Majalah Sunday

Kenapa Kita Nggak Perlu Cepat-Cepat Punya Pacar Baru Setelah Putus?

Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia

Setelah putus, kenapa rasanya ingin cepat punya pacar baru?

Saat Kebiasaan Berubah Jadi Kekosongan

Putus itu sejujurnya nggak pernah benar-benar sederhana. Kadang, yang bikin berat bukan cuma karena kita kehilangan sosok orangnya, tapi kita kehilangan kebiasaan yang sudah terbangun lama.

Bayangin deh, yang biasanya jadi orang pertama tempat kamu cerita hal nggak penting, tiba-tiba hilang. Yang biasanya jadi “tempat pulang” setiap kali harimu terasa berat, tiba-tiba kosong. Di momen itulah, satu perasaan besar akan datang mengetuk pintu hati kamu: sepi.

Dan jujur aja, rasa sepi itu nggak nyaman. Itulah kenapa banyak orang akhirnya merasa punya dorongan buat cepat-cepat cari pacar baru. Bukan karena hatinya sudah benar-benar pulih atau sudah siap mencinta lagi, tapi lebih karena mereka nggak tahan sendirian.

Kita seringkali mencari “obat” di orang baru hanya untuk menambal lubang yang ditinggalkan orang lama, tanpa sadar kalau luka itu sebenarnya butuh waktu untuk sembuh dengan sendirinya.

Putus Itu Bukan Berarti Semua Langsung "Selesai"

Banyak orang mengira kalau kata “putus” sudah terucap, maka urusan perasaan juga otomatis selesai saat itu juga. Seolah-olah hubungan itu seperti saklar lampu yang sekali klik, semua memori dan emosi langsung padam. Padahal kenyataannya, perasaan manusia nggak bekerja seinstan itu.

Kamu harus tahu, kalau perasaan sedih atau hampa setelah berpisah itu valid banget. Secara psikologis, hubungan yang berakhir seringkali memicu stres emosional yang nyata dan mendalam. Jadi, wajar banget kalau kamu ngerasa duniamu sedikit berantakan setelah nggak lagi bareng dia.

Hal ini bukan cuma perasaanmu saja, kok. Menurut penelitian dari David A. Sbarra dalam jurnal Current Directions in Psychological Science, putus cinta bisa memicu reaksi yang mirip dengan pengalaman kehilangan yang besar. Efeknya bisa berupa stres, kecemasan, hingga gangguan emosional yang cukup menguras energi.

Artinya, hati kamu itu butuh waktu untuk memproses semuanya. Perasaan itu nggak bisa dipaksa hilang hanya dengan mencari pelarian atau buru-buru punya gebetan baru. Ibarat luka fisik, kalau belum benar-benar kering tapi sudah dipaksa “ditimpa” sesuatu yang baru, lukanya malah bisa makin parah di dalam.

Kenapa Kita Ingin Cepat Punya Pengganti?

Pernah nggak kamu kepikiran buat langsung cari “cadangan” nggak lama setelah putus? Fenomena ini biasanya disebut sebagai rebound relationship. Rasanya kayak kita butuh seseorang sesegera mungkin supaya rasa sakitnya nggak terlalu kerasa.

Secara psikologis, dorongan ini sebenarnya wajar banget, kok. Berdasarkan penelitian oleh Brumbaugh dan Fraley yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships, orang yang baru saja mengakhiri hubungan sering kali mencari pasangan baru sebagai strategi “pertahanan diri”. Tujuannya ada dua: untuk mengurangi keterikatan emosional yang masih tersisa pada mantan dan untuk memulihkan harga diri yang mungkin sempat hancur.

Tapi, ada satu hal yang perlu kita garis bawahi: motivasi untuk merasa “baik-baik saja” nggak selalu sama dengan kesiapan emosional yang sebenarnya.

Mencari orang baru saat hati masih berantakan itu ibarat kita pindah ke rumah baru padahal rumah lama kita masih kebakaran. Kita cuma lari dari asapnya, tapi nggak benar-benar memadamkan apinya. Ujung-ujungnya, kita cuma membawa luka lama ke hubungan yang baru, dan itu nggak adil buat kamu maupun pacar barumu nanti.

