Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto
Pernah nggak kamu punya sesuatu yang ingin dilakukan, tetapi terus menundanya karena merasa kondisinya belum ideal?
Mau mulai belajar, tapi merasa belum punya tempat yang nyaman. Mau membuat konten, tapi merasa belum punya peralatan yang bagus. Mau mencoba hal baru, tetapi takut hasilnya nggak sesuai ekspektasi.
Tanpa sadar, keinginan untuk mendapatkan hasil yang sempurna sejak awal justru bisa membuat kita nggak mulai-mulai.
Di Jepang, ada sebuah filosofi yang dikenal sebagai wabi-sabi, yaitu cara pandang yang menghargai keindahan dalam ketidaksempurnaan, ketidakabadian, dan sesuatu yang belum selesai. Filosofi ini dapat menjadi perspektif untuk memahami bahwa sesuatu tidak harus sempurna terlebih dahulu agar layak dimulai.
Wabi-sabi merupakan filosofi dan pandangan estetika Jepang yang menekankan penerimaan terhadap ketidaksempurnaan, perubahan, dan ketidaklengkapan.
Konsep ini berkembang dalam budaya Jepang, termasuk melalui tradisi minum teh yang lebih menghargai kesederhanaan dan karakter alami benda daripada kemewahan atau kesempurnaan tampilannya.
Secara sederhana, wabi-sabi mengajak kita menerima bahwa:
Cara pandang ini bisa diterapkan bukan hanya pada benda atau estetika, tetapi juga pada kehidupan sehari-hari.

Keinginan untuk memulai ketika semuanya sudah sempurna dapat membuat kita terjebak dalam perfectionism.
Kita mungkin berpikir:
“Nanti kalau sudah lebih siap, baru mulai.”
Masalahnya, kondisi yang benar-benar ideal belum tentu datang. Akhirnya, rencana hanya berhenti sebagai rencana.
Padahal, kemampuan dan pengalaman sering kali justru terbentuk setelah kita mulai. Kesalahan pertama, hasil yang belum maksimal, dan proses mencoba kembali bisa menjadi bagian dari perkembangan.
Wabi-sabi menawarkan cara pandang yang berbeda: nggak apa-apa kalau awalnya belum sempurna.
Bayangkan kamu ingin belajar menggambar.
Kalau kamu berpikir harus punya kemampuan seperti ilustrator profesional sebelum mulai, kemungkinan besar kamu akan terus menunda. Namun, kalau kamu menerima bahwa gambar pertamamu mungkin masih berantakan, kamu punya kesempatan untuk belajar dari sana.
Hal yang sama berlaku untuk belajar, membuat karya, berolahraga, membangun kebiasaan, maupun mencoba sesuatu yang baru.
Mulai dari apa yang kamu punya. Perbaiki sambil berjalan.
Hasil pertama bukan harus menjadi hasil terbaik. Ia bisa menjadi titik awal untuk mengetahui apa yang perlu diperbaiki.
a. Berhenti menunggu “waktu yang tepat”
Tentukan langkah paling kecil yang bisa kamu lakukan sekarang. Tidak perlu langsung menyelesaikan semuanya.
b. Izinkan dirimu menjadi pemula
Belum bisa bukan berarti tidak mampu. Kesalahan merupakan bagian dari proses belajar.
c. Ubah cara melihat kekurangan
Daripada melihat kesalahan sebagai bukti bahwa kamu gagal, coba lihat sebagai informasi tentang apa yang bisa dikembangkan.
d. Fokus pada proses
Jangan hanya menilai diri dari hasil akhir. Perhatikan juga keberanianmu untuk mencoba, konsistensi, dan perkembangan kecil yang terjadi.
e. Beri ruang untuk berubah
Apa yang kamu inginkan hari ini mungkin berbeda beberapa bulan atau tahun kemudian. Perubahan tersebut merupakan bagian dari perjalanan, bukan sesuatu yang harus selalu dilawan.
Menerima ketidaksempurnaan bukan berarti berhenti berusaha.
Wabi-sabi lebih dekat dengan menerima bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari proses, sambil tetap memberikan ruang untuk berkembang.
Jadi, kalau tugasmu belum sempurna, bukan berarti kamu harus berhenti memperbaikinya. Kalau percobaan pertamamu gagal, bukan berarti kamu tidak boleh mencoba lagi.
Terima prosesnya, lalu lanjutkan langkah berikutnya.

Kita mungkin tidak selalu bisa memilih kondisi ketika harus memulai sesuatu. Ada kalanya kita belum siap, belum punya semua yang dibutuhkan, atau masih takut melakukan kesalahan.
Namun, menunggu semuanya sempurna juga bisa membuat kita kehilangan kesempatan untuk bertumbuh.
Wabi-sabi mengingatkan kita bahwa sesuatu yang belum sempurna tetap bisa memiliki nilai. Proses yang belum selesai tetap bisa berarti.
Jadi, kalau ada sesuatu yang selama ini ingin kamu mulai, coba tanyakan pada dirimu:
“Apa satu langkah kecil yang bisa aku lakukan hari ini, meskipun kondisinya belum ideal?”
Nggak harus langsung sempurna. Yang penting, mulai dulu.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.