Majalah Sunday

Sebuah Cerpen: Yang Sakit di Sini Siapa?

Penulis: Lubna Apdria Kwuaysa- SMK Negeri 48

Ini awalan cerita dari si sakit

Suara tetesan infus di ruang rawat inap di Rumah Sakit itu sebenernya tenang banget. Bau obat yang menyengat juga khas banget. Ditambah lagi, AC yang dinginnya mirip di kutub utara bikin suasana makin syahdu.

 Imam yang baru dua hari pasca-operasi usus buntu cuma bisa rebahan lemes sambil meratapi nasibnya yang gak bisa bebas bergerak. Perutnya masih rada linu, dan dia bener-bener bosen setengah mati. 

Selanjutnya, keheningan yang hakiki itu mendadak hancur berkeping-keping pas pintu kamar rawatnya digebrak tanpa perasaan. Tiga sesosok manusia dengan komplotan muka tanpa dosa langsung masuk tanpa permisi. Mereka adalah Adi, Rizki, dan Jajang.

“Wassup, Mam! Gimana usus lo, udah dipotong jadi sosis belum?” teriak Adi dengan volume suara yang sama sekali gak mencerminkan etika rumah sakit.

Imam langsung menghela napas panjang, menatap tiga temannya dengan pandangan pasrah. Meskipun tahu temen-temennya gesrek, dia gak nyangka kalau mereka bakal seheboh ini pas menjenguk orang sakit. 

Satu teman gesrek mulai bertingkah

Kemudian, Rizki langsung menaruh sebuah kantong plastik kresek besar di atas meja nakas tepat di samping kasur Imam. Bau gurih yang sangat familiar mendadak menguar di udara, membuat hidung Imam yang sudah berhari-hari cuma menghirup aroma bubur hambar langsung sensitif.

“Gue tahu lo kesepian, Mam. Makanya, nih, gue bawain amunisi terbaik!” kata Rizki sambil mengeluarkan tiga cup Pop Mie rasa soto ayam dari dalam plastik.

“Eh, begajulan! Mata lo buta? Gue baru abis operasi usus buntu, Ki! Lo mau bikin jahitan perut gue jebol lagi gara-gara makan mie instan?!” semprot Imam, langsung ngegas meskipun suaranya masih agak serak.

Namun, Rizki cuma nyengir kuda tanpa rasa bersalah sama sekali. Dia dengan santainya mulai menuangkan air panas dari dispenser rumah sakit ke dalam cup-cup tersebut. 

“Santai, Mam, jangan emosi dulu. Lagian, siapa juga yang mau ngasih ini buat lo? Ini tuh dibeli buat dimakan bareng-bareng di sini biar makin seru. Ini Pop Mie buat gue, ini buat Adi, dan ini buat Jajang. Jadi, intinya ini buat kita bertiga, kecuali lo,” jelas Rizki dengan wajah super lempeng.

Imam mengira bahwa teman-temannya akan menjenguknya yang sakit dengan normal, tapi kenyataannya memutarbalikkan ekspetasinya.
Art By : Lubna Apdria Kuwaysa

Logika aneh, tapi berakhir jadi pengertian

Mendengar penjelasan Rizki, Imam langsung melongo. Dia merasa tingkat kegeerannya tadi langsung anjlok ke inti bumi. Dia kira Rizki beneran sekocak itu membawakan makanan terlarang untuknya. 

Meskipun demikian, Imam tetep ngerasa agak tersentuh pas Rizki tiba-tiba mengeluarkan satu kotak bubur bayi instan rasa pisang dari saku jaketnya. “Nah, kalau yang ini baru khusus buat lo, Mam. Biar perut lo yang abis sakit itu aman tenteram,” tambah Rizki sambil menepuk bahu Imam. 

Imam yang tadinya mau ngamuk, mendadak jadi geer lagi dan cuma bisa mendengus sambil menahan senyum.

Setelah itu, ada masalah baru lagi dari teman si sakit

Sementara itu, Adi malah sudah mengambil posisi paling nyaman di sofa penunggu pasien. Dia menyilangkan kakinya, mengeluarkan ponsel, dan langsung membuka sebuah aplikasi yang sangat familiar.

 Suara “Welcome to Mobile Legends!” menggema keras di dalam ruangan. Setelah itu, Adi langsung menatap Imam dengan mata yang berbinar-binar penuh ambisi.

