Penulis: Daneen Kalea Alesha Waas – President University
Di era hustle culture yang serba cepat dan banyak tekanan, slow productivity dapat menjadi solusi agar kita lebih bijak mengatur prioritas sehari-hari. Emang bisa ya kerja pelan-pelan tapi tetap produktif? Yuk baca lebih lengkap gimana caranya!
Slow productivity adalah filosofi kerja yang digagas oleh Cal Newport dalam bukunya Slow Productivity: The Art of Accomplishment Without Burnout. Slow productivity memaparkan bahwa kita bisa mencapai produktivitas dengan melakukan pekerjaan lebih sedikit sesuai dengan ritme alami manusia, dan fokus pada kualitas pekerjaan dibandingkan kuantitasnya.

Kita sering menganggap bahwa mengerjakan banyak pekerjaan sekaligus atau multitasking tandanya kita semakin produktif. Sebaliknya, dilansir dari Halodoc, banyak penelitian yang menunjukkan bahwa multitasking malah akan menghambat fungsi kognitif otak karena kerap berganti fokus dari satu tugas ke tugas lainnya.
Dengan menerapkan slow productivity, kita dapat mengerjakan pekerjaan dan tanggung jawab kita dengan minim stres dan burnout, lebih fokus mengerjakan satu hal dan mendapatkan hasil yang lebih baik, dan meningkatkan kreativitas dan menciptakan workflow yang lebih mudah dijalani.
Prioritaskan minimal satu sampai tiga tugas aktif (contoh: PR minggu ini, cicil kerja kelompok) dalam satu waktu. Setelah semuanya sudah selesai, baru boleh tambah tugas lainnya.
Coba bekerja sesuai dengan level energi. Misalnya, kalau kamu lebih berenergi di pagi dan siang hari, gunakan waktu itu untuk mengerjakan tugas yang lebih berat. Lalu gunakan waktu sore dan malam untuk mengerjakan tugas lebih ringan.
Tetapkan boundaries kapan harus bekerja dan “berhenti”. Kamu bisa mulai dari menentukan waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan satu tugas, misalnya selama satu jam, lalu istirahat sejenak, baru mulai kerjakan tugas selanjutnya. Dan kamu juga bisa memprioritaskan beberapa hari untuk mengerjakan tugas, dan hari-hari untuk beristirahat. Contohnya, selama weekday kamu akan fokus mengerjakan tugas sekolah atau kuliah. Sementara di akhir pekan kamu bisa full beristirahat atau menghabiskan waktu dengan keluarga.

Slow productivity bukan berarti malas-malasan lho, namun sebagai cara untuk menentukan jadwal produktivitas yang lebih sehat dan realistis untuk menghindari beban yang berlebihan.
Meski ada kalanya kita harus bekerja dengan cepat dan sigap, tetap tenang dan tidak terburu-buru dalam mengerjakan tugas dapat meningkatkan etos kerja dan kualitas hidup kita. Selamat mencoba!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.