Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
Kena razia itu biasa, tapi didiagnosa penyakit kelabu gara-gara bawa skincare pink itu luar biasa.

Hari Selasa biasanya membosankan, sampai desas-desus itu menyebar lewat grup kelas: “Razia besar-besaran! Tim Pak Broto sudah bergerak dari kelas ujung!”
Sean, yang biasanya paling tenang, mendadak pucat. Bukan karena ia membawa rokok atau komik terlarang, tapi karena di tasnya ada “harta karun” milik kakaknya yang tidak sengaja terbawa— satu paket lengkap skincare pencerah wajah seharga cicilan motor.
“Yan, lo kenapa? Kebelet?” Tanya Kanaka asal, teman sebangkunya yang hobi makan kuaci di kelas.
“Ka, gawat. Di tas gue ada paket glowing Kakak gue. Kalau disita Pak Broto, gua bukan cuma dihukum sekolah, tapi dicoret dari kartu keluarga!” Balas Sean panik.
Kanaka menatap tas Sean, lalu menatap wajah Sean yang memang agak kusam karena begadang main game. “Ya udah, bilang aja itu punya lo. Cowok juga butuh skincare, kan?”
“Masalahnya ini paket Extra Pinky Radiance, Ka! Warnanya shocking pink!”
Pak Broto, guru kesiswaan yang punya kumis setebal sapu ijuk, sudah berdiri di depan pintu. “Semua tas di atas meja! Jangan ada yang disembunyikan!”
Sean berkeringat dingin. Saat giliran tasnya diperiksa, Pak Broto mengangkat botol serum berwarna pink menyala itu dengan dua jari, seolah memegang granat aktif.
Seisi kelas hening. Arah mata Pak Broto tertuju pada name tag Sean yang sudah harap-harap cemas.
“Sean… Elvaro…” Pak Broto membaca namanya dengan penuh selidik membuat Kanaka mengangkat buku untuk menutupi mukanya yang sudah full senyum nyaris menyemburkan tawa.

“Sean, apa ini? Kamu mau buka salon di sekolah?” Suara bass guru paling ditakuti satu sekolah kembali mengudara.
Sambil menelan ludah susah payah Sean melirik Kanaka yang malah pura-pura sibuk baca buku terbalik. Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di kepala Sean. “Itu… itu obat herbal buat penyakit kulit langka saya, Pak!”
Sang guru menaikkan alisnya. “Penyakit apa?”
“Penyakit… kelabu, Pak! Kulit saya kalau nggak diolesin ini tiap empat jam bisa berubah jadi abu-abu kaya semen!” jawab Sean ngasal dengan wajah seserius mungkin.
Beberapa teman di belakang mulai terdengar suara menahan kentut—alias menahan tawa. Pak Broto menatap botol itu, lalu menatap wajah Sean yang memang terlihat pucat ketakutan.
“Obat herbal kok baunya kaya bunga sakura?” Pak Broto curiga, sambil mencium botol itu.
“Itu biar pasiennya nggak stres, Pak! Aroma terapi!” Sahut Kanaka ikut membantu, meski setelahnya bahunya gemetar menahan tawa.
Pak Broto akhirnya menghela napas, meletakkan kembali botol itu ke tas Sean. “Lain kali bawa surat dokter. Saya nggak mau ada murid saya berubah jadi patung semen di tengah pelajaran.”
Begitu Pak Broto keluar kelas, tawa satu kelas meledak sampai ke koridor. Sean lemas, hampir merosot dari kursinya.
“Pasien abu-abu apaan coba! Kocak banget Sean lo emang gila!” Ejek Kanaka sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Melihat teman-temannya yang terbahak-bahak, Sean berdecak lalu mengelus dadanya. “Seenggaknya, Kakak gue nggak bakal ngamuk, dan gue nggak jadi patung semen beneran hari ini.”

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.