Skip to main content

Majalah Sunday

Cerita Cinta SMA: Dari yang Cuma Kakak dan Adik Kelas, Malah Jadi Kesayanganku?

Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia

Cerita Cinta SMA: Dari yang Cuma Kakak dan Adik Kelas, Malah Jadi Kesayanganku?
Masa-masa SMA adalah masa yang menyenangkan. (sumber: Hipwee)

Masa-masa SMA emang seru ya, penuh warna warni apalagi pas jamkos.

Tapi mau tau ga sih apa yang lebih seru dari masa-masa sekolah yang bikin itu jadi lebih berwarna dan bikin kita semangat terus buat dateng ke sekolah? Yap, betul banget kamu ga salah, itu pas kita dimasa-masa kita mulai nge crushin adek kelas/ kakak kelas

dan kayaknya hampir dari kita semua pernah ngalamin itu juga ga sih?

Mungkin dari yang awalnya cuma karena ga sengaja liat dia lagi ekskul, papasan di koridor, atau bisa juga karena ga sengaja tabrakan kecil pas istirahat di kantin.

Dari yang awalnya cuma kagum, terus iseng follow Instagramnya.

Terus lama-lama tanpa disadarin “kok jadi kepikiran ya?”

Pas lagi di masa-masa itu pernah ga sih kamu setiap pas udh nyampe sekolah, kalian sengaja banget nongkrongin gerbang sekolah cuma buat mastiin kakak/ adek kelas yang kita suka udah lewat atau belum? atau sengaja nongkrong diluar kelas cuma buat mastiin dia sekolah atau nggak sampe bel masuk sekolah?

Cari-cari alasan buat ke toilet padahal muter lewat kelasnya dia biar bisa curi-curi pandang liatin dia lagi ngapain.

Sampe-sampe tiap istirahat yang pertama di cari? Dia.

Bahkan sampe pulang sekolah pun nyariin dia terus.

Kalo lagi dimasa-masa itu tuh nggak liat dia sehari aja rasanya kayak ada yang kurang. Bener ga?

Darisitu lama-lama kita mulai hafal dia datengnya di jam berapa, dan bareng sama siapa aja biasanya dia dateng.

Istirahat adalah momen-momen yang paling kita tunggu. Kita buru-buru buat dateng ke kantin sambil nyariin dia, ga lupa cari-cari kesempatan biar bisa merhatiin dia dari jauh sambil nyari tau jajanan favorit nya apa.

Dari momen itu, makin lama entah gimana dari banyaknya kepala yang ada di kantin, kita bisa langsung notice kalo dia lagi ada di kantin juga.

Kisah cinta kadang nggak dimulai dari hal-hal romantis, bisa juga semuanya berawal dari hujan, sebuah tenda, dan Keputusan yang spontan.

Dan disini aku mau cerita sedikit tentang pengalaman ku saat di momen itu.

Semuanya Berawal dari Tenda dan Hujan

Aku sangat tidak suka sekali untuk bersekolah. Dan seperti biasa hari itu tidak ada yang menarik sebenarnya.

Tidak ada yang begitu Istimewa, hanya ada hari-hari sekolah yang panjang dan melelahkan. hingga 

Setelah kegiatan MPLS berakhir, kami masih memiliki satu rangkaian acara lagi yaitu perjumsa (Perkemahan Jumat Sabtu). Awalnya semua berjalan seperti biasa. Aku yang saat itu menjadi bagian dari kepanitiaan hanya melihat kelompok-kelompok adik kelas yang sedang mendirikan tenda untuk tempat mereka tidur nanti malam dan briefing untuk agenda yang selanjutnya.

Tidak lama saat briefing, hujan turun tiba-tiba dengan begitu lebatnya. Di tengah situasi yang mulai kacau, semua orang mulai menyelamatkan barang dan perlengkapan mereka, aku melihat masih ada beberapa tenda yang perlu segera diselamatkan agar tidak tergenang oleh hujan.

Tanpa berpikir panjang, aku spontan langsung berlari dan ikut mengangkat tenda-tenda bersama dengan teman-teman panitia yang lain. Saat itu aku tidak menyangka sama sekali bahwa keputusan spontan itu nantinya akan menjadi awal dari sebuah kisah yang tak pernah ku bayangkan.

Hari-hari pun berlalu. Sekitar minggu pertama masuk sekolah, seorang adik kelas yang melihat  kejadian saat aku membantu mengangkat tenda ternyata mulai mengikuti akun Instagram ku berbarengan dengan adiknya.

Aku bingung awalnya, karena mereka memiliki sebuah nama yang mirip. Aku pikir itu adalah dua akun dengan orang yang sama saat itu.

Kami akhirnya menjadi mutualan. Saat itu aku merasa ya seperti hari-hari sekolah pada umumnya saja. Biasa saja dan tidak ada yang begitu Istimewa. Tidak pernah terlintas dibenak ku bahwa orang tersebut memiliki ketertarikan terhadapku. Aku bahkan tidak terlalu menyadarinya.

