Penulis: Hannah Alifa Triyani
Dinginnya udara menerpa wajahku, pemandangan indah matahari terbenam menjadi latar suasana sore yang menenangkan ini. Gelak tawa terdengar hingga sebuah jeruk jatuh dari pohon tepat di hadapanku, pohon jeruk purut namanya kata ayah dulu, mbahkung yang menanamnya sekarang malah aku yang memanennya. Sejenak aku menikmati suasana ini, terdapat memori indah yang tak bisa kulupakan, di tempatku berpijak di kampung halamanku, bukan di kampung halaman ayah lebih tepatnya. Ada banyak kenangan indah yang akan kuingat sampai kapanpun, udara dingin itu kembali berhembus mengingatkanku pada masa yang telah lalu.
Aku terbangun dengan perasaan kesal, bunda hampir marah karena waktu sahur akan habis, sedangkan aku baru bangun tidur. Ini bukan perdana bangun sahurku, memang godaan apa yang membuatku sangat lengket dengan kasur sampai tak bisa meninggalkannya. Menu sahur pagi ini adalah sayur asem sisa semalam serta ayam goreng ungkep dan juga sambal, nafsu makanku jadi bertambah masakan bunda memang tidak pernah tidak enak. Berkali-kali ayah menambah sambal kedalam piringnya hingga bunda menegur dan memarahi ayah, berkata untuk membaginya denganku dan Abraham. Adikku, Abraham, juga berkali-kali kena marah karena meskipun sedang makan matanya tetap tertutup, aku tersenyum tipis keadaan ini berbeda dengan sahurku di tahun-tahun lalu. Tahun ini kami puasa di kampung pun bukan tanpa sebab, terjebak lockdown karena virus corona membuat kami tak bisa kembali pulang ke Jakarta. Azan subuh pun berkumandang menandakan waktu sahur telah berakhir, kami pun membersihkan diri dan bersiap untuk salat subuh.

Setelah mengaji sampai 1 juz lebih aku tertidur, maklum semalam aku tidur pukul 11 lebih karena asyiknya bermain bersama sepupu-sepupuku. Pukul 8 pagi aku terbangun, tanganku sudah siap untuk meraih handphone namun terhalang oleh bunda yang menyuruhku untuk segera bersiap, aku hanya menuruti saja daripada kena marah, segera kuganti baju dan bergegas ke arah bunda memanggil. Rumahku terletak sangat strategis tepat diatas tebing batuan berlatar view pegunungan dan sawah yang sangat indah tepat di bawah tebing terdapat sungai yang mengalir deras. Dulu sebelum rumah ini dibangun banyak yang mengatakan bahwa tanah rumahku adalah tempat banyak makhluk halus, itulah mengapa paman-paman ku tidak ada yang mau membangun rumah disini. Namun ayah dan bunda berbeda, tetap membangun rumah meskipun banyak cemoohan orang yang mengatakan bahwa tanah tersebut tak layak untuk ditinggali. Dan semua pun berbalik setelah rumah ini dibangun semua orang terkagum-kagum dengan indahnya pemandangan rumah, sekitar belakang rumah ada sebuah kebun berbagai tanaman yang dulu ditanam oleh mbahkung, tapi meski memiliki view yang sangat indah banyak halaman rumah yang harus dibersihkan. Karena rumahku berada di atas tebing, halaman bawah rumah jadi agak curam dan banyak yang harus dibersihkan, rumput kering, tanaman menjalar, dan tumbuhan pengganggu yang hidup menumpang di tanaman lain. Awalnya kupikir akan menyenangkan, tapi ini sudah kelewatan. Menyapu halaman yang memiliki ketinggian dan sangat luas, ditambah api yang menyala karena setelah disapu semua sampah daun ini harus dibakar. Haus, berkali-kali aku membasahi lidah, Abraham malah dengan tidak tahu dirinya meminum air langsung dari teko tepat di hadapanku. Ingin rasanya ku menyumbat mulutnya dengan daun kering yang menempel di sekujur tubuh, dan satu hal yang menyiksa adalah daun pohon bambu yang membuat tubuh gatal.
