Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Sunners, di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, ada sebuah kesenian rakyat yang sudah berusia berabad-abad dan tidak kalah memukau. Namanya Didong, sebuah pertunjukan yang memadukan tari, vokal, dan sastra dalam satu panggung, lalu mempertandingkannya antara dua kelompok hingga semalam suntuk. Kesenian ini sudah ada sejak abad ke-16 M, dan pada 2015 resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Yuk, kenali lebih dalam salah satu warisan budaya Nusantara yang satu ini.

Didong adalah tradisi nyanyian rakyat (folksong) khas masyarakat Gayo yang dipertandingkan antara dua kelompok dari komunitas yang berbeda. Didong berkembang terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, dua wilayah yang menjadi pusat kebudayaan masyarakat Gayo di Aceh bagian tengah. Hingga kini, Didong masih bertahan sebagai salah satu unsur identitas pengenal etnik Gayo yang kuat.
Kesenian ini memadukan tiga unsur sekaligus, yaitu seni sastra, seni vokal, dan seni tari. Pertunjukannya bisa dilakukan oleh laki-laki atau perempuan secara berkelompok. Biasanya berjumlah 15 hingga 25 orang per kelompok dengan format bebas sambil duduk bersila atau berdiri. Tidak ada alat musik yang digunakan, satu-satunya pengiring adalah tepukan tangan para pemain atau bantal kecil yang ditepuk dan menghasilkan ritme yang khas dan memukau.
Asal-usul nama Didong memiliki beberapa versi cerita berkembang di masyarakat dan masing-masing memiliki dasar yang berbeda. Salah satu versi menyebutkan bahwa kata Didong berasal dari bahasa Gayo, yaitu gabungan kata dik (menghentakkan kaki ke lantai hingga berbunyi dik-dik-dik) dan dong (berhenti di tempat). Secara harfiah, Didong berarti bergerak di tempat sambil menghentak-hentakkan kaki. Bunyi dik-dik-dik ini memang menjadi salah satu elemen ritmis yang khas dalam setiap pertunjukan.
Namun, ada pula yang menghubungkan kata Didong dengan kata dendang dalam bahasa Indonesia yang berarti nyanyian ungkapan rasa senang atau gembira sambil bekerja. Hal ini berkaitan dengan makna dan fungsinya yang serupa.
Pertunjukan Didong adalah ajang adu kecerdasan, kreativitas, dan penguasaan bahasa antara dua kelompok yang masing-masing mewakili komunitas atau desa yang berbeda. Didong juga sering ditampilkan untuk memeriahkan pernikahan, khitanan, dan berbagai acara kebudayaan.
Di garis terdepan setiap kelompok berdiri seorang ceh, yaitu pemimpin sekaligus vokalis utama yang bertugas melantunkan syair-syair berbahasa Gayo secara improvisasi. Ceh bukan sembarang orang. Ia harus menguasai pengetahuan tentang adat-istiadat, memiliki suara yang merdu dan khas, serta mampu merespons syair lawan dengan cepat dan tepat. Tidak mengherankan jika sebagian besar ceh adalah para imam atau tokoh masyarakat yang memiliki wawasan agama dan budaya yang luas.
Selain itu, dalam satu kelompok biasanya terdapat satu hingga tiga ceh, dengan satu ceh kucak (ceh utama) sebagai yang paling diandalkan. Suara dan kepintaran ceh dalam mengungkapkan sesuatu melalui lirik Didong adalah daya tarik utama yang menentukan apakah sebuah kelompok banyak diundang untuk tampil atau tidak.
Pertunjukan Didong biasanya dimulai setelah salat Isya dan baru berakhir menjelang Subuh. Dua kelompok duduk berhadapan, lalu secara bergantian melantunkan syair sambil diiringi tepukan tangan yang bervariasi, dari tepukan pelan hingga keras, dari ritme lambat hingga cepat, semuanya terkoordinasi dengan kekompakan yang tinggi.
Di dalam pentas, hadir para juri yang bertugas menilai setiap kelompok. Juri biasanya adalah mantan ceh atau orang yang mengerti adat secara mendalam. Penilaian mencakup kualitas syair, keindahan suara, gerakan ritmis, ketepatan tepukan tangan, dan kekompakan kelompok secara keseluruhan.
Didong bukan sekadar hiburan. Di balik syair dan tepukannya, tersimpan fungsi-fungsi sosial yang kompleks dan telah dijalankan selama berabad-abad.

Didong Gayo telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia bersama Kerawang Gayo oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Pengakuan ini merupakan langkah penting dalam pelestarian Didong secara formal.
Namun, tantangan nyata tetap ada. Didong hingga kini belum banyak dikenal di berbagai wilayah. Di sisi lain, era digital sebenarnya membuka peluang baru. Rekaman pertunjukan Didong yang mulai diunggah ke platform video dan media sosial perlahan menambah penonton baru, termasuk generasi muda yang mungkin belum pernah mendengar nama Didong sebelumnya. Kalau kamu penasaran, cari rekaman pertunjukan Didong di platform digital sebagai langkah awal untuk mengenalnya lebih jauh.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.