Luka yang Belum Selesai, Ikut Dibawa

Pernah nggak kamu merasa sudah “selesai” dengan mantan, tapi saat dekat sama orang baru, kamu malah sering membanding-bandingkan mereka? Atau mungkin kamu jadi gampang curiga tanpa alasan yang jelas? Nah, di sinilah masalahnya: luka yang belum sembuh total akan selalu ikut kemana pun kamu pergi.

Kalau kita bicara soal ini, kita nggak bisa lepas dari teori yang sangat terkenal di dunia psikologi, yaitu Attachment Theory. John Bowlby, seorang psikolog ternama, menjelaskan bahwa manusia itu secara alami didesain untuk membentuk keterikatan emosional yang kuat.

Masalahnya, ikatan ini nggak bisa putus begitu saja hanya karena status hubungan berubah menjadi “mantan”. 

Kehilangan keterikatan ini adalah sebuah proses psikologis yang mendalam. Jika kamu memaksakan diri masuk ke hubungan baru sebelum perasaan lama benar-benar tuntas, kamu sebenarnya sedang membawa “sampah emosional” dari masa lalu.

Ujung-ujungnya, pasangan barumu bukan lagi orang yang kamu cintai apa adanya, melainkan hanya sekadar “penambal” luka atau pelarian dari rasa kehilanganmu. 

Ingat ya hubungan baru nggak seharusnya jadi tempat rehabilitasi. Kamu butuh waktu untuk benar-benar mandiri secara emosional supaya saat nanti kamu mencintai lagi, itu bukan karena kamu butuh “obat”, tapi karena kamu memang sudah siap berbagi kebahagiaan.

Move On Itu Bukan Tentang Cepat, Tapi Tentang Selesai

Sering nggak kamu merasa kayak lagi balapan sama mantan? Siapa yang paling cepat posting foto sama gebetan baru, dialah pemenangnya. Padahal, move on itu bukan lomba lari cepat. Kelihatannya saja hebat kalau bisa cepat dapat pengganti, tapi apakah di dalam hatinya sudah benar-benar tenang? Belum tentu.

Sebuah penelitian menarik dari Grace Larson dan David A. Sbarra menunjukkan hal yang sangat penting. Proses pemulihan setelah putus itu sangat bergantung pada refleksi diri, bukan seberapa cepat kamu mencari pasangan baru. Refleksi diri berarti kamu meluangkan waktu untuk memproses apa yang sebenarnya terjadi, mengenali perasaanmu, dan belajar dari kesalahan di masa lalu.

Artinya, seseorang bisa saja terlihat baik-baik saja dari luar. Mungkin mereka aktif di media sosial atau sudah terlihat gandengan lagi, tapi itu nggak menjamin mereka sudah benar-benar selesai secara emosional. Tanpa waktu untuk menyendiri dan merenung, kamu sebenarnya cuma sedang memendam bom waktu.

Jadi, jangan merasa tertinggal kalau teman-temanmu sudah punya pacar baru sedangkan kamu masih asyik sendiri. Mengambil waktu untuk sembuh total jauh lebih dewasa daripada memaksakan diri tampil bahagia padahal hati masih berantakan.

Tapi… Nggak Semua Hubungan Baru Itu Salah

Setelah tadi kita bahas soal bahaya buru-buru, ada satu hal lagi yang perlu kita lihat secara objektif. Dunia nggak selalu hitam putih. Ternyata, nggak semua orang yang punya pacar baru setelah putus itu pasti gagal atau cuma pelarian.

Menariknya, penelitian dari Claudia C. Brumbaugh (2015) menemukan sisi lain dari fenomena ini. Beberapa orang yang masuk ke hubungan baru lebih cepat justru menunjukkan tanda-tanda positif. Mereka dilaporkan bisa merasa lebih percaya diri, lebih cepat lepas dari bayang-bayang mantan, bahkan mengalami peningkatan kesejahteraan emosional yang nyata.

Jadi, intinya bukan cuma soal berapa hari atau berapa bulan kamu menjomblo setelah putus. Poin utamanya adalah soal kesiapan dan alasan di baliknya.

