Penulis: Amour Glorya Stefani Uas – Universitas Bunda Mulia
Pernah nggak, Sunners, merasa lebih mudah mengungkapkan perasaan lewat chat dari pada mengatakannya langsung kepada orang tua atau keluarga? Padahal, ucapan sederhana seperti “terima kasih”, “maaf”, atau “aku bangga sama kalian” sering kali terasa lebih bermakna ketika disampaikan secara langsung.
Di tengah kehidupan yang semakin sibuk dan serba digital, masyarakat Batak telah lama memiliki tradisi yang memberi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk berbicara dari hati ke hati. Tradisi yang dikenal sebagai Mandok Hata ini bukan sekadar momen saling menyampaikan pesan, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar bersyukur, meminta maaf, mendengarkan, hingga menumbuhkan keberanian berbicara sejak usia dini.

Di balik namanya yang sederhana, Mandok Hata merupakan salah satu tradisi lisan masyarakat Batak, khususnya Batak Toba, yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi ruang bagi setiap anggota keluarga untuk berbicara dari hati ke hati, menyampaikan perasaan, harapan, hingga refleksi diri dalam suasana yang penuh kebersamaan.
Secara bahasa, mandok berarti mengucapkan atau menyampaikan, sedangkan hata berarti kata atau ucapan. Karena itu, Mandok Hata secara harfiah dimaknai sebagai “mengucapkan kata”. Namun, bagi masyarakat Batak, maknanya jauh lebih dalam karena tradisi ini menjadi sarana membangun komunikasi yang jujur dan saling menghargai di dalam keluarga.
Dalam pelaksanaannya, setiap anggota keluarga mendapat kesempatan berbicara secara bergantian, biasanya dimulai dari yang paling muda hingga kepala keluarga. Mereka dapat mengungkapkan rasa syukur, meminta maaf, menyampaikan harapan, maupun berbagi pelajaran yang diperoleh selama setahun terakhir. Meski sering dilakukan saat malam pergantian tahun, sebagian keluarga Batak juga melaksanakan Mandok Hata pada momen lain seperti Natal, syukuran, pesta adat, atau reuni keluarga.

Tradisi ini mengajarkan bahwa komunikasi bukan hanya tentang menyampaikan pendapat, tetapi juga tentang mendengarkan, menghargai, dan menjaga hubungan dengan orang-orang terdekat.
Dalam prosesi Mandok Hata, setiap anggota keluarga biasanya mengungkapkan rasa syukur, meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan, serta menyampaikan harapan untuk masa depan. Momen ini menjadi ruang refleksi bersama, di mana setiap orang diajak jujur terhadap diri sendiri sekaligus berani mengungkapkan isi hati kepada keluarga. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan filosofi masyarakat Batak yang menjunjung tinggi rasa hormat, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam keluarga.
Semangat itu juga berkaitan dengan falsafah hidup masyarakat Batak, seperti Dalihan Na Tolu, yang menekankan pentingnya menjaga hubungan antar keluarga melalui sikap saling menghormati dan saling mendukung. Meski Mandok Hata bukan bagian langsung dari struktur adat tersebut, tradisi ini menjadi salah satu cara untuk menerapkan nilai-nilai itu dalam kehidupan sehari-hari. Karena itulah, Mandok Hata tidak hanya dipandang sebagai sebuah tradisi, tetapi juga sebagai media untuk memperkuat ikatan keluarga dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Meski setiap keluarga memiliki cara yang sedikit berbeda, pelaksanaan Mandok Hata umumnya mengikuti urutan yang sama. Tradisi ini biasanya diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur, kemudian setiap anggota keluarga mendapat giliran berbicara secara bergantian, dimulai dari anak yang paling muda hingga kepala keluarga. Tidak ada yang boleh memotong pembicaraan karena setiap orang diberikan kesempatan yang sama untuk menyampaikan isi hatinya.
Saat mendapat giliran, setiap anggota keluarga bebas menyampaikan apa yang ingin diungkapkan. Ada yang mengucapkan terima kasih kepada orang tua, meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan, menceritakan pelajaran hidup yang diperoleh selama setahun terakhir, hingga menyampaikan doa dan harapan untuk masa depan. Setelah seluruh anggota keluarga selesai berbicara, kepala keluarga biasanya memberikan nasihat dan menutup prosesi dengan doa bersama.
Walaupun paling sering dilakukan pada malam pergantian tahun, Mandok Hata juga dapat menjadi bagian dari perayaan Natal, pesta adat, syukuran, maupun reuni keluarga. Bagi masyarakat Batak, yang paling penting bukan kapan tradisi ini dilaksanakan, melainkan kesempatan untuk berkumpul dan membangun komunikasi yang lebih terbuka di dalam keluarga

Di balik suasana hangat yang tercipta dalam Mandok Hata, ada satu nilai yang mungkin tidak banyak disadari, yaitu keberanian untuk berbicara di depan orang lain. Dalam tradisi ini, setiap anggota keluarga, termasuk anak-anak, mendapat kesempatan yang sama untuk menyampaikan isi hati, rasa syukur, maupun harapan mereka. Kesempatan berbicara secara bergantian inilah yang secara tidak langsung melatih rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi sejak usia dini.
Hal tersebut juga pernah diceritakan oleh presenter Choky Sitohang dalam perbincangannya bersama Gofar Hilman di Podcast PWK. Choky mengungkapkan bahwa dirinya mulai mengikuti Mandok Hata sejak berusia sekitar lima tahun. Menurutnya, tradisi tersebut membuat setiap anggota keluarga memiliki kesempatan untuk berbicara di depan keluarga besar setidaknya minimal 3 kali dalam setahun. Pengalaman itulah yang ia rasakan ikut membangun keberanian berbicara di depan umum, yang kemudian menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya sebagai seorang pembawa acara.
Meski pengalaman setiap orang tentu berbeda, kisah Choky menunjukkan bahwa sebuah tradisi keluarga dapat menjadi ruang belajar yang bermakna. Anak-anak tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga belajar memilih kata-kata yang baik, mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian, serta menghargai setiap giliran berbicara. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari keterampilan hidup (life skills) yang tetap dibutuhkan hingga sekarang, baik di lingkungan sekolah, perkuliahan, maupun dunia kerja.
Di tengah dunia yang serba digital, Mandok Hata mengingatkan bahwa komunikasi tidak hanya soal bertukar pesan, tetapi juga tentang keberanian untuk menyampaikan isi hati, mendengarkan dengan tulus, dan menghargai orang-orang terdekat. Nilai-nilai tersebut tetap penting di tengah perubahan cara manusia berkomunikasi, bahkan menjadi bekal yang dibutuhkan untuk membangun hubungan yang sehat.
Nilai-nilai inilah yang membuat tradisi tersebut tetap relevan hingga sekarang. Sunners, yuk mulai mengambil pelajaran dari Mandok Hata dengan meluangkan waktu berbicara lebih terbuka bersama keluarga. Siapa tahu, ucapan sederhana seperti “terima kasih”, “maaf”, atau “aku bangga sama kalian” bisa menjadi awal dari hubungan yang semakin hangat.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.