Majalah Sunday

Sebuah Cerpen - Kenangan yang Tak Pernah Ada

Penulis: Wa Ode Neva Shafiyah

Langit senja di bulan Ramadan selalu membawa suasana berbeda. Cahaya keemasan merayap perlahan di ufuk barat, menyelimuti jalanan dengan nuansa hangat yang perlahan memudar. Angin sore bertiup lembut, membawa aroma teh manis dari rumah-rumah yang bersiap menyambut waktu berbuka. Samar-samar, suara ayat suci mengalun dari masjid, berpadu dengan gelak tawa anak-anak yang berlarian di halaman, menunggu takjil yang akan dibagikan.

Aku berdiri di ambang pintu masjid, menyandarkan bahu pada pilar kayu yang dingin. Tanganku menyilang di dada, sementara mataku mengamati anak-anak yang duduk melingkar di halaman balai desa. Mereka bercanda, saling dorong, dan sesekali melompat kegirangan saat seseorang datang membawa nampan berisi bungkusan kecil. Di dalamnya ada roti, susu, atau permen, sesuatu yang selalu mereka tunggu setiap selesai tarawih.

Mereka menerima jaburan itu dengan penuh semangat, saling berbagi dan menikmati kebersamaan yang tampak begitu erat. Tawa mereka melayang di udara, bercampur dengan suara azan Isya yang menggema dari Masjid. Aku menelan ludah, tiba-tiba merasakan sesuatu mengganjal di dadaku.

Aku menghela napas pelan, mengeratkan genggaman pada ujung lengan mukenaku. Sejak kecil, pemandangan seperti ini sudah sering kulihat, tetapi aku tidak pernah menjadi bagian darinya. Di usia tujuh belas ini, aku kembali berada di tempat yang asing. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadan kali ini adalah lembaran baru yang kosong, tanpa kenangan, tanpa cerita yang bisa kuulang dengan tawa. Aku merasa seakan berada di atas kanvas putih yang menunggu goresan warna, sebuah janji yang belum terlukis oleh waktu.

Kenangan yang Tak Pernah Ada

Aku tidak pernah benar-benar memiliki satu tempat yang bisa kusebut rumah. Sejak kecil, aku berpindah dari satu kota ke kota lain, menyeberangi pulau, meninggalkan jejak yang belum sempat menetap. Dari Sulawesi hingga Jawa, setiap tempat hanya menjadi persinggahan yang sesaat. Ketika orang lain tumbuh dengan lingkungan yang sama, mengenal tetangga dan teman sejak kecil, aku hanya menjadi bayangan yang datang dan pergi, terlalu cepat untuk benar-benar diingat.

 

Setiap Ramadan, anak-anak di lingkungan baruku selalu menyambut bulan suci dengan semangat. Mereka bergabung dalam panitia remaja masjid, membantu menyiapkan takjil, memasang lampu hias di sepanjang jalan, dan mengatur shaf shalat tarawih di balai desa. Aku sering diajak bergabung, tetapi aku selalu menolak.

 

“Gabung saja, nanti seru kok,” kata seorang anak yang kutemui di salah satu kota tempat tinggalku dulu.

Aku hanya tersenyum kecil dan menggeleng. “Aku nggak yakin bisa lama di sini.”

 

“Tapi kan Ramadan tetap bisa dinikmati bareng-bareng,” katanya lagi.

Aku menggigit bibir, menundukkan kepala. Dalam pikiranku, tidak ada gunanya membangun kebersamaan yang hanya sementara. Setiap pertemanan hanya akan berakhir dengan perpisahan. Setiap tempat yang mulai terasa akrab akhirnya harus kutinggalkan lagi. Bayangan keakraban itu, bagai embun yang menguap di bawah terik matahari, hanya hadir sejenak sebelum lenyap ditelan arus waktu.

