Penulis: Nyi Raden Fatimah Az Zahra S.N – SIS SJ
Apakah kamu suka membaca tapi tak tahu mulai dari mana? Untuk orang-orang yang suka buku-buku, media sosial sekarang jadi ruang penting untuk berkembangnya literasi digital dan budaya membaca. Dari sini, muncullah dua komunitas buku yang sangat popular, yaitu Booktok dan Bookstagram. Keduanya sama-sama berisi rekomendasi, ulasan, dan pengalaman membaca. Namun, meskipun kontennya mirip, cara setiap komunitas menyampaikan dan membahas buku-bukunya sangat berbeda.
Booktok, singkatan dari Buku TikTok, adalah komunitas pembaca di aplikasi TikTok yang membuat konten buku dalam bentuk video pendek-pendek. Kontennya biasanya berupa video ngeditan (seperti jedag-jedug), reaksi emosional atau dramatis, dan review-review singkat.
Jika kami membandingkan BookTok dan Bookstagram, kami memang bisa lihat bahwa Booktok memiliki dampak yang lebih besar bagi tren-tren buku. Laporan dari media seperti The New York Times dan Publisher’s Weekly menunjukkan bahwa beberapa buku tiba-tiba menjadi “bestseller” setelah viral di TikTok. Contohnya nih, It Ends With Us adalah salah satu buku yang penjualannya meningkat drastis bagi remaja-remaja setelah sering muncul di BookTok. Hal yang sama terjadi pada The Song of Achilles, yang kembali populer bertahun-tahun setelah rilis karena rame direkomendasikan di TikTok. Dari ini, kami bisa melihat bahwa BookTok sangat kuat dalam mempengaruhi minat baca, terutama di kalangan pelajar dan remaja.
Seperti dikatakan sebelumnya, BookTok bekerja lewat video pendek yang biasanya berisi kisah sedih atau emosional yang mengambil perhatian kami dengan cepat. Karena TikTok memakai algoritma berbasis engagement, video seperti ini bisa cepat menyebar walaupun akun pembuatannya kecil. Oleh karena itu, buku-buku yang memiliki trope lucu-lucu seperti enemies to lovers atau cerita cinta monyet seringkali viral. Namun, karena formatnya singkat, review di BookTok biasanya tidak terlalu detail. Kontennya malah lebih ke ekspresi seperti “wah, buku ini menyakiti hatiku” atau “enggak, enggak, enggak, jangan membaca buku ini.” Jarang sekali ada analisis cerita yang mendalam.
Sementara itu, Bookstagram di Instagram lebih fokus kepada estetik, visual, dan penjelasan yang rapi. Ini karena format Instagram memulai dari slideshow foto-foto (carousel), dan jika ingin “viral,” konten yang dibagi harus menarik perhatian dalam beberapa foto. Memang Instagram adalah platform yang mengutamakan visual konsisten dan menyenangkan. Selain foto, Bookstagram juga biasanya menyertakan caption atau video panjang yang berisi review lengkap. Disini, kreator konten bisa menjelaskan sinopsis, kelebihan, kekurangan, sampai opini pribadi tentang bukunya. Oleh karena itu, Bookstagram biasanya terasa lebih tenang dan cocok untuk pembaca yang ingin pertimbangkan pilihan buku-bukunya sebelum dibaca.
Dari segi buku yang sering muncul, Bookstagram terlihat lebih banyak menampilkan buku klasik seperti The Count of Monte Cristo atau Crime and Punishment. Ini karena buku klasik memiliki estetika dan visual yang cocok dengan konsep anggun atau “timeless” oleh komunitas pembaca. Mungkin ini bisa membantu remaja-remaja dan pelajar cari buku-buku yang berfungsi untuk mengajar.

Jika dilihat dengan jelas, BookTok dan Bookstagram sebenarnya punya fungsi yang berbeda. BookTok adalah tempat untuk mencari hal-hal yang viral, hype, atau populer karena cepat, emosional, dan bisa membuat satu buku viral dalam waktu yang singkat. Nah, kalau Bookstagram, lebih seperti tempat informasi karena lebih rapi, pelan, dan membantu pembaca memahami isi buku lebih dalam.
Walaupun keduanya memiliki dampak yang berbeda, BookTok dan Bookstagram bukan sekadar tempat pamer buku, tetapi bisa membantu remaja menemukan buku yang mereka suka. Sebagai seorang pecinta dan kreator konten buku, saya merasa bahwa kalau dua platform ini dipakai dengan benar, membaca buku bisa jadi lebih seru dan tidak terasa dipaksa. Kalau kamu ada kesusahan mencari buku yang pas bagimu, cobalah scrolling di BookTok atau Bookstagram. Siapa tahu kamu malah nemu buku yang bikin kamu mulai suka baca lagi atau baca mulu!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.