Kalau kamu cari pacar baru karena benar-benar sudah berdamai dengan masa lalu dan memang menemukan orang yang tepat, itu bukan masalah. Tapi kalau kamu cari pacar baru cuma karena takut kesepian atau ingin balas dendam ke mantan, itulah yang perlu diwaspadai. Cepat atau lambat itu relatif, yang penting adalah kejujuran kamu terhadap perasaanmu sendiri.

Alasan Mengapa Jeda Itu Penting

Sebelum kamu memutuskan untuk membuka hati lagi, coba pertimbangkan beberapa alasan kenapa mengambil jeda itu justru tindakan yang sangat dewasa:

1. Menghindari Pola yang Sama

Berdasarkan penelitian di Journal of Social and Personal Relationships, refleksi diri setelah putus adalah kunci untuk memutus rantai masalah yang sama. Tanpa jeda, hubungan baru berisiko besar hanya menjadi “siaran ulang” dari kegagalan yang lama.

2. Mengembalikan Identitas Diri

Hubungan sering kali membuat kita terlalu menyesuaikan diri dengan pasangan. Jeda adalah waktu untuk menemukan kembali siapa dirimu, apa batasanmu, dan apa yang sebenarnya kamu butuhkan tanpa pengaruh orang lain. Hubungan yang sehat butuh dua orang yang sudah sama-sama “utuh”.

3. Pilihan, Bukan Pelarian

Masalah terbesar hubungan yang terlalu cepat adalah motivasinya. Jika kamu memulai karena takut sepi atau ingin membuktikan sesuatu, hubungan itu berdiri di atas pondasi yang rapuh. Hubungan sebagai pelarian biasanya hanya akan menambah luka baru.

4. Keadilan bagi Orang Baru

Orang baru tidak seharusnya menjadi “tempat rehabilitasi” atau pelampiasan emosi masa lalu. Sangat tidak adil jika kamu membawa seseorang masuk ke dalam cerita lama yang belum benar-benar selesai.

Jadi… Harus Ngapain Setelah Putus?

Daripada sibuk mencari pelarian, mendingan kamu fokus melakukan hal-hal ini supaya proses “selesai” kamu jadi berkualitas:

1. Rasakan, Jangan Dihindari

Sedih, marah, atau kecewa itu manusiawi. Emosi yang kamu proses sekarang akan benar-benar selesai, sedangkan emosi yang kamu hindari atau kamu tutup-tutupi biasanya akan meledak di kemudian hari.

2. Refleksi untuk Belajar

Coba lihat lagi hubungan kemarin secara objektif. Pahami apa yang berjalan baik dan apa yang tidak, bukan untuk menyalahkan diri sendiri, tapi supaya kamu lebih bijak di hubungan berikutnya.

3. Bangun Kembali Duniamu

Lakukan lagi hobi, rutinitas, atau ngobrol bareng teman-teman yang mungkin sempat terabaikan. Pastikan hidupmu tetap seru dan utuh meski sedang tidak bergantung pada satu orang saja.

4. Ubah Standar Move On

 Ingat ya, indikator move on itu bukan soal “sudah punya pacar baru”, tapi saat kamu sudah tenang mengingat masa lalu dan tidak lagi membanding-bandingkan orang baru dengan mantan.

5. Cek Niat Sebelum Mulai Lagi

Saat ada orang baru datang, jujurlah pada diri sendiri. Apakah kamu benar-benar tertarik padanya, atau kamu cuma butuh “obat” supaya nggak merasa sendirian?

Luka Butuh Waktu, Bukan Sekadar Pengganti

Setelah putus, wajar jika kamu ingin merasa “utuh” kembali. Namun, ingatlah bahwa tidak semua yang hilang harus langsung diganti. Kadang yang kamu butuhkan bukan orang baru, melainkan waktu untuk memahami, sembuh, dan kembali ke dirimu sendiri. Jangan jadikan hubungan baru sebagai tempat rehabilitasi luka lama. Jika dipaksakan, kamu hanya akan membawa luka yang belum kering ke orang baru, dan akhirnya pola lama yang menyakitkan hanya akan terulang kembali.

Berilah dirimu ruang untuk bernapas dan waktu untuk pulih sepenuhnya. Karena pada akhirnya, hubungan yang sehat hanya bisa dimulai oleh orang yang sudah selesai dengan masa lalunya.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1