Skip to main content

Majalah Sunday

Mencerna Kritik Pedas Guru/Mentor Secara Konstruktif

Penulis: Rafi Bintang Maulana – Telkom University Purwokerto

Pernah dikritik guru atau mentor dengan nada yang bikin kuping panas? Bukan cuma isinya yang nyelekit, tapi cara nyampeinnya juga kerasa keras banget, sampai bikin kamu pengen langsung nyerah atau malah baper berhari-hari.

Kabar baiknya, reaksi kayak gitu wajar banget, otak kita memang didesain buat defensif kalau ngerasa dinilai atau diserang. Tapi di balik kritik yang pedas, seringkali ada masukan berharga yang bisa bikin kamu berkembang, asal tau cara menyaringnya. Yuk, bahas caranya.

Kenapa Kritik Bisa Terasa Menyakitkan

Secara psikologis, otak kita cenderung defensif begitu ngerasa dinilai atau dikritik, ini mekanisme alami buat ngelindungin ego dan rasa percaya diri. Ditambah lagi kalau nada penyampaiannya keras, tinggi, atau kerasa personal, otak jadi lebih gampang mengartikannya sebagai serangan, bukan masukan. Makanya, reaksi pertama biasanya defensif, minder, atau pengen langsung membela diri, meskipun secara sadar kamu tau kritiknya mungkin ada benarnya.

Pisahkan Pesan dari Cara Penyampaiannya

Salah satu skill paling penting buat mencerna kritik pedas adalah memisahkan antara apa yang disampaikan sama gimana cara nyampeinnya. Nada yang kasar atau ketus nggak otomatis berarti isi kritiknya nggak valid, begitu juga sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan lembut belum tentu isinya berguna. Coba biasakan tanya ke diri sendiri, kalau kritik ini disampaikan dengan nada yang lebih halus, apakah isinya masih relevan buat diperbaiki? Kalau jawabannya iya, berarti ada insight yang layak diambil, terlepas dari cara penyampaiannya.

Teknik Menyaring Kritik yang Berguna

Biar nggak semua kritik ditelan mentah-mentah atau malah diabaikan semua, coba beberapa teknik ini. Cari pola, apakah kritik yang sama muncul berulang dari orang yang berbeda-beda, kalau iya, kemungkinan besar itu poin yang beneran perlu diperbaiki. Fokus ke bagian yang spesifik dan actionable, misalnya kritik soal cara kamu menjelaskan sesuatu di presentasi, bukan kritik yang general dan susah dieksekusi. Abaikan bagian yang cuma emosi atau serangan personal, karena itu biasanya lebih menunjukkan kondisi orang yang ngasih kritik, bukan soal kualitas kerjaanmu.

Cara Merespons Kritik dengan Tenang

Begitu dapet kritik yang pedas, coba tahan diri buat nggak langsung membalas defensif. Ambil jeda sebentar sebelum merespons, tarik napas dulu kalau perlu. Kalau ada bagian yang kurang jelas maksudnya, jangan ragu buat tanya klarifikasi, ini juga nunjukin kamu beneran mau ngerti masukannya, bukan cuma nunggu momen buat ngebantah. Coba juga ucapkan terima kasih, meskipun awalnya berat, karena ini bisa bantu meredam suasana dan nunjukin kamu terbuka sama masukan.

Kapan Kritik Perlu Dikomunikasikan Balik

Penting juga buat tau batasnya. Kalau kritik yang diterima udah masuk ke ranah yang nggak sehat, misalnya menghina secara personal, bukan lagi soal kerjaan atau tugas, kamu berhak buat ngomong balik secara asertif dan tenang, bukan buat ngelawan tapi buat menegaskan batasan yang wajar. Kalau situasinya udah kelewatan atau kamu ngerasa nggak nyaman buat ngomong sendiri, nggak apa-apa buat minta bantuan pihak lain, seperti guru BK, orang tua, atau atasan lain yang bisa dipercaya.

Kritik pedas emang nggak enak didengar, tapi seringkali punya nilai yang bisa bikin kamu berkembang, asal tau cara menyaringnya dari cara penyampaiannya yang kurang enak.

Coba deh, di kritik berikutnya yang kamu terima, alih-alih langsung down atau defensif, coba pisahin dulu pesan dari cara penyampaiannya, cari pola dan bagian yang actionable, terus kasih waktu buat diri sendiri sebelum merespons. Kebiasaan kecil ini bisa bikin kamu makin siap berkembang dari feedback siapa pun.

*****

Produk Rekomendasi Sunday

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 7