Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa- SMKN 48 Jakarta
Matahari Jakarta sedang lucu-lucunya dalam artian, dia seolah ingin memanggang siapa pun yang berani melangkah di aspal tanpa perlindungan. Namun, bagi Bagas, cuaca ekstrim hanyalah bumbu pelengkap untuk sebuah narasi.
Sambil menyeka keringat di dahi, Bagas menunjuk sebuah gedung tua di sudut perempatan yang catnya sudah mengelupas seperti kulit terbakar matahari.
“Put, lo tahu nggak? Gedung itu dulunya bekas pabrik kancing milik bangsawan Belanda yang gila judi. Katanya, dia kalah taruhan sama setan, makanya setiap malam Selasa Kliwon, warga sering dengar suara kancing berjatuhan di lantai atas,” cerocos Bagas tanpa jeda.
Putra hanya bisa menghela napas, menyesuaikan langkahnya yang terseok-seok mengikuti ritme Bagas yang enerjik. “Gas, kita cuma mau beli es teler, bukan mau tur sejarah mistis. Lo dapet info dari mana lagi sih?”
“Gue itu ensiklopedia berjalan, Put. Hidup ini terlalu singkat kalau cuma dilewati tanpa tahu substansinya,” jawab Bagas bangga. Baru saja ia menyelesaikan kalimatnya, seorang pria paruh baya yang sedang menambal ban tiba-tiba melambai.
“Eh, Pak RT! Gimana kakinya? Udah mendingan habis jatuh dari tangga?” seru Bagas akrab. Pria itu tersenyum lebar dan mengangguk.
Putra melongo. “Lo kenal Pak RT situ juga?”
“Tentu saja. Beliau itu pelanggan setia warung kopi depan gang rumah gue, meskipun ini jaraknya tiga kilometer dari sana,” Bagas mengangkat bahu santai. Bagi Bagas, mengumpulkan informasi adalah insting dasar. Ia adalah sosok Ensiklopedia kalau hidup yang benar-benar bernapas.
Ke mana pun mereka melangkah, selalu ada sapaan yang menginterupsi perjalanan mereka. Kadang dari tukang parkir, kadang dari mahasiswi yang tampak sibuk dengan skripsinya, bahkan pernah sekali dari seorang kondektur bus yang sedang melaju kencang.
Dua puluh menit berlalu, dan mereka baru menempuh jarak lima ratus meter. Rekor yang sangat buruk untuk dua orang yang sedang kehausan.
Penyebabnya tentu saja Bagas yang harus berhenti setiap tiga menit untuk membalas sapaan orang atau sekadar menceritakan silsilah keluarga pemilik ruko yang mereka lewati.
“Lo tahu nggak, anak pemilik ruko ini sebenarnya punya kembaran yang hilang saat kerusuhan sembilan delapan?” bisik Bagas saat mereka melewati toko kelontong.
“Gue dengar mereka baru ketemu lagi di aplikasi kencan bulan lalu. Bayangin, mau kencan malah ketemu saudara kandung.”
Putra berhenti berjalan. Ia menatap Bagas dengan tatapan menyelidik. “Gas, serius deh. Lo punya mata-mata di setiap sudut kota ini atau gimana? Lo itu beneran ensiklopedia kalau hidup yang sangat meresahkan ya.”
Bagas tertawa renyah, tawa yang bagi Putra terdengar seperti notifikasi berita terbaru. “Dunia itu kecil, Put. Kalau lo mau buka telinga, suara-suara itu bakal datang sendiri. Gue cuma wadahnya aja.”
Tiba-tiba, seorang wanita dengan gaya modis menghentikan langkah mereka. “Bagas! Ya ampun, apa kabar? Masih simpen kontaknya produser musik yang waktu itu nggak?”
Bagas tersenyum manis, senyum yang menunjukkan ia sedang mengakses memori di kepalanya. “Halo, Mbak Citra! Masih dong. Nanti gue kirim lewat chat ya. Sukses ya buat demo lagunya!” Setelah wanita itu pergi, Bagas kembali menatap Putra yang sudah pasrah.
“Itu Citra, penyanyi cafe yang rumornya bakal dikontrak label besar bulan depan.”
“Gue nggak heran lagi kalau besok lo bilang lo kenal sama presiden secara personal,” gumam Putra sinis.
Bagas hanya membalasnya dengan kedipan mata, seolah mengisyaratkan bahwa hal itu bukan sesuatu yang mustahil dalam dunianya yang penuh data.

Mereka akhirnya sampai di kedai es teler yang dituju. Kedai itu terletak di bawah pohon beringin besar yang akarnya menjuntai seperti rambut raksasa. Putra merasa sedikit merinding, tapi Bagas justru terlihat seperti sedang berada di taman bermain.
Ia menyapa sang penjual dengan sebutan “Mas Bro” dan langsung memesan dua porsi tanpa perlu melihat menu.
“Jangan duduk di kursi pojok sana, Put,” bisik Bagas tiba-tiba saat Putra hendak melangkah ke meja yang paling teduh.
“Kenapa lagi? Panas tahu di sini.”
Bagas menarik kursi di tengah. “Meja itu ‘kursi tunggu’. Tahun lalu ada pelanggan yang meninggal mendadak pas lagi makan es teler di situ. Gosipnya, dia belum sempat bayar utang, jadi jiwanya masih nunggu kembalian di meja itu. Penjualnya sengaja nggak pernah mindahin mejanya biar nggak diganggu.”
Putra langsung duduk dengan tegap di kursi tengah, menjauhkan diri dari meja pojok seolah-olah meja itu terbuat dari lava. “Lo beneran merusak suasana makan gue, Gas. Bisa nggak satu jam aja lo nggak jadi ensiklopedia yang penuh horor gini?”
