Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
Dia terasa spesial, tapi ini suka, kagum atau cinta?

Pernah ada di fase ini.
Awalnya sih, biasa saja. Sosok yang sering lewat itu nggak punya daya tarik lebih, cuma teman atau kenalan yang lalu-lalang seperti yang lain. Tapi entah kenapa, pelan-pelan ada yang berubah. Tiba-tiba saja, kehadiran orang tersebut terasa beda.
Bukan karena penampilannya paling sempurna atau mendadak jadi juara kelas. Justru, ada getaran aneh yang muncul, jenis perasaan yang nggak ditemukan saat lagi sama orang lain. Padahal kalau dipikir-pikir, sikapnya ke semua orang juga sama saja.
Hingga akhirnya, satu pertanyaan ini mulai berisik dan susah banget dijawab:
Sebenarnya, ini cuma sekadar suka, kagum sesaat, atau malah sudah jadi cinta?
Fase ini biasanya terasa sangat enteng.
Awalnya mungkin cuma senang melihat sosok tersebut lewat atau mendadak senyum sendiri tanpa alasan jelas. Hal-hal sepele pun tiba-tiba terasa menyenangkan. Secara psikologis, fenomena ini sangat wajar terjadi pada siapa pun.
Melansir dari laman Simply Psychology dalam pembahasan mengenai attraction psychology, perasaan suka sering kali dipicu oleh hal-hal sederhana.
Ada tiga faktor utama yang biasanya bermain di sini:

Semakin sering bertemu atau melihat orang tersebut, rasa nyaman itu akan tumbuh dengan sendirinya.
Visual atau penampilan sering kali menjadi pintu masuk pertama yang bikin mata sulit berpaling.
Punya hobi yang sama atau sekadar menertawakan lelucon yang identik bisa jadi pemicu instan.
Artinya, rasa suka memang punya sifat yang cepat datang, namun di sisi lain juga bisa cepat memudar. Itulah alasannya kenapa di tahap ini semuanya terasa begitu ringan; karena emosi yang terlibat belum menyentuh sisi yang dalam.
Seiring berjalannya waktu, pandangan terhadap seseorang bisa bergeser. Bukan lagi sekadar merasa “menyenangkan” saat melihatnya lewat, tapi mulai ada perhatian lebih pada cara orang tersebut berpikir, bersikap, hingga caranya menghadapi masalah.
Di titik inilah, rasa kagum atau admiration biasanya mulai mengambil peran.
Melansir dari Greater Good Science Center di UC Berkeley, kekaguman adalah emosi yang muncul saat melihat kualitas positif pada diri seseorang yang dianggap istimewa.
Menariknya, perasaan ini punya karakteristik unik yang berbeda dari rasa suka biasa:

Ketertarikan bukan lagi soal fisik, melainkan pada kecerdasan, kebaikan hati, atau bakat yang dimiliki.
Ada rasa hormat yang muncul karena sosok tersebut dianggap punya standar yang lebih tinggi dalam aspek tertentu.
Uniknya, kekaguman tidak selalu berujung pada keinginan untuk menjadikan orang tersebut milik sendiri.
Terkadang, rasa ini cukup sampai di tahap menghargai dari kejauhan. Menikmati keberadaan sosok tersebut sebagai inspirasi, tanpa merasa harus ada komitmen atau hubungan yang lebih jauh.
Itulah sebabnya, fase kagum sering kali terasa tenang dan tidak menuntut.
Sayangnya, dinamika hati jarang sekali berhenti di satu titik yang tenang. Ada kalanya, intensitas memikirkan seseorang jadi jauh lebih sering dari biasanya. Hal-hal kecil yang tadinya dianggap sepele, mendadak terasa sangat penting untuk diperhatikan.
Namun, indikator yang paling mencolok biasanya muncul saat rasa takut kehilangan mulai hadir.
Di titik inilah, transisi menuju fase emotional attachment atau kelekatan emosional mulai terjadi. Melansir penjelasan mengenai attachment theory dari laman Verywell Mind, semakin kuat hubungan emosional yang dirasakan seseorang, maka semakin besar pula keinginan untuk mempertahankan kedekatan tersebut.
Kelekatan ini membawa beberapa ciri yang sering kali membingungkan:

Rasa nyaman yang berubah menjadi kebutuhan untuk selalu tahu kabarnya.
Munculnya kecemasan jika sosok tersebut perlahan menjauh atau menghilang dari keseharian.
Secara tidak sadar, perhatian mulai terpusat pada satu nama saja di antara banyak orang lainnya.
Kondisi inilah yang akhirnya membuat segalanya tidak lagi sederhana. Muncul dilema besar yang terus berputar di kepala: Apakah ini masih sekadar kekaguman yang sehat, atau justru sudah melangkah jauh ke wilayah cinta?
Dulu, ada anggapan bahwa cinta selalu tentang pelangi dan perasaan indah. Namun, kenyataannya jauh lebih menantang dari sekadar rasa senang. Cinta bukan lagi tentang satu dimensi perasaan saja, melainkan sebuah perpaduan emosi yang jauh lebih dalam.
Dalam dunia psikologi, Robert Sternberg menjelaskan fenomena ini melalui Triangular Theory of Love.
Menurut teori tersebut, cinta yang utuh sebenarnya dibangun oleh tiga pilar utama:

Kedekatan emosional dan rasa saling percaya yang membuat dua orang merasa sangat terhubung.
Ketertarikan kuat yang memicu percikan romansa di awal pertemuan.
Keputusan sadar untuk tetap bertahan dan menjaga hubungan, bahkan saat situasi sedang tidak mudah.
Ketika ketiga komponen ini mulai menyatu, perasaan tidak lagi sesederhana “aku suka”. Ada rasa peduli yang tulus, kekhawatiran yang wajar, hingga keinginan kuat untuk terus hadir di samping sosok tersebut.
Inilah alasan mengapa cinta sering kali terasa berat dan tidak selalu nyaman. Namun, justru di balik kompleksitas itulah, perasaan tersebut menjadi yang paling nyata dan berharga untuk diperjuangkan.

Jawaban pastinya mungkin belum ketemu sekarang. Kadang rasanya ringan seperti suka, diam-diam dalam seperti kagum, atau mendadak terasa terlalu besar untuk sekadar disebut perasaan biasa. Tapi tenang saja, hati manusia memang tidak selalu datang dengan label yang jelas.
Hal terpenting bukan seberapa cepat perasaan itu dinamai, tapi seberapa jujur diri ini memahaminya. Ingat, suka bisa hilang dan kagum bisa berubah, tapi cinta akan memilih untuk bertahan atau setidaknya memberi pelajaran.
Jadi, coba tanyakan pelan-pelan: Apakah ini cuma senang melihat sosoknya, mengagumi kualitas dirinya, atau sudah mulai peduli bahkan saat situasinya sedang tidak nyaman? Tak perlu buru-buru, biarkan waktu yang menunjukkan ke mana rasa ini akan bermuara.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.