Skip to main content

Majalah Sunday

Belum Ada Internet, Kok Bisa?
Begini Cara Pemuda Antardaerah Satukan Perbedaan Lewat Sumpah Pemuda!

Penulis: Alvita Marsandraputri – Universitas Airlangga

Sunners, pernahkah saat kamu mengerjakan tugas kelompok, ada satu atau dua orang yang tidak berkontribusi? Atau bahkan setelah dihubungi, mereka malah menghilang bak ditelan bumi? Padahal dengan adanya internet, gadget, group chat, Google Docs, dan kemudahan teknologi lainnya, berkomunikasi dan menyatukan isi pikiran dengan satu sama lain seharusnya menjadi sangat mudah, bukan?

Namun, tahukah kamu? Dulu pada tahun 1928 dimana belum ada internet, pemuda-pemuda dari berbagai kelompok dan daerah mampu bekerja sama dan merumuskan suatu ikrar yang sangat penting dan menjadi tonggak sejarah di Indonesia. Yups, mereka menciptakan Sumpah Pemuda tanpa bantuan teknologi, lho! Di tengah perbedaan latar belakang dan kondisi teknologi yang belum secanggih sekarang, mereka berhasil mempersatukan banyak kepala menjadi apa yang kita kenal sebagai “Satu Tanah Air, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia”.

Penasaran sama ceritanya? Yuk simak artikel di bawah ini!

Belum Ada Internet, Kok Bisa? Begini Cara Pemuda Antardaerah Satukan Perbedaan Lewat Sumpah Pemuda!
sumber: Wikimedia Commons

Pulau Berbeda Bukan Berarti Kubu-kubuan

Pada masa penjajahan Belanda, para pemuda di Indonesia terpecah menjadi sejumlah organisasi sesuai daerah mereka masing-masing. Ada Jong Java yang terdiri dari para pemuda asal Jawa, Sunda, Madura, dan Bali; Jong Sumatranen Bond yang berisi para pemuda dari Sumatra; Jong Celebes yang berisi para pemuda dari Sulawesi, dan masih banyak lagi. Kata “Jong” sendiri berasal dari Bahasa Belanda yang artinya “Muda”.

Organisasi-organisasi tersebut terbentuk bukan tanpa alasan. Saat itu, Budi Utomo yang menjadi organisasi pendidikan modern pertama dianggap terlalu elite dan kaku untuk para pelajar. Memang awalnya organisasi ini didirikan oleh mahasiswa STOVIA yang berjiwa muda, tetapi lama kelamaan, Budi Utomo mulai didominasi oleh golongan priyayi tua, pegawai pemerintah, dan bangsawan Jawa. Maka dari itu, Dr. Satiman Wirjosandjojo mendirikan Tri Koro Dharmo pada tahun 1915 yang menjadi cikal bakal Jong Java.

Para pendiri Jong Java (sumber: uin.jkt.ac.id)

Selain di pulau Jawa, keinginan untuk mendirikan organisasi kepemudaan juga terjadi di berbagai pulau Indonesia lainnya. Para pemuda di Sumatra, Sulawesi, Ambon, dan pulau lainnya merasa bahwa sekolah-sekolah tinggi seperti STOVIA, RHS, dan OSVIA berpusat di Pulau Jawa saja, sehingga akses terhadap pendidikan sangat terbatas. Lahirnya Jong Java akhirnya memotivasi para pemuda di pulau lain untuk mendirikan wadah pendidikan dan memajukan daerah mereka masing-masing tanpa campur tangan golongan tua.

Meskipun berbagai organisasi kepemudaan awalnya bersifat kedaerahan, lama-kelamaan para pemuda menyadari bahwa di tengah keberagaman pulau tempat mereka tinggal, mereka sedang menghadapi musuh yang sama, yaitu kolonialisme Belanda.

Proses Terciptanya Sumpah Pemuda

Pada 15 November 1925, diadakan pertemuan perdana para pemuda dari berbagai organisasi pemuda daerah di Batavia (Jakarta). Pertemuan ini dihadiri oleh para perwakilan organisasi kedaerahan yang bertujuan membentuk panitia penyelenggara Kerapatan Besar Pemuda untuk menyatukan visi nasional. Pada akhirnya, Mohammad Trabani dari Jong Java terpilih menjadi Ketua Kongres.

Kemudian, Kerapatan Besar Pemuda pertama (sekarang dikenal dengan nama Kongres Pemuda I) dilaksanakan dari tanggal 30 April sampai 2 Mei 1926. Melalui kongres ini, para pemuda membahas tentang bagaimana mereka harus menyingkirkan ego suku dan daerah demi semangat nasionalisme Indonesia, serta menuntut kesetaraan perempuan dalam memperoleh hak pendidikan dan peran dalam perjuangan bangsa.

