Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Aku Cuma Cermin, Tapi Dia Lihatnya Luka

Penulis: Cindy Trianita – UKI

Aku nggak pernah ngerti kenapa Bu Raina seolah benci banget sama aku. Setiap kali aku bicara di kelas, dia kayak nahan napas. Setiap kali aku ngerjain tugas, dia nyari salah sekecil apapun.

Bahkan saat aku dapet nilai bagus, komentarnya selalu sama:

“Nilai bagus bukan berarti kamu ngerti, Kayla.”

Awalnya aku pikir cuma aku yang ngerasa, tapi teman-teman juga sadar.

“Bu Raina tuh kayak dendam pribadi ke kamu, sumpah Kay.” kata Lina teman sebangku ku ketika istirahat tiba.

Dan ya, aku pikir juga aku ngerasain itu. Tapi aku hanya bisa jawab 

“Ya bener sih, tapi sepertinya itu cara beliau memperhatikan ku lebih dari yang lain, meskipun kelihatannya aneh tapi mau gimana lagi”

Tiba – tiba Raihan menyaut obrolan mereka dari kursi belakang 

“ Kay stop berpikir positif kali ini, ga beberapa orang aja yang liatnya begitu, hampir semua dikelas ini merasa bu Raina tuh memperlakukan kamu beda. Kamu gamau nanyain langsung aja ke ibu itu siapatau kamu pernah buat dia kesel yang berdampak sampai sekarang tau. Yaa meskipun kita tau kamu salah satu murid terbaik dikelas ini tapi bisa jadi dia punya dendam pribadi ke kamu”

Loli yang daritadi menguping dari meja sebelah pun ikut berkomentar “Ih betul tuh kata temen – temen Kay.. Apa jangan- jangan kamu pernah rebut pacar ibu itu kali yaa? atau.. bisa jadi ibu itu iri sama kamu karena kamu cantik dan juga berprestasi Kay, atau jangan jangan…” Belum sempat Loli melanjutkan omongannya, Lina memotongnya “Hussss makin ngawur aja nih cewe satu, udah deh gausah nambahin yang ngga ngga Loliiii mending kamu fokus aja habisin bekel kamu tuh entar keburu bel masuk lagi, udah makan lama gausah ngobrol deh”

Aku sempet bengong dan mikir apa bener kata temen – temen ada dendam? tapi aku kan ngga pernah mau bermasalah dengan siapa – siapa apalagi dengan guru. Aneh. Tapi ga perlu diambil pusing deh.

Kritik dari Hati

Sampai suatu hari, aku diminta jadi wakil sekolah buat lomba menulis esai. 

Temanya : Forgiveness. 

Ironis banget, karena guruku sendiri kayak nggak ngerti kata itu. Waktu aku kasih draf esai ke Bu Raina buat direvisi, dia cuma lihat sekilas lalu bilang,

“Terlalu naif. Dunia nggak sesederhana itu, Kayla.”

Nada suaranya datar, tapi dinginnya bisa ngalahin AC ruang guru.

Aku cuma bisa senyum tipis — senyum yang lebih mirip nahan emosi biar nggak meledak di depan umum. Padahal aku udah nulis itu sampai jam dua pagi, sambil ngopi sachet dan ngelawan kantuk. Esai yang buatku pribadi cukup jujur. Aku nulis tentang memaafkan diri sendiri, tentang Ibu yang selalu bilang,

“Nggak semua luka harus disembuhkan, beberapa cuma perlu diterima.” Tapi buat Bu Raina, semua itu “terlalu naif”. 

Sejak hari itu, aku mulai memperhatikan, setiap aku angkat tangan di kelas, dia pura-pura nggak lihat. 

Setiap aku ngerjain tugas paling cepet, dia selalu nemuin alasan buat bilang “kurang mendalam”.

Dan yang paling nyakitin setiap kali matanya berhenti di wajahku, ada sesuatu di sana… semacam kemarahan yang bukan buatku, tapi tetap kena ke aku.

Aku mulai mikir aneh-aneh. Apa aku ngingetin dia sama seseorang atau mungkin… aku pernah salah ngomong? salah bersikap? salah lahir?

Lucunya, aku sempat nyari alasan logis kayak, “Mungkin Bu Raina cuma lagi stres.” 

Tapi makin lama, makin terasa kalau benci itu bukan karena aku murid bandel — tapi karena aku ada.Dan dari caranya menatapku, seolah-olah aku adalah sesuatu yang harusnya nggak pernah muncul lagi di hidupnya.

Pertemuan dari luka lama

Beberapa minggu kemudian, sekolah ngadain Open House untuk orang tua murid.

Mama datang dengan senyum hangat seperti biasa. Tapi ketika dia masuk ke ruangan guru dan bertemu Bu Raina, Semua berubah.

Suasana langsung tegang.

Bu Raina yang biasanya tegas mendadak diam membeku, mama juga wajahnya pucat dan matanya membesar.

“Raina?” suara Mama lirih.

“Mira…” jawab Bu Raina pelan.

Aku bengong. Mereka saling kenal? Tapi sepertinya ini bukan kenal biasa.

Ada tatapan aneh — semacam marah, rindu, dan luka yang belum sembuh. Aku bisa ngerasain hawa dingin di antara mereka dan waktu Mama pegang tanganku, jari-jari dia gemetar.

“Kayla, ayo pulang.” Nada suaranya tegas, tapi matanya panik.

 

Aku nggak bisa tidur malam itu. 

