Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Sunners, sebagai warga Indonesia, tentunya bangga sekali melihat banyak tradisi dari berbagai daerah yang masih terus eksis dan bahkan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Salah satunya adalah alat musik Ceng-ceng Bali yang baru-baru ini mencuri perhatian lewat penampilannya dalam video musik berjudul “Work” milik girl group No Na.
Girl group wanita pertama asal Indonesia yang menembus label internasional 88rising ini beranggotakan empat talenta muda, yaitu Baila Fauri, Christy Gardena, Shazfa Adesya, dan Esther Geraldine. Melalui karya-karyanya, mereka konsisten membawa energi modern khas Gen Z yang dipadukan dengan identitas nusantara. Semangat inilah yang membuat setiap rilisan mereka selalu memiliki kejutan budaya yang unik untuk dibahas.
Bagi kamu yang sudah menonton MV “Work”, mungkin sempat menyadari kehadiran alat musik dengan suara logam yang sangat ritmis dan ikonik. Instrumen tersebut bernama Ceng-ceng. Meski sekilas penampilannya terlihat sederhana seperti simbal kecil, alat ini memiliki peran penting dalam menghidupkan energi dalam ansambel Gamelan. Yuk, simak penjelasannya!

Ceng-ceng Bali adalah salah satu instrumen dalam perangkat Gamelan Bali. Jika dilihat dari bentuknya, alat musik ini terdiri dari beberapa logam bundar yang biasanya terbuat dari perunggu atau tembaga dan dihias menggunakan benang berumbai-rumbai.
Cara memainkannya pun sangat khas, yakni dengan membenturkan atau mengadu dua kepingan logam di tangan hingga menghasilkan bunyi nyaring dan dinamis. Di dalam pertunjukan Gamelan, Ceng-ceng berperan sebagai penjaga tempo sekaligus pemberi aksen ledakan suara pada bagian-bagian tertentu. Karakter suaranya yang riuh inilah yang kemudian dilirik oleh No Na untuk memberikan warna baru dalam aransemen musik mereka.

Kehadiran Ceng-ceng Bali dalam MV “Work” bukan hanya sebagai properti. Jika mendengarkan lagunya dengan saksama, ada bagian-bagian saat denting logam yang ritmis menyatu sempurna dengan beat pop modern. Ini adalah langkah berani dari No Na untuk menunjukkan bahwa identitas lokal bisa bersanding dengan musik global. No Na ingin menyampaikan bahwa budaya Indonesia tidak hanya terlihat dalam pertunjukan tradisional, tetapi bisa dibawa ke atas panggung besar dan dinikmati oleh pendengar internasional tanpa kehilangan ciri khasnya.
Di tengah gempuran musik pop dunia yang kian beragam, No Na berhasil mencuri perhatian justru karena keberanian mereka menyelaraskan identitas lokal secara apik. Kekuatan ini tidak hanya terdengar lewat audio, tetapi juga terpancar melalui koreografi menantang seperti aksi kayang Christy yang memberikan sentuhan estetik segar bagi penikmat musik mancanegara. Keaslian budaya inilah yang akhirnya menciptakan karakter grup yang jauh lebih organik dan berwibawa.
Kreativitas tanpa batas tersebut berhasil meruntuhkan stigma bahwa tradisi adalah sesuatu yang membosankan. Sebaliknya, No Na membuktikan bahwa instrumen tradisional justru mampu tampil modern dan bergengsi jika dikemas dengan visi yang tepat. Yuk, mulai sekarang kita lebih peka dengan keunikan budaya sendiri dan terus dukung karya musisi lokal yang membawa semangat nusantara ini ke kancah dunia!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.