Penulis: Maharani Intan Phitaloka – Universitas Pendidikan Indonesia
“Bagi Arka, saldo ATM yang sekarat tidak semenakutkan rasa FOMO yang menyiksa saat melihat teman-temannya sedang asyik tertawa di tempat viral tanpa dirinya.”

Arka menatap cangkir kopinya yang tinggal ampas. Harganya enam puluh ribu, rasa pahitnya sampai ke dompet. Di sekelilingnya, musik chill berdentum pelan di bar rooftop yang sedang viral itu.
“Gila, view-nya dapet banget! Fotoin gue dong dari sudut itu, biar kelihatan sepatunya,” kata Kevin sambil menyerahkan ponsel mahalnya ke Arka.
Arka berdiri dengan canggung, mengambil foto Kevin berkali-kali. “Udah pas belum, Vin?”
“Kurang bawah! Biar kaki gue kelihatan jenjang. Lo juga dong, Ar! Masa nggak mau update? Sepatu baru lo keren tuh, mumpung lagi hype,” sahut Kevin sambil menunjuk sepatu Arka yang sebenarnya dibeli dengan uang makan dua minggu.
Arka tersenyum kaku, “Lagi males frame, Vin. Tadi udah kebanyakan story.” Padahal, Arka sedang menghitung sisa saldo ATM-nya di kepala. Lima puluh ribu… cuma cukup buat bensin sama parkir ini mah, batinnya perih.
Suasana berubah saat mereka mulai merencanakan liburan akhir pekan. “Vila di Puncak yang baru itu oke banget, private pool-nya aesthetic. Patungan cuma satu setengah juta per orang. Booking sekarang ya?” usul Kevin antusias.
Arka mendadak tersedak kopinya. Satu setengah juta? Itu uang kosnya bulan depan. Ia melihat wajah teman-temannya yang tampak setuju-setuju saja. Arka ingin mengiyakan, tapi bayangan ayahnya yang pulang kerja dengan baju penuh keringat melintas.
“Gue… gue kayaknya absen dulu ya kali ini,” suara Arka pelan, hampir tenggelam oleh musik.
“Hah? Serius lo? Nggak asik banget, momennya pas nih buat healing!” Kevin menyenggol bahu Arka.
Arka menarik napas panjang, mimiknya berubah serius. “Jujur, dana gue lagi mepet banget, guys. Nggak bisa dipaksa.”
Hening sejenak. Arka sudah siap ditertawakan. Tapi tiba-tiba, Rio yang sedari tadi diam ikut bicara. “Sebenernya… gue juga mikir gitu sih. Satu setengah juta lumayan berat buat gue sekarang.”
Rio menatap Arka dengan pandangan lega. “Gue pikir cuma gue yang ngerasa kegulung gengsi tapi takut ngomong.”
Rio menoleh ke Kevin. “Mungkin lain kali ya, Vin? Cari yang masuk akal aja. Yang penting kan bareng-barengnya, bukan pamer vilanya.”
Topeng itu akhirnya retak berjamaah. Arka menyadari mereka hanya aktor dalam panggung “status” yang mencekik leher sendiri. Malam itu, untuk pertama kalinya, tawa Arka terasa nyata bukan sekadar pelengkap konten.

Pada akhirnya, Arka menyadari bahwa rasa takut tertinggal atau FOMO adalah beban yang ia ciptakan sendiri. Persahabatan sejati tidak akan menuntut gaya hidup di luar kemampuan, dan pengakuan jujur tentang kondisi diri adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai FOMO yang selama ini mencekik kesehatan finansial dan mentalnya.
Jangan biarkan FOMO mendikte isi dompet dan kebahagiaanmu! Ingat, tidak semua tren harus diikuti dan tidak semua tempat viral harus didatangi. Jadilah remaja yang berani memprioritaskan diri sendiri di atas tekanan FOMO yang melelahkan. Be real, not just for the ‘gram!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.