Sesuatu di antara mereka bikin aku penasaran. Dan, karena aku anaknya kepo berat, aku mulai cari tahu. Aku masuk ke dalam kamar mama papa dengan diam – diam, aku tidak tahu tujuanku mau mencari apa, tapi aku salah fokus dengan tumpukan berkas dan dibawahnya ada bingkai foto yang aku tahu aku kayaknya belum pernah liat sebelumnya.

Aku nemuin foto tua. Mama, Papah , dan seorang wanita berdiri bertiga. Tetapi bagiku wanita itu tidak asing, aku benar – benar merasa kenal sekali dengan wanita difoto itu.

Mama dan Papah difoto itu gandengan tangan, sementara Wanita itu berdiri di sebelah mereka — tersenyum, tapi senyum yang aneh.

Di belakang foto itu, ada tulisan pudar:

“Untuk Mira dan Adi — semoga bahagia, meski aku bukan bagian dari cerita itu lagi.” – Raina

Dadaku langsung sesak.

Raina. Itu nama guruku. Aku membalikkan kembali foto itu dan memperhatikannya. Benar, itu adalah Bu Raina, guru yang selama ini bersikap aneh ke aku.

Dan sekarang semuanya mulai nyambung.

Besoknya di sekolah, aku lihat Bu Raina lagi beresin meja. Aku nggak tahan, aku langsung ngomong. “Bu, Mama kenal Ibu, ya?”

Dia kaku. “Dari mana kamu tahu?”

“Dari foto dan tulisan di belakangnya bu.” 

Dia menatapku lama, lalu duduk pelan.

“Dulu kami sahabat, Kayla. Dekat banget. Tapi sahabatmu bisa juga jadi alasan kenapa kamu kehilangan segalanya.”

Aku diam. Nafasku berat.

“Mama merebut seseorang dari Ibu?” Dia menatapku dengan mata yang berair.

“Dia nggak merebut. Tapi dia memilih. Dan aku nggak cukup dewasa waktu itu untuk menerima.”

Hening.

Yang kedengaran cuma suara jam dinding.

“Sekarang aku ngerti kenapa Ibu benci aku,” kataku pelan.

“Karena aku mirip Mama.”

Bu Raina tersenyum kecil, tapi getir.

“Kamu terlalu mirip. Senyummu, caramu bicara… bahkan caramu diam.” Dia menunduk.

“Kadang aku nggak tahu apakah aku benci kamu, atau benci perasaanku sendiri waktu ngelihat kamu.”

Aku nggak tahu harus jawab apa. Yang aku tahu, saat itu aku nggak marah. 

Aku justru kasihan.

 

Seminggu setelah kejadian itu, aku dengar kabar kalau Bu Raina jatuh sakit dan nggak ngajar beberapa hari.

Mama tiba-tiba terlihat murung.

Suatu malam aku lihat dia duduk di teras, megang ponsel lama yang udah retak, dan lirih ngomong:

“Aku masih salah, ya, Rain?”

Aku nggak ngerti harus gimana. Tapi aku sadar —

Luka lama itu belum sembuh, bahkan setelah 20 tahun. 

 

Aku Cuma Cermin, Tapi Dia Lihatnya Luka

Beberapa hari kemudian, aku nekat datang ke rumah Bu Raina buat nganter tugas kelas yang harus ditandatangani. Rumahnya sepi.

Aku ketuk pintu, dan dia yang buka — wajahnya pucat, tapi senyumannya lembut.

“Kamu mirip sekali dengan dia waktu pertama kali aku lihat Mira.” Aku nyengir kaku.

“Ibu nggak marah lagi sama aku?”

Dia menggeleng pelan.

“Aku capek marah, Kayla. Kadang, dendam itu cuma cara kita buat tetap merasa hidup.”

Dia menyerahkan secarik kertas padaku. “Simpan ini, ya.” 

Aku buka. Isinya cuma satu kalimat:

“Maaf karena pernah salah membenci. Kadang yang kita benci cuma bayangan dari rasa kehilangan.” 

 

Beberapa minggu setelah itu, Bu Raina nggak pernah muncul di sekolah lagi.

Katanya pindah mengajar ke luar kota.

Nggak ada salam perpisahan, nggak ada pengumuman. Hanya hilang.

Dan malam itu, saat Mama pulang dari kerja, ada surat di depan pintu rumah kami. Tanpa nama pengirim.

Tulisannya hanya:

“Untuk Mira,

Aku akhirnya bisa tidur nyenyak setelah melihat putrimu tumbuh dengan senyum yang dulu aku kenal.

Terima kasih sudah ngasih aku kesempatan buat menebus sesuatu — walau cuma sebentar.”

Mama menangis malam itu. Tapi bukan tangisan sedih. Lebih kayak lega.

Beberapa bulan kemudian, aku terima kabar dari sekolah lama Bu Raina. Dia meninggal karena komplikasi jantung. Aku datang ke pemakamannya diam-diam.

Di sana, seorang wanita tua yang katanya adik Bu Raina menyerahkan sesuatu padaku: sebuah kalung dengan liontin kecil.

Di dalam liontin itu ada foto dua perempuan muda — Mama dan Bu Raina.

Dan di belakangnya terukir kalimat halus:

“Sahabat, cinta, dan luka — semuanya tetap punya nama.”

Aku berdiri lama di depan nisan itu.

Tiba-tiba angin sore berembus pelan, dan entah kenapa, aku ngerasa Bu Raina bukan cuma ngajar aku tentang sastra… tapi tentang cara menghadapi masa lalu tanpa harus menang.

 

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 10