Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Sunners, pernah dengar alat musik tradisional bernama Gambus? Gambus adalah alat musik petik khas Melayu. Gambus masuk ke Nusantara lewat jalur perdagangan antara pedagang Timur Tengah dan masyarakat Melayu, dan sudah berkembang di wilayah pesisir Riau sejak berabad-abad lalu. Alat musik ini bukan sekadar hiburan, ia membawa nilai budaya, spiritual, dan sosial yang masih hidup sampai sekarang, terutama di Riau dan Jambi. Yuk, simak pembahasan tentang alat musik tradisional ini!

Gambus mulai dikenal masyarakat Melayu di wilayah pesisir bersamaan dengan datangnya para pedagang dari Timur Tengah pada abad ke-7 hingga ke-15. Catatan sejarah dari Tiongkok menyebut Islam masuk ke Nusantara sejak tahun 700 Masehi. Para pedagang Arab yang melewati Selat Malaka tidak hanya berdagang, tetapi juga menyebarkan Islam dan memperkenalkan kebudayaan mereka, termasuk musik.
Menurut Rio Eka Putra dalam jurnal Fungsi Sosial Ansambel Musik Gambus dalam Kehidupan Masyarakat Riau (2016), gambus adalah hasil kontak budaya Melayu dengan Islam melalui instrumen Arab bernama al-‘ud, sehingga awalnya disebut Gambus Melayu Riau. Pusat perkembangannya ada di Pulau Bengkalis, Pulau Penyengat, dan Siak Sri Indrapura.
Terkait asal-usul persisnya, ada beberapa teori yang berkembang, yaitu:
Gambus sekilas mirip gitar atau mandolin karena sama-sama berdawai dan dimainkan dengan cara dipetik. Perbedaanya terdapat di bagian tubuhnya, gambus berbentuk lonjong atau oval, dan bagian lubang resonatornya ditutup menggunakan kulit kambing atau kulit ikan pari, bukan kayu seperti gitar pada umumnya. Dari sini muncul karakter suara gambus yang khas, yaitu hangat dan kental nuansa Timur Tengah.
Jumlah senarnya bervariasi, antara 3 sampai 12 senar, dapat berupa senar tunggal maupun senar ganda. Dalam klasifikasi organologi Hornbostel-Sachs, gambus masuk kategori chordophone (alat musik yang berbunyi dari getaran dawai), subkategori plucked lute karena dimainkan dengan dipetik. Gambus Melayu Riau sedikit berbeda dengan gambus dari Arab. Gambus Arab bentuknya lebih membulat, sementara gambus Melayu lebih lonjong. Hal ini dipengaruhi oleh hasil adaptasi masyarakat setempat.

Dalam musik Melayu, gambus dikenal dalam beberapa varian, yaitu:
Gambus dimainkan dengan cara dipetik menggunakan alat pemetik (plectrum) yang dulu terbuat dari tanduk atau bulu burung, dan sekarang sudah banyak yang menggunakan plastik atau pick gitar biasa. Tangan kanan bertugas memetik, sementara jari tangan kiri menekan dawai di leher gambus untuk mengatur nada.
Hal yang unik dari tradisi bermain gambus Melayu Riau adalah sifatnya yang spontan. Dulu, gambus dimainkan sendiri tanpa persiapan khusus, hanya mengikuti suasana dan perasaan si pemain. Dapat sambil menyanyikan syair Islami sebagai hiburan pribadi di rumah, atau syair bertema asmara dan kehidupan sehari-hari saat di atas perahu.
Gaya bermain gambus Arab dan Melayu juga berbeda. Gambus Arab lebih banyak improvisasi dan ornamentasi dalam gaya khas Arab yang kaya. Sementara gambus Melayu cenderung lebih lembut dan mengikuti melodi pokok dengan penyesuaian masyarakat lokal.
Gambus adalah salah satu contoh nyata bagaimana budaya luar bisa masuk, beradaptasi, dan akhirnya menjadi bagian dari identitas lokal. Alat musik ini datang bersama pedagang Timur Tengah, diterima oleh masyarakat Melayu, lalu dibentuk ulang sesuai dengan karakter dan kebutuhan mereka sendiri. Hasilnya adalah warisan budaya yang unik dan tidak sepenuhnya Arab, tidak sepenuhnya Melayu, tapi menjadi milik keduanya sekaligus. Mengenal gambus berarti mengenal sepotong sejarah Indonesia yang cukup penting, yaitu tentang bagaimana jalur perdagangan membentuk kebudayaan, dan bagaimana musik bisa jadi media penyebaran nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.