Penulis: Amour glorya stefani uas – Universitas Bunda Mulia
Sunners, pernah nggak kalian membayangkan tentang ketahanan pangan memiliki cadangan beras yang cukup bukan hanya untuk beberapa bulan, tetapi hingga puluhan tahun ke depan?
Di tengah kabar naik turunnya harga bahan pokok, perubahan iklim, hingga kekhawatiran tentang krisis pangan global, isu ketahanan pangan menjadi semakin penting. Banyak negara mencari cara agar masyarakatnya tetap memiliki akses terhadap makanan yang cukup di masa depan.
Menariknya, jauh sebelum isu ini ramai dibahas, masyarakat adat di Kasepuhan Ciptagelar telah menjalankan sistem yang membuat mereka mampu menjaga ketersediaan pangan secara mandiri selama bertahun-tahun. Bahkan, beras yang mereka simpan dipercaya dapat bertahan hingga 95 tahun.

Terletak di wilayah pegunungan selatan Sukabumi, Kasepuhan Ciptagelar merupakan salah satu komunitas adat Sunda yang masih mempertahankan tradisi leluhur hingga sekarang.
Masyarakat Ciptagelar hidup dengan prinsip menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan budaya. Bagi mereka, alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan bagian dari kehidupan yang harus dihormati dan dijaga.
Karena itulah pertanian menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Menanam padi bukan hanya aktivitas ekonomi, tetapi juga bagian dari tradisi dan identitas masyarakat adat.
Nilai-nilai tersebut diwariskan dari generasi ke generasi sehingga tetap bertahan meskipun dunia di luar kampung adat terus berubah.

Jika masyarakat modern mengenal gudang penyimpanan, masyarakat Ciptagelar memiliki leuit, lumbung padi tradisional yang digunakan untuk menyimpan hasil panen bentuknya khas. Saat berkunjung ke Ciptagelar, pandanganmu akan langsung tertuju pada bangunan-bangunan kayu kecil berbentuk panggung yang berdiri rapi di sekitar pemukiman. Jangan salah, jumlah leuit di seluruh wilayah Kasepuhan Ciptagelar tidak main-main, strukturnya tersebar hingga mencapai lebih dari 11.000 unit.
Leuit dirancang dengan arsitektur yang sangat genius. Bangunan ini dibuat tanpa paku, melainkan menggunakan sistem pasak kayu dan bambu. Desain panggung dan struktur atapnya memungkinkan sirkulasi udara di dalam lumbung berjalan dengan sangat optimal. Efeknya, tingkat kelembapan di dalam leuit terjaga dengan sangat baik, membuat gabah yang disimpan terhindar dari jamur serta serangan hama seperti tikus atau kutu.

Di Ciptagelar, hampir setiap keluarga memiliki tanggung jawab untuk menanam padi. Menariknya, hasil panen tidak langsung dihabiskan atau dijual seluruhnya, sebagian besar disimpan terlebih dahulu sebagai cadangan pangan keluarga, prinsip ini membuat masyarakat selalu memiliki stok beras yang cukup dari tahun ke tahun. Di Ciptagelar, ada satu hukum adat yang sangat tabu untuk dilanggar: Dilarang memperjualbelikan padi atau beras.
Bagi mereka, padi adalah lambang kehidupan yang tidak boleh dinilai dengan uang. Hasil panen sepenuhnya digunakan untuk konsumsi keluarga dan ditabung di dalam leuit. Setiap keluarga memiliki leuit sendiri, dan ada pula Leuit Si Jimat, yaitu lumbung besar milik rakyat adat yang berfungsi sebagai cadangan pangan darurat bagi seluruh warga. Sistem akumulasi hasil panen tahunan inilah yang membuat cadangan pangan mereka menumpuk dan dipercaya mampu menjamin ketersediaan beras hingga 95 tahun ke depan, bahkan jika mereka mengalami gagal panen berturut-turut.

Masyarakat Ciptagelar masih mempertahankan berbagai praktik pertanian tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam mengolah sawah, mereka memanfaatkan sumber daya yang tersedia di alam sekitar dan berupaya menjaga keseimbangan ekosistem.
Alih-alih bergantung pada bahan kimia, masyarakat adat Ciptagelar lebih mengutamakan cara-cara yang dianggap selaras dengan alam. Sisa-sisa tanaman, bahan organik, dan unsur alami lainnya dimanfaatkan untuk membantu menjaga kesuburan tanah.
Selain itu, mereka juga memiliki aturan adat yang mengatur hubungan manusia dengan alam. Prinsip ini membuat masyarakat tidak mengeksploitasi lahan secara berlebihan sehingga tanah tetap produktif dan dapat digunakan oleh generasi berikutnya.
Bagi masyarakat Ciptagelar, tanah bukan hanya tempat menanam padi, tetapi juga warisan yang harus dijaga. Karena itulah mereka percaya bahwa menjaga kesuburan tanah sama pentingnya dengan menjaga hasil panen itu sendiri.
Bagi Sunners, kisah Kasepuhan Ciptagelar bukan hanya tentang beras atau pertanian tradisional. Di balik ribuan leuit yang berdiri kokoh, ada banyak nilai yang tetap relevan hingga sekarang.
Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petani, tetapi juga tentang bagaimana sebuah masyarakat mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Kisah Ciptagelar menunjukkan bahwa kebersamaan, disiplin, dan kepedulian terhadap alam dapat menjadi kekuatan yang bertahan lintas generasi. Sebagai Sunners, yuk lebih mengenal dan menghargai kearifan lokal Indonesia. Karena di balik tradisi yang masih terjaga hingga hari ini, tersimpan banyak inspirasi untuk menghadapi tantangan masa depan.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.