Pukul 10:30 akhirnya penyiksaan ini berakhir ayah dan bunda terlihat tak berdaya, meski sudah bersusah payah membersihkan tetap saja masih ada beberapa daun kering yang tertinggal. Wajar saja sedang puasa begini malah disuruh membersihkan halaman panas pula, matahari seolah terbagi dua, yang satu sedang membakar daun, satunya lagi menyinari tubuh. Bunda mandi lebih dulu meninggalkan kami bertiga di teras rumah, tiba-tiba ayah menarik tanganku dan Abraham, aku yang sudah tak berdaya segera menggerutu, namun ayah semakin erat menarik. Otak seperti sedang loading tak bisa memproses, melihat ayah menuju jalan menurun tepat di sebelah rumah, Abraham tiba-tiba berseru senang ia berteriak gembira. Setelah beberapa lama berjalan barulah aku mengerti, ternyata ayah ingin mengajak kami berendam di sungai tepat di bawah rumah, air yang dingin dan jernih terlihat sangat menggoda. Ayah dan Abraham segera menceburkan diri ke dalam sungai, aku mengikuti melompat dari atas batu dan terjun. Segar, dahagaku hilang terganti dengan ketenangan, kami berenang kesana kemari mengikuti arus air.

Di atas tebing tepat di balkon rumah, bunda terlihat sudah segar, tersenyum melihat kami yang sedang keasyikan bermain air. Setelah puas kami berjalan santai sambil menikmati indahnya alam, banyak kupu-kupu berbagai warna terbang kesana-kemari, belalang ikut meloncat menghindari seekor katak, dan sebuah capung beludru sunda yang memiliki warna seperti glow in the dark. Sampai di rumah kami membilas tubuh lagi dikamar mandi, dan segera berbaring di ruang tengah sambil bermain handphone. Saat tiba waktu dzuhur kami segera sholat, selesai sholat bunda tertidur, aku ikut berbaring dan memejamkan mata. Pukul 3 sore aku terbangun, melihat ayah membawa kembang kuburan apa ayah ingin ziarah ke makam mbahkung, tapi bukankah 2 hari lalu ayah sudah ziarah untuk apa pergi lagi. Belum aku bertanya ayah menyuruhku bersiap, katanya paman dan budeh juga mbak Intan kakak sepupuku mengajak kami pergi ziarah ke makam mbah buyut yang berada di Ngrambe. Kampungku berada di Jawa Timur kabupaten Ngawi, tepatnya di desa Jogorogo. Dan Ngrambe berada dibawah Jogorogo, karena Jogorogo berada di lereng gunung, Ngrambe agak sedikit dibawah tapi disana masih tetap dingin sama seperti di Jogorogo. Bunda bilang tidak ikut karena akan menyiapkan takjil buka puasa, ayah segera menyiapkan mobil, aku dan Abraham berpamitan, menaiki mobil dan melaju menuju rumah paman. Paman dan bude juga mbak Intan sudah siap, memasuki mobil dan segera pergi.
Aku melihat suasana sekitar, saat melewati pasar hujan turun membasahi tanah dan dagangan para pedagang, segera aku menutup kaca mobil. Bagaimana nanti saat ziarah, kami bahkan tidak membawa payung karena tidak memperkirakan akan hujan? Kami melewati desa ke desa, ayah bilang dulu waktu kecil tinggal di Ngrambe sebelum pindah ke Jogorogo, pantas saja banyak yang mengenal ayah karena ayah alumni, juga karena mbahkung dulu asal Ngrambe. Banyak pohon bambu di kiri kanan jalan beberapa kali ayah bertanya jalan pada warga desa, hujan yang sangat deras menghalangi jalan. Hingga akhirnya sebuah belokan jalan setapak yang masih muat untuk dimasuki mobil kami lewati, kami hampir sampai tapi banyak hal yang kami lihat. Sebuah pohon bambu besar dan jembatan penghubung yang aliran airnya hampir penuh terlihat menyeramkan seolah melewati sebuah gerbang dunia lain. Dan yang lebih menakutkan adalah pemandangan kuburan yang sangat cocok untuk syuting film horor, karena berada di dataran pegunungan tanah kuburannya bertingkat dan menambah kesan horor karena banyak kain putih yang sengaja diikat di batang pohon masing-masing makam.