Sampai suatu hari, aku mulai mendengar kabar burung dari beberapa temannya.

Katanya, dia yang melihatku saat membantu mengangkat tenda tertarik padaku.

Pada awalnya aku bingung dan tidak terlalu percaya, hanya bercandaan belaka teman-temannya pikirku. Sampai suatu ketika, guruku sendiri mengatakan hal yang sama ketika sedang mengajar.

Untungnya, saat itu hanya ada aku dan guruku di kelas.

Aku mulai berpikir, “Apakah benar?”

Aku mulai menggali informasi lebih dalam lagi kepada teman-temannya dan guruku.

Daripada aku terus menerka-nerka, akhirnya aku memutuskan untuk bertanya langsung kepadanya melalui DM Instagram.

Jawabnya?

Tidak. Itu hanya gossip dan candaan belaka.

Katanya, kabar itu tidak benar. Tapi entah mengapa, aku merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.

Kalau aku pikir-pikir lagi mana ada orang yang ingin menjawab jika dia langsung ditanya seperti itu dengan orang yang dia taksir?

Setelah mencoba mencari tahu lebih jauh dan mendesak berbagai pihak yang mengetahui ceritanya, aku akhirnya mendapatkan jawaban yang sama.

Ternyata, kabar itu memang benar. Dia tertarik kepadaku.

kegiatan perjusa saat api unggun
Hanya butuh satu kejadian yang sederhana untuk bisa jatuh cinta.

Menjadi Dekat Karena Penasaran

Setelah mengetahui hal tersebut, aku mulai, mencoba untuk mendekatinya.

Kami jadi selalu memperhatikan satu sama lain dari kejauhan di sekolah.

Saling menunggu lewat koridor kelas hingga bel sekolah masuk.

Kami mulai lebih sering bertemu dalam berbagai kegiatan sekolah. Dari kegiatan-kegiatan itu, kami memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengobrol dan mengenal satu sama lain harusnya. Hanya saja aku masih terlalu malu dan kikuk di depannya. Jadi kami hanya berbicara seperlunya saja.

Kami aktif berbicara hanya ketika chattingan saja. Aku tidak tahu mengapa.

Awalnya hanya dari percakapan sederhana.

Sekedar mengingatkan perihal kegiatan.

Lama-lama menjadi lebih panjang.

Dari mengetahui nama dan sosoknya, menjadi tahu kegemarannya, dan kebiasaan kecilnya, serta sifatnya.

Tidak terasa kami semakin dekat.

Sampai aku mulai menyadari bahwa perasaanku sendiri mulai berubah.

orang yang bingung dan penasaran
Terlalu kikuk dan malu jadi bingung harus apa.

Dua perasaan bertemu

Hingga pada akhirnya ketika semua yang kurasakan itu valid, aku mulai memberanikan diri untuk menyatalan perasaanku.

Saat itu sepulang sekolah habis kegiatan pramuka.

Aku langsung berlari ke toko bunga terdekat yang ada di sekitar sekolah dan membeli setangkai bunga mawar yang warnanya masih sangat indah.

Dengan sekuat tenaga berlari kembali ke sekolah sembari berharap bahwa dia belum pulang.

Sesampainya disekolah aku melihat dia yang masih bercengkrama dengan teman-temannya, dengan perasaan yang bercampur aduk, aku nekat untuk menyatakan perasanku dengan memberinya bunga beserta plastik kresek sebagai wadah bunga itu di pinggir lapangan sekolah.

Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat itu. Terdengar konyol

Dengan wajahnya yang memerah bak tomat yang baru dipetik dan senyum manisnya yang seperti gula, dia mengangguk manja dan mengatakan “iya.”

Aku spontan melompat kegirangan, lalu kami berpamitan.

Aku Kembali untuk briefing kegiatan pramuka. Aku tidak kepikiran saat itu mengapa aku tidak mengantarnya dulu ke depan gerbang sekolah untuk di jemput oleh ibundanya.

Kami akhirnya memutuskan untuk berpacaran.

Sebuah hubungan yang pada awalnya tidak pernah ada di dalam benakku bahkan mungkin hubungan itu tidak akan terjadi kalau saat itu aku tidak spontan berlari membantu untuk mengankat tenda di Tengah hujan lebat.

Lucunya, awal kisah kami bukan sesuatu yang romantis.

Hanya hujan dan sebuah tenda. Dan seorang kakak kelas yang memilih untuk membantu.

Menyatakan cinta nggak harus dengan cara yang romantis.

Tetap Bersama, Meski Beda Jurusan

Selama kami berpacaran, kami menjalani kehidupan sekolah seperti biasa.