Ramadanku terasa berbeda dari anak-anak lain. Saat mereka berkumpul di Balai Desa untuk tarawih bersama, aku mengikuti ibuku ke Masjid, berdiri di shaf perempuan di antara para ibu dan nenek-nenek yang khusyuk beribadah. Aku menjalankan tarawih dalam diam, tanpa teman sebaya yang bisa kusapa. Tidak ada canda selepas salat, tidak ada kehebohan berburu jaburan, tidak ada kebersamaan yang mengikat.

Kenangan yang Tak Pernah Ada

Ketika salat usai, aku melihat anak-anak di Balai Desa menerima bungkusan kecil mereka. Wajah mereka berbinar saat membuka isi jaburan, saling bertukar roti dan permen sambil bercanda. Aku hanya bisa melihat dari kejauhan, menggenggam ujung mukena tanpa benar-benar tahu apa yang kurasakan. Dadaku terasa sesak, tapi aku hanya bisa menelan semua itu dalam diam. Tidak ada yang memberikan jaburan untukku, karena aku bukan bagian dari mereka.

Suatu malam, selepas tarawih, seorang wanita paruh baya menepuk pundakku.

“Kamu nggak pernah ikut ngobrol sama anak-anak lain, Nak?” tanyanya dengan lembut.

Aku tersenyum kecil, tetapi mataku tidak bisa menyembunyikan kehampaan. “Mungkin nanti, Buk.”

Tetapi “nanti” itu tidak pernah datang.

Kini, aku berada di tempat yang berbeda lagi. Kota ini bukanlah tempat tinggalku sebelumnya, bukan pula jejak langkah yang pernah kukenal dengan akrab. Ramadan kali ini masih menghadirkan suara azan yang terdengar dari masjid yang baru bagiku, dengan wajah-wajah baru yang masih terasa asing. Namun, di balik keanehan lingkungan ini terselip harapan untuk menemukan arti yang selama ini hilang.

Aku melihat remaja-remaja masjid berbincang akrab selepas tarawih, berbagi canda di antara sujud dan salam, menyusun acara dengan penuh semangat. Aku menyadari bahwa mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah kumiliki, sesuatu yang selama ini kuabaikan. Mereka tumbuh bersama, menciptakan kenangan yang kelak akan mereka kenang dengan hangat, bagai pohon yang akarnya tertanam kuat dalam tanah yang subur.

Aku berpikir, bagaimana jika dulu aku mengiyakan ajakan-ajakan itu? Bagaimana jika aku berani melangkah lebih dekat, membiarkan diriku menjadi bagian dari mereka? Mungkin Ramadanku tidak akan terasa sesunyi ini. Mungkin aku akan memiliki cerita yang bisa kuulang dengan tawa, bukan hanya ingatan samar tentang tempat-tempat yang pernah kutinggali.

Aku mengepalkan jemari, menatap lantai masjid yang dingin. Aku bisa merasakan denyut kecil di dadaku, perasaan yang dulu tak pernah kupedulikan. Dulu, aku adalah seseorang yang memilih untuk menjaga jarak, menutup diri sebelum bisa terluka. Aku takut perpisahan, takut kehilangan, takut ditinggalkan. Tetapi, bukankah dengan menolak semua itu, aku justru kehilangan sesuatu yang lebih berharga?

Hidup tidak pernah menawarkan kesempatan untuk mengulang. Kenangan yang tidak pernah ada akan tetap menjadi bayangan, tetapi bukan berarti masa depan harus berjalan dalam kesepian yang sama. Aku masih bisa melangkah, mendekat, dan mulai menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak berdiri di tepi setelah shalat tarawih usai. Aku melihat sekelompok remaja masjid berbincang di Serambi, tertawa kecil sambil membahas kegiatan besok. Aku ragu sejenak, jemariku gemetar di sisi tubuh. Namun, entah mengapa, kakiku mulai melangkah ke arah mereka.

Mungkin, Ramadan tahun ini bisa menjadi awal, seperti fajar yang menyingsing setelah malam panjang yang penuh keraguan. Mungkin, sudah saatnya aku membangun kenangan yang bisa kuingat di masa depan.

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1