Bagas hanya menyengir, lalu mulai mengaduk es telernya. “Tapi seru kan? Hidup jadi nggak hambar. Coba bayangin kalau kita cuma makan tanpa tahu kalau nangka di es ini diambil langsung dari kebun Pak Haji yang baru aja menang lotre. Rasanya jadi ada manis-manis keberuntungan gitu.”
Putra menggelengkan kepala, mencoba fokus pada dinginnya es di tenggorokan. Namun, telinganya tetap saja menangkap gumaman Bagas tentang bagaimana pohon beringin di atas mereka sebenarnya adalah titik pertemuan para informan gaib di Jakarta Selatan.
Bagi Bagas, setiap objek adalah entri dalam ensiklopedia kalau hidup yang ia susun setiap hari. Tidak ada yang luput dari perhatiannya, tidak ada yang terlalu kecil untuk diabaikan.
Saat mereka sedang asyik menikmati es teler, sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan kedai. Seorang pria berjas rapi turun dan langsung menghampiri meja mereka.
Putra sudah bersiap-siap untuk merasa minder, tapi ekspresi pria itu justru tampak sangat lega saat melihat Bagas.
“Bagas! Untung ketemu di sini. Gue nyariin lo ke rumah tapi kata nyokap lo lagi pergi jalan sama temen,” ujar pria itu napasnya sedikit terengah.
Bagas berdiri dan menyalami pria itu. “Sabar, Pak Manajer. Masalah tanah yang di Bogor itu ya? Tenang, itu bukan sengketa kok. Cuma salah paham batas patok sama warga lokal karena dulunya di situ ada makam keluarga yang nggak ditandai. Gue udah punya nama orang yang bisa bantu mediasinya.”
Pria itu tampak sangat berterima kasih sampai-sampai ia bersikeras membayar semua pesanan mereka, bahkan menambahkan beberapa bungkus gorengan untuk dibawa pulang. Setelah pria itu pergi dengan terburu-buru, Putra menatap Bagas dengan mulut terbuka.
“Itu tadi manajer pengembang properti terbesar di kota ini, Gas?” tanya Putra tidak percaya.
“Iya, dia pusing karena proyeknya berhenti gara-gara masalah mistis yang sebenarnya cuma masalah komunikasi sejarah aja. Makanya, punya teman ensiklopedia kayak gue itu berkah, Put,” Bagas kembali duduk dengan tenang, seolah baru saja membantu seseorang menyeberang jalan– bukan menyelesaikan konflik tanah bernilai miliaran.
Putra menyadari bahwa kemampuan Bagas bukan sekadar gosip murah. Ia benar-benar mengolah data. Ia menghubungkan titik-titik yang bagi orang lain terlihat acak. Bagas adalah ensiklopedia kalau hidup yang memiliki navigasi paling akurat di tengah hutan belantara informasi urban.
“Gue mulai mikir, jangan-jangan lo tahu kapan gue bakal dapet pacar,” canda Putra.
Bagas menatapnya serius. “Kalau itu sih, datanya belum masuk, Put. Algoritma lo masih terlalu kaku.”

Perjalanan pulang terasa lebih lambat karena perut yang kenyang. Kali ini, mereka melewati sebuah area perkantoran yang modern.
Bagas tiba-tiba berhenti di depan sebuah monumen kecil yang sering dilewati orang tanpa menoleh.
“Banyak orang pikir ini cuma hiasan, Put. Tapi sebenarnya, di bawah monumen ini tertanam kapsul waktu yang dibuat sama karyawan pertama gedung ini tahun tujuh puluhan. Isinya surat-surat harapan mereka,” Bagas menyentuh permukaan monumen yang dingin.
“Tahu nggak apa yang paling lucu? Salah satu surat itu ditulis sama kakek lo.”
Putra tersentak. “Kakek gue? Lo tahu dari mana?”
“Gue pernah baca arsip dokumentasi lama pas lagi iseng di perpustakaan kota. Nama kakek lo, ‘Suryo Sudiro’, terukir di daftar kontributor. Beliau pengen cucunya jadi orang hebat. Makanya gue sering ngajak lo jalan, biar lo tahu kalau dunia ini luas banget, bukan cuma sebatas layar HP lo.”
Mendengar itu, Putra merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di dadanya. Ternyata, semua ocehan Bagas selama ini bukan hanya untuk pamer atau mencari perhatian.
Bagas menggunakan pengetahuannya yang seluas ensiklopedia untuk menjaga memori tetap hidup. Ia adalah penjaga cerita-cerita yang hampir terlupakan oleh bisingnya kemajuan zaman.
“Gas, makasih ya,” ucap Putra tulus.
Bagas tertawa kencang, menepuk bahu Putra dengan keras sampai sahabatnya itu hampir tersedak ludah sendiri. “Dih, melankolis banget! Jangan baper gitu dong. Eh, lihat deh cowok yang lagi lari di sana! Dia itu sebenernya lagi sembunyi dari tagihan pinjol karena kalah taruhan bola kemarin…”
Dan begitulah, narasi Bagas kembali mengalir. Bagas adalah ensiklopedia kalau hidup yang tidak akan pernah berhenti mencatat.
Baginya, setiap orang adalah bab baru, setiap sudut jalan adalah catatan kaki, dan setiap rahasia adalah kunci untuk memahami bahwa manusia tidak pernah benar-benar sendirian di dunia yang penuh dengan cerita ini.
Putra hanya bisa tersenyum dan mengikuti langkah sahabatnya, siap mendengarkan ribuan entri data berikutnya yang akan mewarnai sisa hari mereka.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.