Penulis: Alvita Marsandraputri – Universitas Airlangga

Hi, Sunners! Selama kamu bersekolah, tentunya kamu mempelajari sejarah Indonesia. Beberapa peristiwa yang biasanya muncul di buku pelajaran adalah penjajahan berbagai negara terhadap Indonesia, proklamasi kemerdekaan, peristiwa G30S/PKI, dan lain-lain.
Ketika mau ulangan sejarah, biasanya apa yang kamu lakukan? Tentunya kamu harus menghafal peristiwa-peristiwa bersejarah beserta detailnya, seperti tanggal, tokoh-tokoh penting, dan alur dari peristiwa tersebut. Namun, ketika kamu menghafal semua detail tersebut, apakah kamu benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dampaknya untuk rakyat Indonesia saat ini? Padahal, sejarah tercipta tidak hanya untuk dihafal, tetapi untuk dipahami maknanya agar kita dapat menganalisis sebab-akibat, mengambil hikmahnya, dan menghindari pengulangan kesalahan di masa lalu.
Untuk mendalami sejarah Indonesia dan menikmati masa lalu, kamu bisa menggunakan “mesin waktu” yang seru, indah, dan penuh emosi dalam bentuk novel. Melalui novel, kamu dapat melintasi lorong waktu dan menempatkan dirimu untuk merasakan ketegangan, romansa, hingga seluk-beluk politik dengan cara yang menyenangkan.
Bingung mau mulai dari mana? Berikut ini rekomendasi 3 novel sejarah terbaik yang bisa kamu baca!

Jika Sunners mencari novel yang menjadi standar emas sastra Indonesia, Bumi Manusia adalah jawabannya. Novel ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1969 yang pada saat itu sedang mendekam di pengasingan Pulau Buru akibat konflik politis dan ideologis pasca-peristiwa G30S/PKI tahun 1965.
Bumi Manusia mengambil latar abad ke-19 dimana Indonesia masih dalam masa kolonialisme Belanda. Melalui penglihatan seorang pemuda Jawa bernama Minke, pembaca diajak menyaksikan tajamnya ketimpangan sosial dan hukum antara kaum pribumi dan bangsa Eropa. Alur cerita novel ini juga digerakkan secara emosional melalui kisah hubungan Minke dengan Annelies Mellema, seorang gadis peranakan Indo-Belanda, serta kekaguman Minke terhadap ibu mertuanya yang tangguh, Nyai Ontosoroh.
Bukan hanya sekadar novel roman biasa, Bumi Manusia juga menunjukkan perlawanan, seruan mengenai pentingnya keadilan hukum, dan bagaimana pendidikan serta tulisan bisa menjadi senjata paling mematikan untuk meruntuhkan tembok kesombongan para penjajah.

Membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk akan membawa Sunners bertualang ke sebuah desa fiktif yang terisolasi dari daerah lain bernama Dukuh Paruk. Novel ini berpusat pada kehidupan Srintil, seorang gadis desa yang terpilih menjadi ronggeng (penari tradisional) yang sangat dikagumi. Srintil mengira profesinya menjadi ronggeng merupakan puncak kesuksesan dalam hidupnya.
Namun, keindahan tarian Srintil perlahan goyah ketika badai politik tahun 1965 menghantam Indonesia. Masyarakat desa Dukuh Paruk yang buta politik pun terlindas oleh konflik ideologis yang sama sekali tidak mereka pahami. Dukuh Paruk berubah dari surga kecil menjadi neraka penuh air mata.
Melalui gaya bahasa yang puitis dan jujur, Ahmad Tohari berhasil memotret bagaimana masyarakat desa adat yang polos menjadi korban di tengahnya pergolakan politik bangsa melalui kemiskinan dan eksploitasi terhadap perempuan. Novel ini mengajak pembaca untuk merenung tentang bagaimana suatu konflik sangat memengaruhi sisi kemanusiaan bangsa.

Melompat ke era sejarah yang lebih modern, Laut Bercerita adalah sebuah karya yang berhasil menghidupkan kembali memori kelam menuju runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998.
Novel ini terbagi menjadi dua sudut pandang yang begitu menyayat hati. Pada bagian pertama terdapat kisah Biru Laut, seorang mahasiswa yang disiksa dan disekap di sebuah tempat penculikan rahasia bersama teman-teman seperjuangannya ketika berusaha menyuarakan keadilan. Lalu bagian kedua dikisahkan oleh adik perempuan Laut, Asmara Jati, yang menggambarkan betapa pedihnya keluarga para aktivis korban penculikan yang terus menuntut keadilan dan berusaha mencari kejelasan di tengah ketidakpastian.
Setelah melalui riset yang mendalam berdasarkan kisah nyata para saksi sejarah, Laut Bercerita menjadi pengingat yang sangat kuat bagi generasi muda saat ini bahwa kebebasan berpendapat yang kita nikmati sekarang merupakan hasil dari darah, air mata, dan nyawa para pahlawan reformasi yang tidak pernah kembali.
Membaca novel sejarah dan menggali kembali peristiwa masa lalu pada akhirnya menyadarkan kita bahwa sejarah Indonesia sangatlah kaya, kompleks, dan terlalu berharga jika hanya dijadikan hafalan sesaat di sekolah. Melalui mahakarya seperti ketiga novel di atas dan masih banyak novel sejarah lainnya, kita diajak untuk melihat sejarah Indonesia melalui kacamata yang lebih manusiawi dengan merasakan langsung berbagai konflik dan idealisme yang membentuk bangsa Indonesia hingga saat ini. Dengan membaca novel sejarah, kita tidak hanya menghafal tanggal peristiwa dan nama-nama pahlawan untuk ujian, tetapi juga menghidupkan kembali semangat juang dan pemikiran kritis para pahlawan dalam kepala kita.
Jadi, dari ketiga novel rekomendasi di atas, mana nih yang paling bikin Sunners penasaran? Atau mungkin, sudah ada novel yang jadi buku favoritmu? Yuk, buktikan bahwa generasi muda tidak akan melupakan sejarah melalui kekuatan literasi!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.