Kongres Pemuda I (sumber: Gramedia)

Selain itu, ada momen paling krusial dalam kongres ini, dimana terdapat perdebatan mengenai bahasa nasional. Pada saat itu, Mohammad Yamin selaku salah satu peserta kongres mengusulkan agar bahasa nasional menggunakan Bahasa Melayu karena bahasa tersebut sudah akrab digunakan di Nusantara. Namun, Mohammad Tabrani menolak ide Mohammad Yamin karena Nusa dan Bangsa sudah bernama Indonesia, maka bahasa pun harus disebut sebagai “Bahasa Indonesia”, walaupun masih ada unsur Melayu di dalamnya. Alhasil, perdebatan tersebut tidak kunjung menemukan titik terang dan penetapan nama bahasa nasional ditunda untuk sementara waktu hingga kongres berikutnya.

Pada tanggal 27 sampai 28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II diselenggarakan di Batavia dan diprakarsai oleh PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia), sebuah organisasi yang berisi para pelajar STOVIA dan RHS. Kongres ini diketuai oleh Sugondo Djojopuspito dari PPPI. Berbeda dari kongres pertama yang panitianya didominasi oleh Jong Java, kongres kedua ini lebih diorganisasi dengan rapi dan panitianya disusun dari organisasi pemuda daerah yang beragam. Dalam kongres ini, para pemuda mendiskusikan tentang semangat dan pendidikan kebangsaan serta pentingnya gerakan kepanduan (scout) yang nantinya menjadi cikal bakal terbentuknya Pramuka.

Kongres Pemuda II (sumber: Kompas.com)

Selain itu, perdebatan mengenai nama bahasa nasional yang sebelumnya terjeda selama dua tahun akhirnya terpecahkan di kongres kali ini. Mohammad Yamin menyempurnakan konsepnya sehingga Bahasa Melayu secara resmi diberi identitas dan jiwa baru bernama “Bahasa Indonesia”.

Pada sesi ketiga yang dilaksanakan di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya No. 106 (rumah kos milik warga keturunan Tionghoa, Sie Kong Lian), sebelum kongres ditutup, W.R. Supratman meminta izin untuk membawakan lagu ciptaannya, “Indonesia Raya”. Sebenarnya, lirik lagu ini berisi semangat para rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, karena khawatir ada pengawasan dan pembubaran dari polisi intelijen Belanda, W.R. Supratman membawakan “Indonesia Raya” hanya dengan iringan biola tanpa syair. Lagu “Indonesia Raya” pun akhirnya menjadi lagu kebangsaan Indonesia seperti yang kita ketahui saat ini.

Di tengah suasana yang khidmat, Mohammad Yamin merumuskan ikrar Sumpah Pemuda pada selembar kertas, kemudian ditandatangani oleh Sugondo Djojopuspito. Terakhir, Sumpah Pemuda dibacakan oleh Sugondo Djojopuspito di hadapan seluruh peserta kongres, menandakan perjalanan baru para pemuda Indonesia yang berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu.

Satu untuk Semua

Berdasarkan kisah di atas, kita bisa belajar bahwa proses perumusan Sumpah Pemuda tidak sepenuhnya mudah. Ada banyak konflik yang terjadi, mulai dari sifat masing-masing organisasi yang masih kedaerahan sampai penamaan bahasa nasional yang dua tahun berada di jalan buntu. Namun, pada akhirnya semua konflik tersebut bisa diselesaikan karena para pemuda menyadari satu hal: mereka punya tujuan yang sama, yaitu Indonesia yang bersatu dan merdeka.

Perumusan Sumpah Pemuda sudah terjadi berpuluh-puluh tahun yang lalu, tetapi bagaimana dengan saat ini? Faktanya, di tengah kemudahan teknologi seperti Google Docs, group chat, video call, dan lain sebagainya yang memudahkan untuk berkomunikasi dan berkolaborasi, para pemuda justru lebih suka melaksanakan tugas-tugas secara individu dibandingkan berkelompok.

sumber: Unsplash

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sumiati Sungkono dari Universitas Singaperbangsa Karawang, hanya 2,6% (sangat setuju) hingga 23,1% (setuju) mahasiswa lebih menyukai tugas berkelompok, sementara sisanya lebih menyukai tugas individu. Menurut para responden, tugas berkelompok lebih menyusahkan karena pembagian kerja yang tidak adil, komunikasi yang terhambat, dan manajemen waktu yang rumit.

Ironisnya, saat perumusan Sumpah Pemuda dari tahun 1926 sampai 1928 dimana teknologi belum secanggih saat ini, para pemuda justru bisa mengkomunikasikan hambatan yang dihadapi hingga menciptakan sebuah peristiwa bersejarah.

Produk Rekomendasi Sunday

Maka dari itu, kita perlu memanfaatkan teknologi bukan sebagai alat untuk menjadi individualis dan melupakan kodrat kita sebagai makhluk sosial, melainkan sebagai alat untuk mempermudah komunikasi dan kolaborasi satu dengan yang lain. Layaknya para pemuda zaman dahulu, ketika kita sedang bekerja dengan orang lain, kita perlu menetapkan tujuan dan tanggung jawab yang sama antar anggota. Dengan demikian, semangat gotong royong yang diwarisi para leluhur kita dapat terus dilestarikan.

Sunners, kalau dirimu sendiri bagaimana? Apakah kamu tipe yang lebih suka mengerjakan tugas secara berkelompok atau secara individu, nih?

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 4