Penulis: Hafizhaturrahmah – UIN Sunan Ampel Surabaya
Puisi ‘Ia yang Tumbuh Terlalu Cepat’ merupakan sebuah karya apresiasi kepada kakak perempuan yang berjuang dalam hidup
Ia perempuan.
Anak pertama.
Kakak tertua
yang belajar kuat
bahkan sebelum tahu arti aman.
Sepuluh dari sepuluh
di atas kertas.
Tepuk tangan datang rapi,
sementara hatinya
retak kecil
yang tak pernah dianggap darurat.
Kepalanya penuh suara.
Rencana berbenturan dengan kemungkinan,
strategi menumpuk
di antara malam-malam
yang sulit diam.
Ia berpikir beberapa langkah ke depan
karena masa depan
terasa seperti sesuatu
yang harus diamankan.
Ia memilih berjalan sendiri.
Tidak menunggu,
tidak ikut arus,
tidak cukup percaya
pada jalan ramai.
Kesendirian terasa lebih jujur
daripada kebersamaan
yang setengah-setengah.

Ia jarang menyebut dirinya sepi.
Pikirannya terlalu riuh
untuk ruang kosong.
Ide-ide duduk di kepalanya,
menyusun ulang dunia,
menemaninya
saat tubuhnya ingin berhenti
namun hidup terus mendesak maju.
Ia dewasa
sebelum umurnya mengerti.
Belajar menelan kecewa
tanpa suara.
Menjadi sandaran
tanpa pernah bertanya
siapa yang menahannya
saat hampir runtuh.
Kadang ia ingin lambat.
Ingin berhenti
di usia yang ramah.
Namun hidup
menariknya lebih dulu,
memaksanya mengerti
hal-hal yang seharusnya
datang belakangan.
Ia tetap berjalan.
Dengan hati yang teriris,
kepala yang penuh,
dan langkah
yang selalu lebih depan
dari rasa siap.
Ia perempuan
yang tumbuh sebelum waktunya.
Dan meski tak pernah benar-benar sendiri,
ia belajar:
tidak semua yang kuat
lahir dari pilihan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.