Dan aku menjadi sedikit lebih bersemangat untuk sekolah

Kami bahkan berbeda jurusan.

Aku berada di IPA, sementara dia di IPS.

Perbedaan itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk menghabiskan waktu bersama di sela-sela istirahat. Kami menjadi bagian dari kehidupan sekolah satu sama lain. Setiap istirahat aku menyempatkan diri untuk mengunjungi kelasnya dan makan siang bersama, menghabiskan waktu istirahat bersama, dan kami tetap support satu sama lain dan belajar bersama ketika sedang ujian.

Hari-hari biasa ku saat sekolah kini terasa menyenangkan, aku memiliki seseorang yang bisa diajak untuk berbagi cerita tentang sekolah.

Mulai dari tentang tugas, sekolah, hingga hal-hal kecil yang bagi orang lain tidak terlalu penting, tapi menjadi berarti karena menceritakan dan diceritakan kepada orang yang kita sayangi.

Pada saat itu, mungkin aku berpikir hubungan tersebut akan bertahan lama.

Namun, aku terlalu naif. Ternyata hubungan memiliki jalannya sendiri.

dua orang yang sedang menikmati waktu bersama
Makan siang sela jam istirahat menjadi terasa sangat menyenangkan. (sumber:Tempo.co)

Kamu Terlalu "Cuek"

Pada akhirnya hubungan kami harus berakhir.

Alasannya sederhana, tetapi cukup untuk mengubah semuanya.

Dia merasa bahwa sikapku terlalu cuek.

Mungkin saat itu aku belum benar-benar mengerti apa arti “terlalu cuek” dalam sebuah hubungan. Aku mungkin merasa bahwa caraku menunjukkan perhatian sudah cukup, sementara dari sudut pandangnya, mungkin ada hal-hal yang masih kurang.

Kami pun berpisah.

Dan ternyata, berpisah jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan.

Karena ketika sebuah hubungan itu berakhir, kenangan itu tidak akan ikut hilang.

Orang yang sebelumnya menjadi bagian dari keseharian tiba-tiba sudah tidak ada disitu lagi.

Tidak ada lagi pesan.

Tidak ada lagi percakapan.

Dan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja justru bisa menjadi sesuatu yang paling sulit untuk dilupakan.

hubungan yang berakhir
Hubungan yang dikira akan lama ternyata berakhir begitu saja.

Sudah Sewindu dan Masih Menghitung

Satu hal yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya adalah butuh waktu berapa lama untuk ku benar-benar melupakan semuanya.

Ternyata untuk melupakan sebuah hubungan yang singkat itu membutuhkan waktu yang sangat lama bagiku.

Delapan tahun.

Bukan delapan hari.

Bukan delapan minggu.

Delapan tahun. Dan masih menghitung.

Itu mungkin terdengar terlalu lama untuk sebuah kisah cinta dimasa sekolah.

Aku tidak tau apakah aku yang terlalu enggan untuk melepaskan semua kenangan itu atau aku yang terlalu meromantisasikan rasa sakit ku.

Tetapi mungkin memang begitulah cara kenangan bekerja.

Ada orang-orang yang memang hanya hadir sebentar dalam hidup kita, tetapi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih lama, entah karena kita terlalu merawat kepergian itu atau karena kita masih menyediakan tahta baginya sampai hari kedatangan itu tiba.

Selama bertahun-tahun, aku belajar bahwa untuk move on itu bukan berarti tiba-tiba lupa. Ada kalanya aku masih mengingat, merindu, dan ada kalanya juga aku melupa.

Seringkali ketika kita menjalani sebuah hubungan yang berujung tidak baik kita akan menganggap itu sebuah kesalahan.

Bertahun-tahun untuk move on aku belajar satu hal, bahwa hubungan membutuhkan komunikasi, perhatian, dan usaha dari dua orang, bukan hanya perasaan.

Dan yang lebih penting adalah kita harus menerima bahwa sesuatu yang pernah menjadi bagian yang penting bagi hidup kita harus ditinggalkan di tempat itu saja.

Dan aku juga belajar bahwa tidak semua hubungan harus bertahan selamanya untuk bisa menjadikan itu sesuatu yang sangat berarti.

seseorang yang masih menunggu
Tidak terasa sudah sewindu dan masih menghitung.

Produk Rekomendasi Sunday

Pada akhirnya, cerita kami memang nggak berjalan dengan sebagaimana mestinya. Tapi bukan berarti semua itu jadi sia-sia. Ada masanya Ketika kami saling menunggu, saling menemani, dan menjadi tempat untuk bercerita tentang hal-hal sederhana di sekolah.

Mungkin memang begotu cara sebuah cerita masa sekolah bekerja. Kadang hanya dimulai dari hal yang sepele, berlangsung sedikit lebih lama dari yang kita kira, lalu selesai tanpa pernah benar-benar kita rencanakan.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 8