Penulis: Nalla Herbaria – Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta

Jakarta, 13 Mei 2026 — Ada Cerita Apa berkolaborasi dengan Merakit Diri menggelar kegiatan Creative Emotional Wellness bertajuk “Merayakan Langkah, Bukan Membandingkan Arah” dalam rangkaian acara Jakarta Creative Hub. Kegiatan ini menghadirkan sesi refleksi, menggambar, journaling, hingga relaksasi untuk membantu peserta lebih mengenali proses hidup dan emosi yang sedang mereka alami.
Acara dibuka oleh Mutiara Windalita, Founder Ada Cerita Apa, sebuah IP kreatif berbentuk siniar yang mengangkat cerita seputar perjuangan hidup. Setelah itu, sesi dilanjutkan oleh Karinka Ngabito, M.Psi., Founder Merakit Diri sekaligus Expressive Arts & Grief Wellness Practitioner. Dalam pembukaannya, Karinka memperkenalkan perjalanan Merakit Diri yang berawal dari pengalaman pribadinya menghadapi duka dan kehilangan. Ia membagikan bahwa seni dan kreativitas dapat menjadi media untuk memahami perasaan dengan cara yang lebih menenangkan.

Selama dua jam kegiatan, peserta akan mengikuti beberapa sesi, mulai dari perkenalan diri, expressive media therapeutic, meditasi kreatif, refleksi diri, hingga relaksasi. Kegiatan diawali dengan menanyakan suasana hati peserta, lalu mereka diminta menuliskannya menggunakan alat yang telah disediakan, seperti pensil warna, spidol, cat air, air, dan kertas.

Pada sesi awal, peserta diminta menuliskan nama panggilan mereka dan menguraikan setiap kata dalam nama tersebut menjadi cerita atau kalimat. Setelah itu, kertas saling ditukar dengan peserta di sampingnya sebagai bagian dari sesi perkenalan.
Karinka kemudian menjelaskan latar belakang tema “Merayakan Langkah, Bukan Membandingkan Arah”. Ia menerangkan bahwa kebiasaan membandingkan diri sering muncul karena adanya social comparison, yaitu cara seseorang memahami posisi dan perkembangan dirinya. Perbandingan ini bisa muncul dalam bentuk membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil, atau dengan orang yang dianggap berada dalam kondisi lebih sulit.
Menurut Karinka, seni ekspresif dapat membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih tenang. Saat seseorang membuat karya seni, sistem saraf dapat lebih rileks, hormon dopamin yang berkaitan dengan rasa senang meningkat, sementara hormon kortisol yang berkaitan dengan stres dapat menurun. Ia juga menjelaskan bahwa seni dapat membantu seseorang mengungkapkan hal-hal yang sulit disampaikan lewat kata-kata.

Sesi berikutnya diisi dengan figure 8 breathing exercise, yaitu latihan menggambar pola angka delapan sambil mengatur napas. Peserta diminta menarik napas pada satu sisi lengkungan dan menghembuskannya pada sisi lainnya dalam satu goresan penuh. Aktivitas ini dilakukan selama dua menit dengan iringan musik yang menenangkan.
Setelah latihan tersebut, peserta membagikan perasaan mereka. Dari 10 peserta yang hadir, sebagian besar menyampaikan bahwa mereka merasa lebih tenang, lega, rileks, dan fokus. Karinka menyebutkan bahwa latihan sederhana ini dapat menjadi salah satu cara untuk menenangkan diri dan membantu pikiran menjadi lebih jernih.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi bridge drawing. Dalam sesi ini, peserta diminta menggambar jembatan sebagai simbol perjalanan hidup. Di satu sisi jembatan, mereka menggambarkan pengalaman yang berkaitan dengan kekecewaan, kesedihan, kehilangan, atau perubahan.
Sementara di sisi lainnya, peserta menggambarkan hal-hal yang membantu mereka bertahan, pulih, dan melanjutkan perjalanan hidup. Selama 30 menit, peserta fokus menggambar di atas kertas A3 yang telah dibagikan panitia. Suasana kegiatan berlangsung tenang dengan iringan musik lembut.
Setelah sesi menggambar selesai, peserta melanjutkan prosesnya dengan reflective journaling. Dalam sesi journaling tersebut, peserta diminta menjawab beberapa pertanyaan reflektif, seperti apa yang mereka sadari dari gambar jembatan tersebut, di mana posisi mereka saat ini, serta langkah kecil apa yang bisa dilakukan untuk mendekat ke tujuan yang ingin dicapai.

Setelah itu, kegiatan masuk ke sesi share your process. Tiga dari 10 peserta membagikan cerita di balik karya mereka. Suasana berlangsung haru karena setiap peserta menceritakan pengalaman dan perasaan yang mereka tuangkan melalui warna, goresan, dan tulisan. Setiap peserta yang berbagi cerita mendapat tepuk tangan dari peserta lain sebagai bentuk dukungan dan apresiasi.
Salah satu peserta bernama Maria, seorang single mom, turut membagikan pengalamannya dalam mengelola emosi hingga mampu perlahan bangkit kembali. Ia menyebutkan dua kiat yang bisa dicoba seperti menarik napas dan merefleksikan hal-hal yang sedang dijalani.

Kegiatan ditutup dengan sesi relaksasi. Peserta diminta berdiri, mengusap tangan kiri dan kanan secara bergantian, memegang dada, serta menyentuh kedua pipi sambil menarik dan menghembuskan napas. Dalam sesi ini, peserta juga diajak mengucapkan terima kasih atau kalimat baik kepada diri sendiri.
Sebelum acara berakhir, peserta kembali diminta menuliskan suasana hati mereka setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Acara kemudian ditutup dengan pengisian kuesioner, foto bersama, dan peserta diperbolehkan membawa pulang karya yang telah dibuat.
Melalui kolaborasi ini, Ada Cerita Apa dan Merakit Diri menghadirkan ruang aman bagi peserta untuk mengenali emosi, merayakan proses diri, dan memahami bahwa setiap individu memiliki perjalanan hidup yang berbeda.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.