Skip to main content

Majalah Sunday

Kenapa Kita Suka Replay Percakapan di Kepala?

Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto

Hi Sunner!

Pernah nggak, setelah ngobrol dengan seseorang, percakapannya malah terus diputar ulang di kepala?

“Tadi kenapa aku jawab begitu, ya?”

“Harusnya aku ngomong yang lain.”

“Dia tersinggung nggak, ya?”

Tenang, kamu nggak sendirian. Memikirkan kembali percakapan adalah hal yang manusiawi. Kita bisa melakukannya karena ingin memahami apa yang terjadi, belajar dari pengalaman, atau memastikan hubungan kita dengan orang lain baik-baik saja.

Tapi, ada perbedaan antara memikirkan sesuatu untuk belajar dan memikirkannya terus sampai membuat diri sendiri semakin cemas.

Replay Percakapan: Refleksi atau Rumination?

Memikirkan kembali sebuah percakapan bisa menjadi refleksi diri.

Misalnya:

“Tadi aku terlalu cepat memotong pembicaraan teman. Lain kali aku harus lebih banyak mendengarkan.”

Kamu menyadari kesalahan, mengambil pelajaran, lalu tahu apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Ini merupakan bentuk refleksi yang adaptif. Penelitian tentang rumination juga membedakan pola berpikir berulang yang tidak produktif dengan bentuk self-reflection yang lebih adaptif.

Sebaliknya, rumination terjadi ketika pikiran terus berputar pada kejadian yang sama tanpa menghasilkan solusi.

“Kenapa aku selalu salah?”

“Aku memang nggak bisa ngomong dengan benar.”

“Pasti semua orang menganggap aku aneh.”

Rumination dapat memperkuat pikiran negatif dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah.

Sederhananya:

Refleksi: “Apa yang bisa aku pelajari?”

Rumination: “Kenapa aku selalu seperti ini?”

overthinking akan hubungan | Kenapa Kita Suka Replay Percakapan di Kepala?

Kenapa Kita Sering Merasa Semua Orang Memikirkan Kesalahan Kita?

Pernah melakukan sesuatu yang memalukan lalu merasa semua orang pasti mengingatnya?

Padahal, belum tentu.

Ada fenomena yang disebut spotlight effect, yaitu kecenderungan kita melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan tindakan atau penampilan kita. Penelitian Gilovich, Medvec, dan Savitsky menunjukkan bahwa orang sering memperkirakan bahwa tindakan mereka lebih diperhatikan orang lain daripada kenyataannya.

Jadi, ketika kamu salah bicara di kelas dan memikirkannya sepanjang malam, belum tentu teman-temanmu juga masih memikirkannya.

Bisa jadi mereka sudah sibuk dengan urusan masing-masing.

Karena itu, saat replay percakapan muncul, coba bedakan:

Fakta: “Dia menjawab singkat.”

Asumsi: “Dia pasti marah kepadaku.”

Kita tidak selalu tahu apa yang dipikirkan orang lain.

Mengubah Replay Menjadi Refleksi yang Sehat

Kita nggak harus memaksa pikiran untuk berhenti. Coba ubah pertanyaannya.

Dari:

“Kenapa aku melakukan itu?”

Menjadi:

“Apa yang bisa aku pelajari dari kejadian ini?”

Kemudian tanyakan:

  • Apa yang sebenarnya terjadi?
  • Apa yang aku rasakan?
  • Apa yang bisa aku pelajari?
  • Apa yang bisa aku lakukan berikutnya?

Kalau sudah menemukan pelajaran atau tindakan yang bisa dilakukan, kamu nggak harus terus memutar kejadian tersebut.

Dan ingat, satu kesalahan dalam percakapan tidak menentukan siapa dirimu.

Kalau pikiran berulang mulai terasa sangat mengganggu, membuatmu terus cemas, menyalahkan diri sendiri, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu untuk bercerita kepada orang yang kamu percaya atau mencari bantuan profesional.

(Klik gambar di atas, ketikan alt text yang di dalamnya harus ada keyphrase, jika sudah pilih caption, pilih custom caption)

Produk Rekomendasi Sunday

Replay percakapan di kepala adalah hal yang wajar. Kadang, otak kita memang sedang mencoba memahami pengalaman dan belajar darinya.

Yang penting adalah mengenali apakah kita sedang merefleksikan atau justru terjebak dalam rumination.

Jadi, lain kali percakapan lama muncul lagi di kepala, coba tanyakan:

“Aku sedang belajar dari kejadian ini, atau sedang menghukum diriku sendiri?”

Kalau ada yang bisa dipelajari, ambil pelajarannya.

Kalau ada yang bisa diperbaiki, lakukan.

Setelah itu, berhentilah memikirkannya.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1