Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia
Aku tidak pernah menyangka bahwa warung soto sederhana di dekat sekolahku akan menjadi pusat ketakutan terbesar dalam hidupku. dari peristiwa ini aku sadar bahwa ketika seseorang kehilangan kontrol diri dan tidak mampu berpikir secara jernih, amarah dan ego dapat berubah menjadi sesuatu yang paling mengerikan, bahkan melampaui batas akal sehat manusia mana pun.
Setiap jam makan siang, aku dan ketujuh teman SMA ku selalu berdesakan di warung soto Asep. Bukan karena kantin sekolah kehabisan pilihan menu. Namun ada yang membuat kita ketagihan. Entah apa yang membuat soto milik mang Asep ini spesial.
Mungkin dia menuangkan saus dengan gerakan perlahan dan disengaja, seperti seorang seniman yang menambahkan sentuhan akhir pada sebuah lukisan yang membuat kami menjadi semangat? Atau mungkin karena daging yang dipakai mang Asep?
Ya namanya Asep, seorang pedagang soto yang cukup unik. Dia jarang berbicara. Namun saat dia tersenyum, ada sesuatu di matanya yang membuat bulu kuduk ku berdiri, aku tidak tahu kenapa.
Senyumannya tipis, dingin, dan dikontrol dengan hati-hati. Seperti seseorang yang tahu persis apa yang dia lakukan dan diam-diam menikmatinya. “Hati-hati ya anak sekolah. Ayo jadi lebih pintar.” Begitulah ujar beliau setiap kali aku menatapnya balik. Dengan rasa canggung, aku pun mengambil mangkuk soto itu, tanpa menyadari bahwa mangkuk itu menyimpan rahasia yang akan menghantuiku seumur hidupku.
Dulu, mang Asep dikatakan suka mabuk-mabukan dan memukuli istri pertamanya. Namun setelah di usir oleh RT nya, ia menghilang sejenak, lalu muncul kembali dengan sosok baru yang ramah, kalem, dan menikah lagi dengan wanita bernama Dara.
Dara setia membantunya berjualan dari pagi hingga malam. Namun Asep tetap sama. Dia menjadi lebih baik dalam menyembunyikan sifat jahatnya. Permasalahan mulai muncul ketika Asep semakin dekat dengan Tini, seorang penjual jamu keliling. Dara yang mengetahui perselingkuhan itu melawan. Malam itu, setelah toko tutup, Asep yang dipenuhi oleh ego dan amarahnya mulai mengambil tindakan nekat tanpa berpikir.
Ia mengambil sebatang tongkat dan memukul Dara dengan gerakan yang tepat, tenang, dan kejam. “Kau menghalangi,” katanya lembut sambil menyeka kayu itu dengan kain. Tini yang mengintip dari balik pintu membeku di tempatnya. “Kalau teriak-teriak, berikutnya kamu,” kata Asep dengan suara datar.
Itu bukanlah ancaman yang disampaikan dengan suara keras. Namun justru karena datar dan tenang itulah yang membuat Tini tak berani bergerak.
Setelah aksi kejam itu, Asep menyewa angkot dan membuang beberapa potongan tubuh termasuk kepala Dara yang sudah dimasukkan kedalam kantong plastik di tol. Aksi ini dibantu oleh Tini sang selingkuhan. Namun setelah kembali dari aksi penghilangan buktinya, Asep melakukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Akan sangat disayangkan jika dibuang begitu saja. Ia mencincang tubuh Dara menjadi beberapa bagian. Bukan dengan gerakan terburu-buru. Tapi tenang, seperti seorang ahli bedah yang telah melakukan prosedur ini ribuan kali.
Dia meletakkan potongan-potongan itu di lemari es. Semua bagian kecuali jantung dan hati. Dia memisahkan hati. Untuk hidangan spesial besok pagi.
Keesokan harinya, Asep berjualan seperti biasa. Namun, kali ini, sebuah panci kecil berada di bagian paling belakang. Panci khusus. “Resep baru,” katanya kepada pelanggan pertama. Dia memasak daging dalam air mendidih dengan bumbu spesial racikannya.
Kemudian dibuat sambal dari jantung dan hati yang digoreng hingga kering. “Ini sambal spesial,” katanya sambil menggeser piring ke arahku. Aku memujinya. “Asik banget nih, mang Asep.”
Asep tersenyum. Senyum tipis yang sama. Namun kali ini, matanya bersinar. Tidak hangat. Namun dengan rasa puas yang membuatku bergidik entah kenapa aku bisa memahaminya.
“Pastikan untuk menyelesaikannya. Sulit untuk menemukan daging seperti ini” kata beliau.
Polisi menemukan kepala Dara di pinggir jalan tol, terbungkus plastik hitam. Seorang sopir truk yang sedang istirahat hampir pingsan saat membukanya. Rekaman CCTV menunjukkan kendaraan angkutan umum berwarna merah yang sangat jarang melewati jalan tol.
Pemilik angkot sangat ingat dengan Asep sebagai si penyewa, dan langsung memberikan informasi ini pada polisi. Penjual soto di depan SMA. Dia bernama Asep. Dia adalah orang yang ramah. Dia sering memberiku soto gratis.
Asep sedang berdiri di depan kompor saat polisi menggerebek warung soto tersebut. Pakaiannya sangat bersih dan putih. Dia tidak melawan. “Aku yang menangani semuanya,” ucapnya dengan nada datar. Tidak ada penyesalan.
Matanya kosong, namun senyuman tipis masih melekat di sudutnya. Hasil tes kejiwaan normal. Asep sadar penuh saat memukul, memotong, merebus, dan memakan masakannya sendiri. Dia tidak gila. Ia hanyalah monster yang menyembunyikan taringnya di balik senyum ramah seorang penjual soto.
Tini yang membantunya mendapat hukuman 14 tahun penjara. Dan disisilain Asep meninggal dunia saat ditahan karena penyakit paru-paru. Kata sipir, nafas terakhirnya diiringi tawa kecil sebelum semuanya terdiam.
Warung tersebut kini menjadi toko kelontong, tapi entah mengapa rasanya seakan belum berakhir. Setiap aku melewati jalan itu tipis-tipis tercium aroma rempah-rempah, tubuh ku langsung membeku.
Beberapa teman ku sangat trauma sehingga mereka tidak bisa makan daging selama setahun penuh.
Kadang-kadang, aku masih bermimpi di malam hari. Mang Asep sedang berdiri di depan kompor. Dia memiliki wajah yang ramah. Dia tersenyum tipis. “Hati-hati ya anak sekolah. Ayo jadi lebih pintar.” aku terbangun dengan keringat dingin.
Dan apa bagian yang paling menakutkan? Bukan Dara yang meninggal, dan tidak ada bagian tubuh di lemari es yang ditemukan. Tapi yang paling menakutkan adalah perasaan saat aku menyantap daging dan sambal itu, aku masih ingat sampai saat ini.
Itu membuatku bertanya-tanya, apakah mengikuti ego dan bertindak tanpa berpikir adalah hal yang baik? Dan apakah aku juga monster karena menikmati tanpa menyadarinya?
Tapi mungkin itu rencana mang Asep selama ini. Dia tidak ingin kita mengetahuinya. Kami tersenyum sambil menyantap makanannya, yang merupakan makanan penutup terakhir sekaligus karya seni terakhirnya.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.