Majalah Sunday

Mengenal Perjalanan Hidup Dr. Oen Boen Ing

Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya

Sunners, apa kalian tau tentang dokter yang terkenal kala itu di Solo? Kini, terdapat rumah sakit yang terselip namanya juga. Beliau bernama Dr. Oen Boen Bing, dokter yang diberi penghormatan serta sangat berjasa ketika perang terjadi. Disini kalian akan mengetahui mengenai perjalanan hidup beliau demi mengenang jasa-jasanya yang luar biasa.

Dr. Oen Boen Ing merupakan seorang dokter yang terkenal di Solo, ia juga seseorang yang berjasa untuk negara.

Perjalanan Hidup Dr. Oen Boen Ing

Dr. Oen Boen Ing lahir pada 3 Maret 1903, di Salatiga dan wafat pada 30 Oktober 1982. Kisah hidupnya sangat menarik untuk diulik, beliau wafat karena sakit stroke. Saat itu masih berumur 79 tahun dan ia tiada di Rumah Sakit Telegorejo, Semarang. Berikut merupakan kisahnya:

Latar Belakang dan Keluarga

Dr. Oen Boen Ing atau kerap disapa Dr. Oen merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Beliau berasal dari pasangan Oen Hwie An dan Tan Tjiet Nio, yang merupakan pedagang tembakau yang terkenal di Salatiga. Bukan hanya itu tetapi mereka juga mempunyai perkebunan dan pengeringan tembakau sendiri dari Salatiga hingga Wonosobo.

Beliau juga dikenal sebagai cucu dari seorang sinshe (praktisi pengobatan tradisional Tiongkok (TCM)) sehingga dikenal sebagai seseorang yang suka menolong orang lain. Dari sinilah, Dr. Oen menjadi orang yang sama seperti kakeknya yaitu dengan membantu orang-orang yang membutuhkan.

Pendidikan

Dr. Oen merupakan lulusan dari HCS (Hollandsche Chineesche School) Salatiga. Lalu, meneruskan pendidikannya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) Semarang yang merupakan SMP pada saat itu. Kemudian melanjutkan ke AMS atau disebut Algemeene Middelbare School, yang merupakan tingkat SMA. Pada saat itu, beliau lulus pada umur 19 tahun yang tergolong lulus cepat karena biasanya lulus di umur 20 sampai 21 tahun. Kenapa telat? Sebelum lulus, memang wajib untuk mengikuti kursus Bahasa Belanda sehingga lulusnya tergolong lama.

Namun, sebelum cita-citanya sebagai dokter ini tercapai ternyata keluarganya sangat menentang impian Dr. Oen. Ditentang dengan alasan, takut anak atau cucunya menjadi seseorang yang kaya tetapi yang berasal dari penderitaan orang-orang yangs sakit. Padahal, beliau udah memimpikan hal ini sejak awal masuk AMS dan memang ia terinspirasi juga dari kakeknya yang merupakan sinshe.

Dibalik itu semua, ayahnya udah menyiapkan hal apa aja yang harus dipelajari beliau agar ada yang melanjutkan karirnya. Tetapi tetap, Dr. Oen bersikukuh untuk mewujudkan mimpinya sebagai dokter. Disaat itulah, ia memutuskan untuk pergi ke Batavia atau Jakarta untuk lanjut menempuh pendidikannya di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) dan lulus pada tahun 1932. 

Kisah Asmara

Dr. Oen bertemu dengan Corrie Djie Nio, yang merupakan anak dari seorang konglomerat Tionghoa yang terkenal saat itu. Mereka bertemu pertama kali di Kediri dan memutuskan untuk menikah pada 16 November 1934, lalu merantau juga disana. Setelah 6 tahun di Kediri, pada akhirnya beliau memutuskan untuk membuka praktik sebagai dokter swasta di Solo bersama Corrie.

perjalanan dokter
Ilustrasi Dr. Oen Boen Ing. (Pict by Canva)

Pengabdian Dr. Oen Boen Ing

Pada 1932, Dr. Oen mulai merantau ke Kediri setelah lulus dari STOVIA. Beliau membantu praktik di Poliklinik Gie Sing Wan yang berada di kumpulan HCNTH (Hua Chiao Tsien Ning Hui). Kemudian, ia membuka praktik di Tsi Sheng Yuan (Lembaga Penolong Kehidupan) yang merupakan sebuah poliklinik kecil pada 1933. Beliau bersama 8 orang lainnya untuk mengelola poliklinik tersebut.

Ketika perang kemerdekaan datang, poliklinik udah berubah fungsi sebagai rumah sakit darurat untuk menampung para pejuang dan pengungsi. Ia membantu CBO atau Chineesche Burger Organisatie dan penduduk Jepang yang dikelola oleh Kakyo Sokai (gabungan organisasi-organisasi Tionghoa). Beliau banyak membantu pada saat itu dan menjadi pemasok penisilin untuk Jenderal Sudirman yang menderita TBC, tak hanya itu tetapi menjadi dokter pribadi juga di Istana Mangkunegaran.

Keunikan Praktik Dr. Oen Boen Ing

Ketika Dr. Oen memutuskan untuk membuka praktik pada jam 03.00 WIB yang berarti di dini hari. Kemudian, terdapat nomor telepon yang berangka 3333 dan meresmikan bangunan pertama di Rumah Sakit Kandang Sapi pada 3 Maret 1963. Menurut beliau angka 3 merupakan ciri khas dari kehidupan Dr. Oen sehingga ia berkata bahwa semua karya miliknya dapat dimulai dengan angka 3. Kesannya angka 3 juga udah menjadi lucky number beliau.

Inilah mengapa Dr. Oen Boen Ing selalu diingat. (Pict by Canva)

Setelah kita ketahui mengenai Dr. Oen Boen Ing sangat menakjubkan bukan, Sunners? Disini kita jadi tahu kalau beliau juga merupakan salah satu pahlawan yang bergerak pada bidang kesehatan. Tanpanya, belum tentu masyarakat lainnya dapat selamat dan disembuhkan sampai benar-benar pulih. Oleh karena itu, kita juga tetap harus mengenangnya sebagai bagian dari seseorang yang mengabdi kepada negara.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 2