Skip to main content

Majalah Sunday

Apa Itu People Pleaser? Ini Dia Seni Berkata "Tidak"
kepada Pasanganmu

Penulis: Tasya Rahma Putri – Universitas Indonesia

Hai, Sunners! Pernahkah kamu mendengar istilah people pleaser? Dalam sebuah hubungan, mengalah memang sering dianggap sebagai bentuk kasih sayang. Bisa jadi, sebenarnya kamu ingin menolak ajakan atau permintaan pasangan, tetapi karena tidak mau pacarmu marah, kamu tetap mengatakan “iya”. Padahal, kamu sedang lelah dan ingin pulang, tetapi akhirnya memilih menemani pacarmu 24 jam karena takut dianggap tidak perhatian. Atau, kamu sedang sibuk mengerjakan tugas, tetapi merasa tidak enak jika tidak segera membalas pesan.

Namun, sampai sejauh mana sebenarnya harus mengalah demi mempertahankan suatu hubungan?

Lalu, kenapa, sih, ada orang yang begitu sulit mengatakan “tidak” kepada pasangannya? Apakah selalu mengalah berarti kamu adalah pasangan yang pengertian, atau justru ada pola people pleaser yang perlu kamu kenali?

Mengapa Rasanya Sulit Berkata “Tidak” kepada Pasangan?

Memiliki hubungan romantis menjadi salah satu bagian dari pengalaman sosial pada masa remaja. Pada tahap ini, penerimaan dari teman sebaya dan pasangan dapat terasa begitu penting sehingga seseorang merasa perlu menyesuaikan diri agar tetap diterima dalam lingkungannya.

B. Bradford Brown dalam The Development of Romantic Relationships in Adolescence (1999) menjelaskan bahwa hubungan romantis remaja berkembang dalam lingkungan pertemanan yang turut memengaruhi cara mereka melihat dan menjalani hubungan. Brown juga mencatat bahwa remaja dapat merasa khawatir akan penolakan dari kelompok pertemanan maupun pasangan sehingga tidak selalu merasa bebas menunjukkan dirinya yang sebenarnya dalam hubungan.

Karena itu, sebagian remaja mungkin merasa perlu mempertahankan hubungan dengan berbagai cara. Ketika penerimaan dari pasangan dianggap penting, mengatakan “tidak” dapat terasa seperti mengambil risiko karena takut pasangan kecewa, hubungan menjadi renggang, atau bahkan ditinggalkan.

Padahal, mempertahankan hubungan tidak berarti harus selalu mengikuti keinginan pasangan.

Apa Itu People Pleaser? Ini Dia Seni Berkata Tidak kepada Pasanganmu

Apa Itu People Pleaser?

Secara sederhana, people pleaser adalah seseorang yang cenderung memprioritaskan perasaan orang lain di atas kenyamanannya sendiri. Dalam hubungan romantis, kebiasaan ini dapat muncul dalam bentuk yang sederhana.

Misalnya, kamu selalu mengikuti pilihan pasangan, sulit menolak ajakan, merasa bersalah ketika membutuhkan waktu sendiri, atau terus berusaha menjadi pasangan yang dianggap paling pengertian. Namun, menjadi orang yang perhatian tentu bukan sesuatu yang salah. Perbedaannya terletak pada alasan di balik tindakan tersebut. Mengalah karena memang ingin mencari jalan tengah tentu berbeda dengan mengalah karena takut pasangan tidak menyukai atau meninggalkanmu.

Rasa Takut terhadap Penolakan dan Konflik

Couple sedang marahan karena konflik dalam hubungan people pleaser
Hubungan yang sehat perlu memberi ruang bagi people pleaser untuk menyampaikan kebutuhan dan batasan dirinya. (Sumber: Canva)

Harriet B. Braiker membahas pola people pleasing dalam bukunya, The Disease to Please: Curing the People-Pleasing Syndrome (2001). Salah satu hal yang menjadi perhatian Braiker adalah ketakutan terhadap penolakan (fear of rejection) dan konflik (fear of conflict or confrontation). Buku tersebut secara khusus membahas kecenderungan seseorang untuk mencari persetujuan orang lain dan kesulitan mengatakan “tidak”.

Dalam persoalan hubungan, fear of rejection dapat membuat seseorang berpikir bahwa penolakan akan membuat pasangan kecewa, tidak menyukainya lagi, atau meninggalkannya. Sementara itu, fear of conflict membuat seseorang memilih mengalah karena mengorbankan keinginan sendiri terasa lebih mudah daripada menghadapi pertengkaran atau kekecewaan pasangan. 

Akibatnya, seseorang terbiasa mengatakan “iya” bukan karena benar-benar ingin, melainkan ingin menghindari kemungkinan buruk yang ada di pikirannya. Jika terus berlangsung, kebiasaan ini dapat membuatmu semakin bergantung pada validasi dari pasangan. Kamu mulai merasa harus selalu menjadi pasangan yang baik, pengertian, dan menyenangkan agar hubungan tetap berjalan.

Mengalah atau Malah Mengabaikan Diri Sendiri?

Dalam hubungan, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Kamu dan pasangan tidak harus selalu menginginkan hal yang sama. Sesekali mengalah atau mencari jalan tengah justru merupakan bagian dari kompromi.

Namun, ketika kamu mulai mengorbankan waktu belajar, waktu bersama teman, istirahat, hobi, bahkan hingga batas kenyamanan pribadi hanya agar pasangan tidak kecewa, kamu akan semakin terbiasa mengesampingkan diri sendiri.

