Majalah Sunday

Rumah Panggung: Tradisi Mengangkat Rumah di Indonesia

Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya

Sunners, kalian tahu gak sih kalau di Indonesia itu ada tradisi mengangkat rumah? Hal ini biasa dikenal di daerah tertentu yaitu di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Rumah yang diangkat ini merupakan rumah panggung, kira-kira seperti apa tradisinya ya? Yuk cari tahu!

https://majalahsunday.com/rumah-panggung-tradisi-mengangkat-rumah-di-indonesia/

Asal-Usul Rumah Panggung Bagaimana Sih?

Rumah panggung merupakan salah satu rumah tradisional yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi Selatan. Rumahnya berbentuk persegi empat tetapi memanjang ke belakang. Konsep mengenai rumah panggung ini berasal dari pandangan hidup masyarakat suku Bugis pada saat itu mengenai alam semesta secara universal.

Kemudian, pandangan mereka juga mempunyai istilah sulapa ‘eppa yang berarti persegi empat adalah sebuah pandangan yang terdapat empat sisi yang bertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia. Rumah yang sempurna bagi mereka dapat dikatakan sebagai bola ‘genne yang berarti empat kesempurnaan.

Gambaran tradisi mengangkat rumah panggung di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

Perbedaan Tradisi Angkat Rumah di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat Apa?

Tradisi angkat rumah ini biasa dikenal di daerah Bugis, Sulawesi Selatan dan Bima serta Sumba, Nusa Tenggara Barat. Diketahui melalui detikProperti bahwa terdapat 4 tradisi mengangkat rumah dari berbagai kabupaten yaitu sebagai berikut:

Hanta Uma Adat atau Uma Panggung di Dompu, Nusa Tenggara Barat

Di daerah Dompu, dapat dikenal dengan Hanta Uma Adat atau Uma Panggung. Dalam bahasa Dompu, Hanta adalah mengangkat dan Uma adalah rumah. Jika disambung, Hanta Uma berarti mengangkat rumah. Rumah yang diangkat juga bukan sembarang rumah tapi Uma Panggung atau rumah kayu. Dalam tradisi ini dapat dilakukan dengan gotong royong, membutuhkan sekitar berapa puluh orang untuk mengangkat rumah ini.

Namun untuk melakukan tradisi ini, nggak bisa dilakukan dengan sembarangan. Harus ada panggita atau ahli khusus untuk mengarahkan agar posisi rumah yang diangkat nggak miring ataupun ditaruh di tempat yang salah. Diangkat rumahnya juga dari kayu panjang yang yang telah diikat ke tiang rumah. Pemberitahuan untuk tradisi ini biasa diberitahukan melalui toa masjid, kemudian warga-warga berbondong ke rumah yang ingin dipindahkan. Setelah mereka selesai memindahkan rumah, akan diakhiri dengan makan bersama yang telah disiapkan oleh pemilik rumah.

Masoppo Bola di Bone, Sulawesi Selatan

Masoppo Bola juga merupakan tradisi mengangkat rumah. Untuk tata caranya kurang lebih sama seperti Hanta Uma, yaitu mengangkat rumah dari kayu panjang dan dapat dilakukan secara gotong royong. Tetapi di Bone, tradisi ini biasanya dilakukan di hari Jumat dan mengangkat rumah ini bisa dilakukan setelah salat Jumat. Sebelum mengangkat rumah ini, para warga makan bersama terlebih dahulu yang bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi dan menambah kekuatan. Pemilik rumah juga ingin mengangkat rumahnya dengan alasan rumahnya udah terjual atau ada salah satu anggota keluarga yang ingin pindah ke tempat tersebut.

Marakka’ Bola di Barru, Sulawesi Selatan

Marakka’ Bola adalah tradisi angkat rumah lainnya, untuk pemindahan rumah dapat disampaikan melalui pengumuman yang disampaikan masjid dan warga-warga akan datang untuk membantu. Berbeda dengan tradisi mengangkat rumah lainnya, disini menggunakan bambu sebagai alat bantu mengangkat rumah. Jadi bambu ini diikat ke tiang-tiang rumah, kemudian di panggul bambunya karena pindahan ini berjarak agak jauh. Setelah selesai pindahan rumah, akan diadakan syukuran atau Baca Barazanji yang bertujuan untuk mendoakan rumahnya terhindar dari bencana dan malapetaka. Lalu, diakhiri dengan makan bersama bersama warga sebagai ucapan terima kasih karena udah bantu pindahan.

Merawale di Minahasa, Sulawesi Utara

Terakhir, ada Merawale yang merupakan tradisi mengangkat rumah juga. Biasanya mau pindah karena ingin membuka warung sehingga membutuhkan wilayah yang strategis untuk jualan. Untuk tata cara dan tradisinya sama, pindahan dapat dibantu oleh warga sekitar dan ada yang mengarahkan pada saat diangkat rumahnya. Tetapi mereka akan berhenti setiap 2-5 meter agar gak gampang lelah. Kemudian, tradisi ini dapat diakhiri juga dengan makan-makan bersama yang diselenggarakan oleh pemilik rumah tersebut.

Gambaran rumah panggung di Nusa Tenggara Barat. (Pict by detikBali)

Rumah panggung bukan hanya rumah tradisional biasa tetapi rumah tersebut juga dijadikan sebagai tempat hunian yang berpengaruh untuk di daerah setempat. Dengan adanya desain rumah yang tinggi dan jauh dari tanah, rumah tersebut dapat melindungi para penghuni dari berbagai macam musibah. Keberadaan Rumah Panggung ini dapat meningkatkan gotong royong dan tali silaturahmi warga sehingga kita bisa pelajari demi menjaga tradisi tersebut dengan baik.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1