Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia
Hai, Sunners! Pernahkah kamu melihat dinamika hubungan romansa ketika satu orang mendamba kedekatan, sementara pasangannya justru menarik diri? Atau justru kamu pernah merasakan sendiri ketika komunikasi mendadak berubah menjadi permainan “kucing-kucingan” saat konflik melanda? Dinamika ini sering kali dijelaskan melalui konsep anxious-avoidant trap.
Anxious-avoidant melibatkan interaksi antara dua orang yang memiliki cara bertolak belakang dalam mengelola emosi dan konflik dalam sebuah hubungan. Kondisi ini acap kali membawa keduanya masuk ke dalam siklus yang terus berulang.
Ketika terjadi jarak atau masalah kecil, salah satu pihak terdorong untuk terus mengejar dan meminta kepastian. Di sisi lain, pasangannya justru semakin diam, sibuk menghindar, atau membatasi komunikasi. Semakin keras usaha untuk mendekat, semakin jauh pihak lainnya menarik diri.
Untuk memahami bagaimana pola ini terbentuk, penting untuk kamu melihat terlebih dahulu akar dari attachment theory.
Konsep kelekatan (attachment) berawal dari Attachment Theory yang dikembangkan oleh John Bowlby. Teori ini melihat bahwa pola interaksi antara anak dan pengasuh membentuk dasar rasa aman dan cara seseorang merespons ketika membutuhkan dukungan atau menghadapi perpisahan.
Mary Ainsworth kemudian meneliti pola attachment anak melalui Strange Situation. Dalam penelitian ini, respons anak diamati ketika pengasuh pergi dan kembali. Dari sana, terlihat bahwa anak dapat menunjukkan pola respons yang berbeda terhadap kehadiran maupun perpisahan dengan pengasuhnya.
Pembahasan mengenai attachment kemudian berkembang hingga hubungan romantis. Hazan dan Shaver (1987) menerapkan gagasan tersebut untuk melihat hubungan percintaan orang dewasa. Mereka membahas bagaimana pengalaman dan harapan seseorang mengenai hubungan dapat berkaitan dengan cara mereka menjalani hubungan romantis.

Dalam hubungan romantis, orang dengan kecenderungan anxious attachment biasanya memiliki sensitivitas tinggi terhadap potensi perpisahan atau penolakan yang membuatnya lebih sering mencari kepastian, membutuhkan validasi, atau memperhatikan perubahan kecil dalam sikap pasangannya. Ketika pasangan terlihat lebih dingin atau sulit dihubungi, misalnya, perubahan kecil itu terasa jauh lebih berarti bagi dirinya.
Sementara itu, avoidant attachment lebih sering dikaitkan dengan kemandirian berlebihan (hyper independence) sebagai bentuk pertahanan diri. Saat menghadapi masalah atau percakapan yang berat, mereka cenderung memilih diam, mengurangi frekuensi komunikasi, menghindari pembicaraan tertentu, atau mengambil waktu untuk sendiri.
Individu dengan kecenderungan anxious attachment (si cemas) dan avoidant attachment (si penghindar) acap kali saling tertarik pada fase awal hubungan. Ketertarikan ini dapat terjadi karena dinamika di antara keduanya secara tidak sadar memvalidasi pengalaman dan keyakinan dasar (core beliefs) yang telah terbentuk dari masa lalu.
Salah satu pendorong utamanya adalah rasa familiar yang secara tidak sadar cenderung tertarik pada pola hubungan menyerupai dinamika pengasuhan atau pengalaman emosional di masa kecil. Bagi si cemas, sikap dingin dan mandiri rasanya seperti “cinta” yang menuntut usaha ekstra untuk diperjuangkan. Sebaliknya, bagi si penghindar, perhatian dan tuntutan intens dari si cemas memberikan ruang yang familiar bagi mereka untuk memosisikan diri sebagai pihak yang mandiri dan memegang kendali atas ruang personalnya.
Selain rasa familiar, interaksi antara kedua tipe ini juga saling mengonfirmasi keyakinan dasar masing-masing. Ketika si penghindar menarik diri, tindakan tersebut seolah membenarkan ketakutan si cemas bahwa dirinya harus terus berjuang agar tidak ditinggalkan. Sebaliknya, saat si cemas meminta kepastian secara berulang, desakan tersebut mengonfirmasi persepsi si penghindar bahwa keterikatan emosional tersebut melelahkan sehingga menjaga jarak adalah satu-satunya pilihan aman.
Pada tahap awal interaksi, kehangatan dan perhatian besar dari si cemas dapat membuat si penghindar merasa sangat dipuja dan dihargai. Di sisi lain, pembawaan yang tenang, mandiri, dan misterius dari si penghindar menjadi daya tarik yang sangat memikat bagi si cemas. Seiring berjalannya waktu, perbedaan respons ini membentuk sistem tarik-ulur yang menciptakan siklus adiktif. Saat si penghindar menjauh, si cemas akan mengejar lebih keras. Ketika si cemas kelelahan dan mundur, si penghindar justru merasa aman untuk mendekat kembali.

Masalah mulai terlihat ketika perbedaan cara merespons tadi muncul dalam situasi konflik. Salah satu pola yang kerap terbentuk adalah pursue-withdraw cycle atau siklus mengejar-menarik diri seperti bermain kucing-kucingan. Siklus yang dipicu oleh konflik atau kerenggangan ini membagi mereka ke dalam dua peran.
Siklus ini menjadi lingkaran setan karena sifat responsnya yang saling memicu. Ketika withdrawer menjauh, pursuer mengartikannya sebagai penolakan sehingga mereka akan mengejar dengan lebih keras. Pengejaran yang meningkat ini justru membuat withdrawer semakin tertekan dan menarik diri lebih jauh. Akibatnya, kedua belah pihak terjebak dalam siklus komunikasi melelahkan yang terus berputar tanpa ujung.
Pada dasarnya, anxious-avoidant trap adalah pola kebutuhan akan kedekatan dan kepastian dari si cemas berbenturan dengan kebutuhan menjaga jarak dan kemandirian dari si penghindar. Ketika si cemas mengejar demi mendapatkan rasa aman, tindakan tersebut justru memicu si menghindar untuk makin menarik diri yang pada akhirnya mengulang kembali siklus dari awal.Â
Pada akhirnya, kunci utama untuk memutus siklus konflik terletak pada regulasi emosi yang baik untuk memicu perbaikan komunikasi jelas secara dua arah.
Jadi, bagaimana denganmu, Sunners? Pernahkah kamu menyadari atau mengalami siklus pursue-withdraw ini dalam interaksi di sekitarmu?
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.