Penulis: Fariz Ilham – Telkom University Purwokerto
Hi Sunner!
Pernah nggak kamu merasa, “Kok aku sekarang jadi seperti ini, ya?”
Mungkin cara bicaramu mirip orang tua. Cara berpikirmu dipengaruhi teman. Atau pengalaman bersama seseorang membuatmu menjadi lebih hati-hati dalam mempercayai orang lain.
Tanpa disadari, kita tumbuh bersama pengaruh orang-orang di sekitar kita.
Masa remaja sendiri merupakan periode penting dalam perkembangan sosial dan emosional. Di masa ini, kita mulai mencari tahu siapa diri kita, ingin menjadi seperti apa, dan bagaimana posisi kita di antara orang lain. Hubungan dengan keluarga dan teman juga dapat membantu membentuk identitas serta kesejahteraan mental.
Jadi, mungkin pertanyaannya bukan hanya “Siapa aku?”, tetapi juga “Siapa saja yang ikut membentuk diriku?”
Sejak kecil, kita belajar banyak hal melalui orang-orang di sekitar.
Keluarga mengajarkan nilai dan kebiasaan. Teman membantu kita belajar tentang pertemanan, penerimaan, dan batasan. Guru atau orang lain di lingkungan kita mungkin membantu menemukan kemampuan yang sebelumnya tidak kita sadari.
Dari berbagai interaksi tersebut, perlahan terbentuk cara kita melihat diri sendiri.
Dalam perkembangan remaja, hubungan sosial memang memiliki peran penting dalam pembentukan identitas. Hubungan yang positif dengan teman juga berkaitan dengan perkembangan identitas dan kesejahteraan psikologis remaja.

Pernah ada teman yang mengatakan, “Kamu ternyata pendengar yang baik”?
Mungkin sebelumnya kamu tidak pernah menyadarinya.
Begitu juga dengan kritik. Ketika seseorang mengatakan bahwa kita terlalu mudah marah atau kurang mendengarkan orang lain, kita mendapatkan kesempatan untuk melihat sisi diri yang mungkin belum kita sadari.
Itulah mengapa orang lain bisa menjadi cermin.
Tentu, bukan berarti semua perkataan orang lain harus kita percaya. Kritik bisa saja keliru atau bahkan menyakitkan. Namun, kita dapat memilih mana yang bisa menjadi bahan untuk belajar dan berkembang.
Lingkungan yang kita pilih juga penting.
Teman yang mau mendengarkan, keluarga yang memberikan rasa aman, atau lingkungan yang membuat kita nyaman menjadi diri sendiri dapat menjadi sumber dukungan ketika menghadapi masalah.
Sebaliknya, hubungan yang penuh tekanan, perundungan, atau membuat kita terus merasa tidak cukup baik dapat berdampak buruk pada kesejahteraan mental.
WHO menekankan bahwa hubungan yang aman dan suportif di keluarga, sekolah, serta lingkungan sosial merupakan bagian penting dalam mendukung kesehatan mental remaja.
Karena itu, memilih lingkungan bukan berarti pilih-pilih teman. Ini juga bagian dari menjaga diri.
Walaupun orang lain ikut membentuk kita, bukan berarti kita kehilangan kendali atas diri sendiri.
Kamu boleh terinspirasi dari teman tanpa harus menjadi seperti mereka.
Kamu boleh menerima nasihat orang tua tanpa harus mengikuti semuanya.
Kamu juga boleh meninggalkan kebiasaan atau nilai yang ternyata tidak sesuai dengan dirimu.
Pada akhirnya, kita bukan hanya dibentuk oleh orang lain. Kita juga memilih apa yang ingin kita bawa dalam diri kita.
Inilah bagian penting dari proses menjadi dewasa: belajar mengenali pengaruh dari lingkungan sekaligus menentukan siapa diri kita sendiri.

Kita tidak tumbuh sendirian.
Ada orang-orang yang mengajarkan kita, mendukung kita, menantang kita, bahkan mungkin mengecewakan kita. Semua pengalaman itu bisa meninggalkan pelajaran dan ikut membentuk diri kita.
Karena itu, coba tanyakan kepada diri sendiri:
“Orang-orang di sekitarku membuatku menjadi pribadi seperti apa?”
Dan yang tidak kalah penting:
“Apakah lingkungan ini membuatku merasa aman untuk menjadi diriku sendiri?”
Kalau jawabannya belum, tidak apa-apa untuk mencari lingkungan yang lebih sehat dan suportif.
Karena menjaga kesehatan mental bukan hanya tentang memahami diri sendiri, tetapi juga tentang memahami siapa yang kita izinkan untuk hadir dan memberi pengaruh dalam hidup kita.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.