Pada tahap ini, batas antara “aku memang mau” dan “aku melakukan ini karena takut pasangan kecewa” pun semakin kabur. Padahal, personal boundaries atau batasan pribadi tetap dibutuhkan dalam hubungan.

Kapan “Mengalah” Mulai Menjadi Masalah?

Tidak semua pasangan yang kecewa ketika ditolak berarti memiliki hubungan yang tidak sehat. Perasaan kecewa merupakan hal yang wajar ketika dua orang memiliki keinginan berbeda.

Meski begitu, hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pasangan merespons penolakan tersebut. Kamu perlu waspada jika pasangan terus memaksa, sengaja membuatmu merasa bersalah (guilt tripping), marah setiap kali keinginannya tidak dipenuhi, mengancam hubungan agar kamu menurut, atau tetap mengabaikan batasan yang sudah kamu sampaikan.

Misalnya, kamu menolak karena sedang sibuk, tetapi pacarmu justru mengatakan bahwa kamu sudah tidak peduli. Jika pola seperti ini terus berulang, dapat berujung pada perasaan takut mempertahankan batasan sendiri. 

Hubungan yang sehat tidak menuntut seseorang untuk mengorbankan batasannya agar pasangan tetap merasa senang.

Berani Berkata "Tidak", Bukan Berarti Tidak Sayang

Memiliki batasan tidak membuatmu menjadi pasangan yang egois. Kamu tetap bisa menyayangi pasangan sambil memiliki waktu untuk belajar, beristirahat, bertemu teman, menjalani hobi, atau sekadar menikmati waktu sendiri.

Hubungan yang sehat memberikan ruang bagi kedua pihak untuk menyampaikan kebutuhan dan ketidaknyamanan. Karena itu, mengatakan “tidak” pada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman bukan berarti kamu berhenti menyayangi pasangan.

Seni Berkata “Tidak” kepada Pasangan

Lalu, bagaimana cara mulai belajar berkata “tidak” tanpa dihantui rasa bersalah? Berikut beberapa hal yang wajib kamu coba.

1. Kenali batasanmu

Langkah pertama adalah memahami apa yang membuatmu nyaman dan tidak nyaman dalam hubungan. Sebelum menyetujui sesuatu, pertimbangkan apakah kamu memang menginginkannya atau hanya merasa takut mengecewakan pasangan. 

Dengan mengenali batasan diri akan membuatmu lebih mudah mengambil keputusan tanpa terus bergantung pada keinginan pasangan.

2. Gunakan I-statement

Saat menyampaikan penolakan, sampaikan perasaan, kebutuhan, dan batasan dari sudut pandang diri sendiri. I-statement membuat komunikasi lebih berfokus pada dirimu dan apa yang kamu rasakan. Misalnya, “Hari ini aku lagi capek banget setelah seharian. Besok kita ngobrol lagi, ya.” atau “Aku lagi ngerjain tugas, ya. Kalau balasnya lama, maaf.” 

Dengan begitu, kamu dapat menyampaikan ketidaknyamanan secara jelas tanpa membuat pembicaraan berubah menjadi saling menyalahkan.

3. Gunakan Sandwich Method

Jika ingin menyampaikan penolakan dengan lebih halus, kamu bisa menggunakan sandwich method. Mulai dengan mengapresiasi niat pasangan, sampaikan penolakan dengan jelas, kemudian berikan alternatif jika memungkinkan. Misalnya, “Makasih udah ngajak aku pergi, tapi hari ini aku ingin istirahat. Kalau besok kamu senggang, kita bisa pergi bareng.”

4. Beri Jeda sebelum Menjawab

Tidak semua permintaan harus langsung mendapatkan jawaban. Beri diri sendiri waktu untuk mempertimbangkan keputusan. Ini dapat membantu memastikan bahwa jawaban yang diberikan berasal dari keinginan sendiri.

5. Bedakan Kompromi dengan Mengorbankan Diri

Dalam hubungan, kamu dan pasangan tentu tidak akan selalu menginginkan hal yang sama. Kompromi berarti kedua pihak bersedia menyesuaikan diri untuk menemukan jalan tengah. Sebaliknya, jika hanya satu pihak yang terus mengabaikan kenyamanannya demi pasangan, kebiasaan tersebut sudah mengarah pada pengorbanan diri yang tidak sehat.

6. Perhatikan Respons Pasangan, Kenali Sinyal Toxic

Setelah kamu mengatakan “tidak”, lihat bagaimana responsnya. Pasangan yang menghargai batasan mungkin merasa kecewa, tetapi tetap menghormati keputusanmu. Sebaliknya, terus memaksa, membuatmu merasa bersalah, atau mengancam merupakan tanda bahwa batasanmu tidak dihargai dan mengarah pada hubungan yang tidak sehat.

Jika selama ini kamu sering mengatakan “iya” hanya karena takut mengecewakan pasangan, tidak ada salahnya mulai belajar mengatakan “tidak” pada hal-hal kecil. Kenali batasanmu, sampaikan dengan jelas, dan jangan menganggap rasa bersalah sebagai tanda bahwa keputusanmu tidak tepat. Berpacaran bukan berarti harus menyerahkan seluruh waktu, ruang, dan keputusan pribadi kepada pasangan, ya, Sunners!

Kalau kamu punya teman yang super bucin dan hobinya selalu mengalah demi pasangan, mungkin artikel ini juga bisa kamu bagikan kepadanya. Siapa tahu, dia hanya perlu diingatkan bahwa menyayangi pasangan tidak berarti harus terus-menerus mengorbankan diri sendiri, lho!

Jadi, kapan terakhir kali kamu berani bilang “tidak” kepada pacarmu?

*****

Produk Rekomendasi Sunday

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1