“Mam, ayolah. Lo kan cuma sakit perut, tangan lo kan gak ikutan dioperasi. Ayo kita mabar, mumpung dapet Wi-Fi rumah sakit yang kenceng parah ini!” ajak Adi tanpa beban moral.

“Adi yang terhormat, gue ini masih lemes, tangan gue juga masih ketancep jarum infus!” balas Imam sambil mengangkat tangannya yang diperban.

“Halah, alasan klasik. Kemarin aja lo main sambil tidur bisa. Ayo cepetan login, gue lagi lose streak parah nih, butuh gendongan tank handal kayak lo,” paksa Adi lagi. Dia tidak peduli kalau Imam beneran butuh istirahat. Dia tidak peduli kalau suster bisa datang kapan saja. Dia tidak peduli kalau mereka bisa diusir dari rumah sakit ini.

Imam akhirnya cuma bisa pasrah dan meraih ponselnya dengan tangan yang bebas infus. Pada akhirnya, dia ikutan login demi menyelamatkan bintang rank temannya yang ambyar itu. Mereka berempat langsung sibuk teriak-teriak muter-muter di Land of Dawn  tanpa memedulikan sekitar.

Imam mengira bahwa teman-temannya akan menjenguknya yang sakit dengan normal, tapi kenyataannya memutarbalikkan ekspetasinya.
Art By : Lubna Apdria Kuwaysa

Perhatian sih perhatian, tapi dilihat dulu dong barangnya!

Di saat Adi dan Rizki sibuk dengan urusan duniawi mereka masing-masing, Jajang dari tadi cuma diam memperhatikan. Dia kelihatan sibuk membongkar tas ranselnya yang berukuran jumbo. 

Lalu, dengan wajah yang luar biasa serius, Jajang mengeluarkan sebuah benda kain yang sangat tebal dan berwarna merah muda menyala dari dalam tasnya.

“Mam, gue liat lo dari tadi agak menggigil gitu. Rumah sakit kalau AC-nya malam-malam pasti makin berasa kayak di kutub. Makanya, gue bawain ini dari rumah,” kata Jajang dengan tulus sambil membentangkan benda tersebut.

Imam langsung menghentikan jemarinya di layar HP. 

Adi dan Rizki juga refleks menengok ke arah Jajang. Detik berikutnya, tawa Adi dan Rizki langsung meledak hebat sampai hampir tersedak Pop Mie yang sedang mereka seruput. Benda yang dibawa Jajang ternyata adalah sebuah selimut tebal bermotif My Little Pony lengkap dengan gambar karakter yang sedang tersenyum lebar.

“Jajang, demi apa lo bawain gue selimut ginian?! Gue cowok tulen, Jajang!” protes Imam sambil menutupi mukanya yang mendadak memerah karena malu. 

Bagaimanapun juga, dia gak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya yang satu ini.

“Udah, gak usah banyak protes, yang penting lo gak kedinginan pas lagi sakit. Ini selimut kesayangan adek gue, anget banget tau!” bales Jajang sambil dengan telaten menyelimuti kaki Imam pakai selimut pink mencolok tersebut.

Imam mengira bahwa teman-temannya akan menjenguknya yang sakit dengan normal, tapi kenyataannya memutarbalikkan ekspetasinya.
Art By : Lubna Apdria Kuwaysa

Kesimpulannya adalah...

Pada dasarnya, kelakuan tiga temannya ini bener-bener di luar nalar sehat manusia normal. Ada yang makan Pop Mie dengan aroma menggoda iman di depan orang puasa pasca-operasi. Ada yang memaksa pasien infus buat mabar game kompetitif demi menaikkan rank. Ada juga yang menyelimuti cowok kuliahan pakai karakter kartun kuda poni warna pink. 

Meskipun kamar rawat itu jadi super berisik dan kacau, Imam diam-diam merasa sangat bersyukur. Di balik segala keabsurdan dan kelakuan tanpa akhlak mereka, Imam tahu kalau ini adalah cara unik mereka untuk menghibur dirinya yang sedang sakit. Persahabatan mereka emang gak ada yang normal, tapi justru kekacauan inilah yang bikin Imam ngerasa cepat sembuh.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 5