Skip to main content

Majalah Sunday

Red Room: Rasa Penasaran yang Hampir Membawa Celaka

Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia

Sebelum masuk ke cerita utama, ada baiknya mengingat satu hal terlebih dahulu. Internet itu seperti lautan luas. Ada banyak hal indah untuk dijelajahi, namun ada juga arus bawah yang kuat dan gelap. Inilah kisah dua remaja Indonesia yang nyaris gila karena informasi aneh yang muncul di tengah malam. Nama mereka adalah Jhofand Hartono dan Vivian Naoko. Dan disinilah semuanya dimulai. 

Ketika rasa penasaran menjadi bahaya

Jam menunjukkan pukul 01.30. Jhofand Hartono masih terjaga di kamar kecilnya. Cahaya biru dari ponselnya menyinari wajahnya yang lelah. Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul. Bukan dari media sosial atau aplikasi perpesanan standar. Itu adalah pesan yang masuk ke kotak masuk SMS-nya, sebuah kejadian yang jarang terjadi akhir-akhir ini.

Nomor pengirim tidak dikenali. Tidak ada nama dan tidak ada gambar profil. Itu hanya berisi satu baris dan tautan yang berbunyi, “Klik jika kamu berani,” dan Jhofand segera mengkliknya. Dia sangat penasaran. Namun dia teringat pesan dari pacarnya, Vivian Naoko, yang dikirim beberapa jam sebelumnya “Jangan pernah membuka tautan mencurigakan setelah tengah malam, Fand.  Aku serius.”.

Awalnya Jhofand tetap ingin mengklik link tersebut, namun dia ikat bahwa isu akun kena hack ataupun fishing di era media sosial sangat lah marak. Dia juga menemukan hal menarik dari pesan yang muncul, yaitu kata red room. Sebuah kata yang tidak asing baginya, yang sudah lama berada di dunia internet.

Red Room: Rasa Penasaran yang Hampir Membawa Celaka
Image Source: pexels.com

Red room antara Fakta, Hoax dan Ketakutan

Jhofand kemudian memilih untuk tidak mengklik. Sebaliknya, dia menghabiskan sepanjang malam untuk meneliti tentang red room. Ia mengetahui bahwa istilah ini telah digunakan sejak awal tahun 2000-an. Narasinya tetap tidak berubah, ruang merah di web gelap tempat individu dapat menggunakan mata uang kripto untuk menyaksikan penyiksaan dan pembunuhan secara langsung. Bahkan beberapa versi yang lebih sadis memungkinkan penonton untuk memutuskan tindakan apa yang akan diambil terhadap korbannya.

Namun, semakin dalam Jhofand mencari, semakin dia menyadari bahwa tidak pernah ada bukti nyata. Banyak peneliti keamanan siber mencatat bahwa jaringan Tor, yang digunakan untuk mengakses web gelap, terkenal lambat. Secara teknis hampir tidak mungkin untuk menjalankan siaran langsung video berkualitas tinggi secara real-time di jaringan tersebut. Sebagian besar situs web yang mengaku sebagai red room sebenarnya adalah penipuan yang dirancang untuk mencuri mata uang kripto atau menyebarkan malware.

Lalu mengapa cerita ini tidak pernah hilang? Karena manusia tertarik pada misteri, dan internet adalah tempat yang tepat untuk menyebarkan urban legend. Selain itu, ada versi Jepang. Alih-alih siaran pembunuhan, ini justru merupakan kutukan berupa pop-up merah tiba-tiba muncul di layar komputer menanyakan, “Apakah kamu suka red room?” Mereka yang melihatnya konon akan menemui nasib buruk. Kisah ini menjadi populer di forum-forum Jepang pada akhir tahun 1990-an dan masih sering menjadi topik diskusi hingga saat ini.

Red Room: Rasa Penasaran yang Hampir Membawa Celaka
Image Source: pexels.com

Rasa Penasaran Menjadi Bencana Jhofand dan Vivian

Jhofand merasa lega. Ia menyadari bahwa Ruang Merah yang ia takuti mungkin hanya tipuan. Namun kelegaan itu hanya berlangsung sebentar. Keesokan harinya, Vivian tiba di rumahnya dengan penampilan sangat pucat.

“Fand, tolongin gw. Jadi gw nggak sengaja mengklik link yang dikirimkan ke SMS lu tadi malam” kata Vivian panik.

Jhofand tercengang. “Lah? Kan kata lu jangan asal klik, kok malah lu yang lakuin?”

“Gw penasaran,” jawab Vivian. “Tautannya mengarah ke halaman dengan latar belakang merah. Ada pemutar video, tapi layarnya hitam. Kemudian sebuah suara, yang terdengar seperti suara anak-anak, membisikkan alamat rumah gw”.

Sejak malam itu, kehidupan Vivian berubah. Setiap pagi jam 3 pagi, ponselnya berdering sendiri. Setiap kali berdering, layar berkedip merah sebentar. Vivian mulai sulit tidur. Ia sering mendengar ketukan di jendela kamarnya, padahal kamarnya berada di lantai tiga. Jhofand berusaha membantunya dengan memeriksa apakah ada orang lain yang mengalami situasi serupa.

Mereka menemukan sebuah forum kecil yang membicarakan tentang “versi lain” dari red room. Bukan yang ada di dark web, tapi yang menyebar melalui link biasa. Sebuah postingan yang sudah sangat lawas, menjelaskan bahwa jika mengklik link itu maka si pengeklik terdaftar dan akan menjadi tontonan bagi mereka. Namun hal ini belum terbukti, karena red room sendiri masih diperdebatkan

Red Room: Rasa Penasaran yang Hampir Membawa Celaka
Image Source: pexels.com

Sebuah Misteri yang Lebih Baik Tidak Diketahui

Vivian akhirnya memutuskan untuk mengganti nomor ponselnya dan menghindari penggunaan perangkat digital apapun selama seminggu penuh. Lambat laun, gangguan tersebut mulai mereda. Namun, dia tidak pernah bisa tidur nyenyak dalam kegelapan lagi. Jhofand mendapat pelajaran paling penting yaitu rasa ingin tahu bisa menjadi berkah sekaligus kutukan. Di satu sisi, hal itu menuntunnya untuk mengetahui bahwa red room masih menjadi misteri. Di sisi lain, keingintahuan yang sama hampir membuat Vivian ketakutan yang tidak bisa dijelaskan oleh sains.

Apakah red room itu benar-benar nyata? Jika klaim tersebut mengacu pada pembunuhan interaktif yang disiarkan di web gelap, saat ini tidak ada bukti yang membuktikannya. Namun jika yang kamu maksud adalah kekuatan urban legend yang mampu mengubah hidup seseorang menjadi mimpi buruk hanya dengan satu klik, maka jawabannya adalah ya. 

Sunners dan remaja Indonesia, ingatlah bahwa tidak semua misteri perlu dipecahkan. Jika suatu malam kamu menemukan tautan aneh dengan latar belakang merah, ingatlah kisah Jhofand dan Vivian. Meskipun rasa ingin tahu adalah hal penting, ketenangan tidur mu jauh lebih berharga.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental, Mengapa Menunda Belajar Sering Terjadi, Padahal Kita Sudah Paham Materinya

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 9