Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya
Sunners, pernah gak sih kalian ngerasa kalau kalian tuh sering banget nunda-nunda buat nugas dan ngerasa malas banget deh buat ngerjain? Tapi hal ini bisa terjadi secara terus-menerus. Nah kalau pernah, bisa jadi kalian mengalami self-sabotage. Pernah dengar gak tuh dengan istilah tersebut? Kalau belum pernah dan masih bingung, disini akan dijelaskan mengenai pengertian, asal mulanya terjadi, dampak, dan cara penanganannya seperti apa. Yuk simak!

Sebenarnya, menyabotase diri sendiri itu gimana? Nah, pasti kalian pernah ketemu beberapa kesempatan untuk menjadi sukses dan bisa berkembang lebih baik lagi. Contohnya, kalian sebenarnya bisa untuk masuk ke kampus impian melalui jalur SNBT. Strateginya berupa kalian terus belajar giat dan pelan-pelan pasti udah mulai paham dengan rumus-rumusnya. Cuma sayangnya, kalian berpikir negatif kalau hal itu mustahil bahkan sebelum terjadinya ujian itu.
Sampai-sampai, kalian memutuskan untuk nunda-nunda deh untuk belajarnya dan tentu selama ujian gak mengerjakan dengan baik karena adanya pemikiran yang negatif itu. Dari hal itulah dapat dikategorikan sebagai menyabotase diri sendiri karena dari awal udah nggak ada rasa percaya diri.
Hal ini bisa terjadi ketika kita masih kecil. Pada saat kita masih aktif-aktifnya, tentu kita akan mengingat hal-hal kecil dan berbeda pada saat kita remaja. Dengan adanya beberapa keadaan sebelumnya, hal itulah yang dapat membentuk karakteristik kita. Berikut merupakan hal-hal yang mungkin menjadi penyebab untuk kita yang menyabotase diri sendiri:
Dengan adanya self-sabotage, sebenarnya berasal dari masa kecil kita. Hal ini dapat dipengaruhi oleh orang tua, teman-teman, dan lingkungan sekitar. Kalau dari orang tua, biasanya nggak dikasih perhatian. Itu karena mungkin mereka lagi sibuk kerja dan ada kegiatan lain yang harus dilakuin, tapi mereka akan memarahi kita ketika kita melakukan suatu kesalahan. Dari sanalah, bisa terjadinya pemikiran kalau kita membuat kesalahan, pasti kita diperhatiin.
Sama halnya juga dengan teman-teman dan lingkungan sekitar. Dengan adanya jarang sekali perhatian dari mereka, terkadang kita harus coba untuk memancing perhatian mereka agar kita diperhatikan. Entah itu menjadi nakal, suka membawa ribut di berbagai tempat, dan lain-lain.
Disini siapa yang pernah pacaran? Dari pacaran juga bisa terjadi self-sabotage lho. Kalau kalian punya pacar, tentu kalian akan merasa senang, bukan? Cuma kadang bisa terjadinya hubungan toxic, yang kalian jadinya capek sendiri bahkan berkomunikasi dengan benar juga kesulitan. Pokoknya yang membuat diri kalian menjadi gak berharga sehingga kalian terus berpikir negatif mengenai hal itu.
Setelah dua penyebab di atas, mulai adanya perasaan takut terutama pada kegagalan. Kalian pasti tahu kalau takut akan gagal itu bisa terjadi dengan siapa aja termasuk kita. Apalagi ketika kita sedang mencoba suatu hal yang baru atau mencoba untuk mendalami suatu hal lebih baik lagi. Namun, kalian tahu pepatah kan; “Kegagalan adalah bagian dari kehidupan. Jika kamu tidak gagal, kamu tidak belajar. Jika kamu tidak belajar, kamu tidak akan pernah berubah.”
Dengan adanya gagal, bukan berarti kita nggak bisa. Diberi kegagalan juga berarti kita harus belajar lebih banyak lagi dan tentu nggak mengulangi kejadian yang sama agar kedepannya bisa meminimalisir kesalahan kita. Namun, bagi seseorang yang menyabotase dirinya, kegagalan merupakan hal yang paling menakutkan.

Dampaknya tentu kembali ke kesehatan mental kita. Kita jadi mudah stress dan overthinking, berkurangnya rasa percaya diri, dan lainnya. Selain kesehatan mental kita, tentu terhadap masa depan kita kedepannya seperti mengenai gagalnya hal yang ingin kita raih, menghambat kita untuk berkembang, dan sebagainya. Jadi, dampak yang diterima berupa dampak negatif bagi kita dan itu akan berlangsung lama jika kita nggak menghentikannya.
Cara mengatasinya dapat kembali ke diri sendiri dulu. Jika udah tahu kalau menyabotase diri sendiri merupakan hal yang toxic, kalian bisa melakukan hal berikut berdasarkan halodoc:
Mulai sadar dengan perilaku maupun pikiran yang dapat menghambat tujuan pribadi. Kalian bisa mulai catat kalau muncul lagi perilaku tersebut.
Dapat merefleksikan diri dengan berbagai macam teknik ataupun bisa melakukan journaling.
Dapat menggunakan teknik cognitive behavioral therapy (CBT) agar kita bisa mulai berpikir positif dan realistis.
Kalian bisa mulai mencari dukungan melalui keluarga, teman yang kalian percaya, ataupun ke seseorang yang profesional seperti psikolog, psikiater, dan lain.
Kita bisa pelan-pelan mengambil langkah kecil untuk hal tertentu. Seperti untuk berpikir negatif, kita bisa coba untuk pelan-pelan mengurangi dan dicatat juga agar ingat kalau kita pernah memikirkan hal tersebut.

Self-sabotage berasal dari kita yang secara nggak sadar melakukan hal itu. Dengan adanya tekanan tertentu sehingga menyepelekan masalahnya. Bukan berarti nggak memperbolehkan tetapi jika hal ini terus terjadi, tentu akan menyakiti diri sendiri lebih dalam lagi. Oleh karena itu, ayo kita lebih memperhatikan diri sendiri lagi tanpa adanya berpikir negatif. Kita udah cukup kok untuk menjadi diri sendiri dan pastinya kita udah melakukan yang terbaik juga tanpa memikirkan pemikiran orang lain.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.