Kalian pasti tahu kuburan khas orang Jawa kuno yang seperti peti mati kecil, terlihat begitu banyak bertingkat mengikuti kontur tanah. Mobil kami berhenti, hanya ayah dan paman yang turun kami berempat menunggu di mobil, aku memperhatikan dari kejauhan ayah dan paman berlari dengan lincah melewati banyak kuburan. Hingga siluet mereka akhirnya hilang di tengah kepungan hujan, aku hanya berdiam diri melihat kabut yang ikut turun, menambah suasana horor di tengah guyuran air hujan. Suhu semakin dingin, setelah ditunggu akhirnya terlihat ayah dan paman yang berlompat-lompat kecil melewati makam menuju mobil. Tubuh mereka basah kuyup kedinginan, namun hanya ayah yang masuk ke dalam mobil paman masih berada diluar bude hampir berteriak menyuruh paman untuk masuk mobil, namun ternyata paman memang harus di luar karena jalan yang tadi dilalui kami ternyata banjir. Takut ada tanah yang berlubang jadi paman segera mengarahkan agar mobil tidak terjatuh kedalam lubang, kulihat jembatan yang tadi kami lewati sudah tak terlihat bentuknya tertutup aliran air yang sangat deras.
Di tengah hujan yang sangat deras disertai kabut yang menambah suasana makin menyeramkan, paman dengan berani mengarahkan jalan, beberapa kali terhuyung karena derasnya air banjir. Akhirnya mobil kami bisa melewati jembatan, di belakang paman terlihat mengikuti dan masuk kedalam bagasi mobil karena tubuhnya yang basah dan kotor. Aku bernafas lega kami berhasil melewati derasnya banjir dan bisa pulang dengan selamat, meski paman harus menggigil kedinginan karena suhu yang dingin. Tadi benar-benar hal yang tak terduga, banjir yang menghalangi jalan disertai kabut dan hujan deras, beruntung mobil kami tidak terjebak di jalan yang berlubang. Paman juga sangat hebat mampu mengarahkan mobil di tengah hujan dan kabut tak takut ada makhluk halus yang datang. Jam menunjukkan pukul 17:30 sudah waktunya berbuka karena disini waktu lebih cepat, sebelum pulang kami membeli martabak untuk takjil berbuka.

Kami menuju rumah paman dulu baru menuju rumah kami, hal yang paling mengejutkan adalah rumah kami di selimuti kabut. Sepertinya hujan juga turun disini, segera bunda membuka pintu rumah, ayah segera berlari ke kamar mandi aku dan Abraham berlari menuju hidangan takjil. Bunda menanyai bagaimana perjalanan dan apakah terjadi kendala, aku pun menceritakan hal yang terjadi selama pergi, bunda mendengarkan dengan rasa khawatir. Abraham berkata dengan percaya diri bahwa dialah yang menjagaku selama diperjalanan, tentu saja dia bohong selama didalam mobil dia yang paling ketakutan. Ayah bersegera duduk meriung bersama kami di lantai, kami mengisi waktu berbuka dengan candaan dan obrolan santai tanpa sadar ada seekor hewan yang ikut menikmati takjil. Sesaat kukira itu adalah mainan Abraham yang dimainkan sambil makan, namun setelah mengingat Abraham kan tidak punya mainan kalajengking. Aku menjerit saat kalajengking itu berjalan mengarah padaku dengan ekor yang berdiri bersiap menusukku. Ayah mengambil sapu dan menggiring kalajengking itu menuju pintu, mungkin rumah kalajengking itu terendam air akibat hujan jadi dia pergi mengungsi ke rumah kami.
Baru kusadari dalam sehari ini banyak kejadian yang kualami, kupandangi bulan malam ini berbeda dengan di Jakarta bulan terlihat lebih indah di kampung, pasti karena tidak banyak polusi udara tidak seperti di Jakarta. Bulan terlihat bulat sempurna, tanggal 15 bulan Ramadhan memang hari yang indah, kubuka kaca balkon rumah, udara dingin menerpa wajah sebuah tepukan mendarat tepat di bahuku. Sultan sepupuku menatapku dengan wajah terheran-heran, dia membawa sekeranjang penuh jeruk purut lalu menggandeng tanganku masuk menuju rumah. Sudah masuk waktu maghrib ternyata dan semua keluargaku sudah berkumpul di ruang tengah, membaca doa berbuka puasa dan menikmati takjil. Hujan turun secara tiba-tiba, membuat Sultan, Abraham, dan Syifa berseru kegirangan, tidak salat tarawih di masjid pastinya. Aku tersenyum memandangi wajah mereka, hingga suara jeritan tante Inun mengalihkan perhatian. Seekor kalajengking sedang duduk tepat di tengah-tengah takjil, ayah segera mengusirnya dengan sapu menuju pintu rumah. Sekali lagi ku tersenyum, benar kata ayah jika sedang hujan hewan atau serangga pasti akan mengungsi ke rumah manusia karena rumah mereka pasti terendam air akibat hujan.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.