Majalah Sunday

Sebuah Cerpe - Kenangan Manis yang Hilang

Penulis: Shabrina Azzahrah Alfaizah

Mentari senja menyapa langit, meninggalkan jejak warna jingga yang begitu hangat. Aroma kolak pisang dan ketupat masih tercium samar, membawaku kembali ke Ramadan masa kecilku. Saat itu, aku masih bocah ingusan yang berlarian tanpa beban di kampung halaman.

Ramadan saat itu terasa sangat istimewa. Setiap sore, sebelum azan Maghrib menjadi penanda dimulainya petualangan. Aku bersama Amara dan Dani, dua sahabat karibku selalu berburu takjil menjelang waktu berbuka puasa.

“Amara! Dani! Ayo buruan keburu habis takjilnya!” ajakku bersemangat.

Amara dengan rambutnya yang selalu dikepang dua menjawab, “Iya, iya . . . tapi nanti jangan lupa beli es buah Pak Umar, ya!” aku pun mengangguk sebagai tanda setuju, “Kalian ini lama! Ayo, buruan! Perutku sudah keroncongan ini,” sahut Dani sambil menggosok-gosok perutnya yang keroncongan.

Bau gorengan yang baru matang dari warung Budhe Salma menciptakan simfoni yang menggugah selera kami. Perut kami mulai mengeluarkan bunyi keroncongan yang nyaring, seolah ikut bersahutan dengan suara gemericik wajan dari warung Budhe Salma.

Di sebelah warung Budhe Salma, ada sebuah gerobak yang selalu ramai pembeli. Itu adalah gerobak es buah milik Pak Umar yang terkenal murah dan rasanya enak. Terlihat antrean yang panjang, kami memutuskan untuk membeli gorengan di warung Budhe Salma sembari menunggu antrean itu menipis.

Kenangan Manis yang Hilang

“Budhe, aku mau bakwan 2 ya!” ucap Dani, “Oke, siap!” jawab Budhe Salma sambil memasukkan bakwan ke plastik. “Mau tambah apa lagi dan?” lanjut Budhe, “udah, itu aja deh Budhe,” jawab Dani.

 “Aku mau ini dan ini,” sahutku sambil menunjuk gorengan yang inginkan, “aku juga mau yang ini Budhe!” timpal Amara.

“Sudah ini aja?” tanya Budhe sambil memasukkan gorengan yang telah kami tunjuk tadi, “Sudah Budhe,” jawabku dan Amara dengan komPak. 

“Nih, gorengannya!” seru Budhe Salma sambil menyerahkan kantong plastik yang telah kami pesa. Aroma gurihnya langsung memenuhi hidung, rasa lapar sudah tak terbendung lagi.

Lalu, kami merogoh saku untuk mengeluarkan uang untuk membayar gorengan itu, “Ini ya Budhe,” ucap kami bersamaan.

Budhe Salma menerima uangnya, dan kami segera pamit keluar karena kulihat antrean ramai yang tadinya mengerumuni gerobak es Pak Umar sudah menipis.

Kami pun segera menuju gerobak es Pak Umar, “Pak umar! Aku mau es buah satu!” teriak Amara, pelanggan setia Pak Umar. Teriakan Amara bak ombak yang menerjang Pantai, sampai ke telinga Pak Umar. Pak Umar pun menoleh ke arah kami sembari menyapa, “Eh, kalian! tumben agak telat ke sini, biasanya kalian mengawali.” Kami pun tersenyum tipis, “Hehe, iya Pak. Tadi kami mampir dulu beli gorengan di Budhe Salma,” jawabku sembari melihatkan gorengan yang telah aku beli.

“Ooh, gitu toh. Saya kira kalian bosen sama es buah saya,” timpal Pak Umar dengan nada bercanda. “Enggalah Pak, esnya Bapak yang paling mantep. Aku ga bakal bosen,” jawab Amara dengan bersemangat. “Tadi kami lihat gerobak Bapak masih antre panjang, jadi kita mampir dulu beli gorengan,” lanjut Dani.

Kenangan Manis yang Hilang

“Iya, memang hari ini ramai sekali pembeli, jadi capek,” celetuk Pak Umar sambil ketawa, “Oh, iya! Kalian mau pesan es berapa?” lanjut Pak umar, “seperti biasa Pak, tiga bungkus,” jawab Amara.

Pak Umar pun segera menyiapkan es kami, dan tak lupa berbagi canda tawa dengan kami. Setelah ketiga bungkus es siap, kami pun membayarnya dan segera berjalan pulang ke rumah masing-masing untuk berbuka, karena langit sudah menunjukkan masuk azan Maghrib.

Di perjalanan pulang, “Aduh, uangku sudah habis,” keluh Amara sambil melihat barang bawaannya. “Gak papa, Amara. Uangku juga habis tapi kita bisa minta lagi ke Ibu nanti,” jawab Dani dengan ketawa yang diikuti olehku dan Amara.

Malam-malam Ramadan di kampungku begitu syahdu. Suara bedug menggema, mengiringi lantunan ayat suci Al-Qur’an dari masjid, menciptakan suasana yang menenangkan jiwa. Aku, Amara, dan Dani berlarian tanpa ada beban di bawah langit yang bertaburan bintang, sambil sesekali menyalakan petasan yang suaranya berdenting di udara, dan berbagi canda tawa bersama, andai waktu bisa diulang aku sangat ingin kembali merasakan masa-masa indah itu.

Ramadan kali ini tak seistimewa saat itu. Kini, aku sudah dewasa dan jauh dari kampung halaman. Aku ingin sekali menghabiskan waktu senja sambil keliling mencari takjil seperti dulu, tapi kesibukan kota mengikis waktu luangku. Kenangan Ramadan masa kecil itu akan selalu terukir indah di hatiku. Es buah Pak Umar, gorengan hangat di warung Budhe Salma, suara bedug di masjid, serta gelak tawa Amara dan Dani menjadi hal yang paling aku rindukan. Mereka adalah harta tak ternilai yang takkan pernah bisa kulupakan. Sebuah kenangan manis yang aku selalu ingin kuulang.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 5