada goresan halus di kaca jendela kamar. Bentuknya seperti simbol sederhana, sebuah garis melengkung yang aku nggak tau artinya. Tapi yang aneh, aku yakin nggak ada siapa-siapa yang bisa masuk lewat jendela itu karena tinggi. Nenek bilang mungkin tikus. Aku berbohong dan meng iyakan ucapan nenek.

Semakin hari, mereka nggak cuma memanggil. Mereka mulai meminta sesuatu. Yang terakhir aku denger, suaranya seperti dingin dan rapi “Kamu akan membuka, atau kami akan menarik.” Aku tak paham apa maksudnya itu, tapi aku tau akan terjadi sesuatu malam ini.

Malam pun tiba dan aku melakukan locked-down total diriku, gembok ganda, lemari di depan pintu, kasur disusun menghadap dinding. Aku nulis ini karena mungkin ini satu-satunya bukti kalau aku masih ada pikiran jernih. Mungkin bila kamu baca ini dan kamu juga pernah dengar dengungan di malam hari, catatan ini bisa menjadi petunjuk untuk mu. Ingat jangan di jawab. Jangan mengundang. Dan cari cara buat nyari orang lain yang ngalamin. Kita perlu bukti, kita perlu peneliti,dan kita perlu teman.

Kamu harus tau akan kebenaran ini dan membagikannya pada orang lain agar mereka bisa membantu mu, karena apabila suatu malam nanti ketika dengungan itu berubah jadi bisikan yang paham kata-katamu. Kamu mungkin akan berakhir tanpa seorang pun tau tentang kebenaran dibalik akhir diri mu. Ingat begitu mereka tahu namamu, mereka nggak akan berhenti.

Mereka akan datang, dan menarik mu atau justru membuat mu menjadi gila.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1