Penulis: Ika Melinda Misdianingsih
Aku menatap pintu gerbang yang tertutup, tanganku dengan cepat membuka pintu gerbang. Senyumku melebar saat melihat Nenek sudah pulang dari kegiatan senam sorenya. Astrid Meliana adalah namaku, aku biasanya dipanggil Meliana. Aku baru saja menginjak umur 8 tahun, dan aku baru saja naik kelas 5.
Aku senang saat aku berada di rumah nenek, karena aku akan bertemu dengan sepupuku, Vania. Dia lebih muda satu tahun dariku, dia tinggal di sebelah rumah nenek. Jadi aku sangat senang pulang ke rumah Nenek, apalagi ada bayi di rumah Nenek, yaitu anak Tante Tania.
Selama ada di rumah Nenek, aku selalu menemani anak Tante Tania bersama Vania. Karena keakraban antara aku dan Vania, membuat kami berdua saling percaya satu sama lain. Aku dan Vania sangat suka bermain, tak luput suka sekali membeli makanan ringan.
Bahkan aku dan Vania suka sekali bersepeda di sekitar kompleks rumah nenek. Biasanya aku akan memakai sepeda kakak Vania, yaitu Vanilla. Namun, suatu hari di hari puasa, kakak Vania sedang menggunakan sepeda itu untuk pergi bermain sama teman temannya. Dengan terpaksa aku memakai sepeda ontel milik Nenekku.
“Kamu mau ke mana Meli? Vania?” pertanyaan itu terucap di bibir Nenek mereka.
Aku selaku gadis yang lebih muda di antara kita berdua pun menjawab pertanyaan Nenek. Aku menyenderkan sepeda ontel nenek ke tembok.
“Aku sama Vania mau pergi beli es buah, nek.”
“Loh, mau berdua aja? Sudah kalian di rumah saja, biar dibeliin mba Yayah.”, ujar nenek.
Aku dan Vania saling pandang, Vania menatapku seakan akan penuh harap untuk jalan-jalan sore dengan sepeda. Aku akhirnya menatap Nenek lagi, dengan tersenyum aku menatap nenek.
“Aku sama Vania mau beli sendiri aja, Nek. Lagian mba Yayah kan belum pulang, aku engga mau nunggu mbak Yayah.”
Ucapanku mengundang tatapan dari berbagai manusia yang hadir. Mulai dari Ibuku, Ayahku, Om Trisno yaitu saudara dari Ibuku. Nenekku menatap aku dan Vania, dia mendekati kami. Tangan nenek mengelus rambut Vania dan aku, aku pun akhirnya menatap nenekku.
“Kalian di sini saja ya, nanti Nenek telpon mbak Yayah,” ucapan Nenek dibalas gelengan oleh aku.
“Meli, jangan membantah. Di sini saja, main sama Vania di ruang tamu. Kalau kamu ke jalan raya, lagi ramai.”
Tiba-tiba Ibu berbicara, membuat aku dan Vania dengan cepat menatap ke arah Ibu. Aku menghampiri ibu, dengan merengek aku meminta izin untuk bisa beli es buah dan jalan jalan.
“Terserah kamu, Meli. Ibu udah bilangin, kalau kamu masih mau pergi. Yaudah sana pergi, ini uangnya,” Ibu memberikan satu lembar uang berwarna biru itu kepada aku.
Aku dengan senang hati menerima uang tersebut, dan menaruhnya di kantong celanaku. Aku dengan cepat bersama Vania berjalan ke sepeda dan bersiap untuk pergi. Awalnya aku sedikit kesulitan menaiki sepeda ontel, karena terlalu tinggi.

Puasa hari pertama bagiku ini akan menyenangkan, menurutku. Karena aku akan ngabuburit dengan Vania hari ini. Akhirnya kami berdua berjalan bersama dengan sepeda kami masing masing.
Namun, saat berada di belokan. Aku terkaget saat ada sebuah motor yang dengan cepat berbelok ke arahku. Aku yang tidak siap akhirnya terpaksa untuk turun dari sepeda dan mengerem. Dan ternyata tepat saat kaki kiriku menyentuh tanah, tempat yang aku injak adalah sebuah lubang got yang kecil. Hal tersebut membuat kakiku yang kecil masuk begitu saja ke lubang got.
Aku terjatuh dengan sepeda yang ikut menimpa tubuhku, seketika di tempat tersebut ramai saat melihat aku tertimpa sepeda. Namun, aku menyadari satu hal, kakiku rasanya bengkok dan sakit. Di situ aku dengan cepat berteriak dan menangis, aku panik saat kakiku tidak bisa ditarik keluar dari lubang got.
Semua warga yang melihat pun ikut panik dan jalanan semakin ramai, semua warga membantu aku untuk keluar dari got. Untungnya kakiku bisa keluar dari got, walaupun dengan keadaan mengenaskan.
Kakiku yang awalnya lurus seketika berbelok, aku merasakan kakiku saat itu menghilang, tidak ada rasa sakit, ataupun merasakan kakiku. Aku berjalan seperti orang buntung, kaki kiriku tak bisa aku tapak. Kaki kiriku hanya bisa melayang dan berjalan tertatih di pelukan Ayah, hingga akhirnya Ayah menggendong tubuhku dan membawa pulang ke rumah nenek.
Saat aku sampai, Ibu menangis melihat aku yang tak bisa berjalan, dia dengan cepat memanggil tukang pijat untuk mengobati kakiku. Itu kesalahan pertama dalam hidupku yang membuat kesalahan fatal di masa depan.

Sampai akhirnya aku pun terapi ke segala tukang pijat untuk diobati. Entah yang berada di daerah rumahku, atau di rumah nenek. Semua telah mengobati kakiku, tapi kakiku tetap saja bengkok, walau ada sedikit perubahan.
Hingga akhirnya tahun demi tahun berlalu, aku sudah kembali sehat dan bisa jalan seperti biasa. Namun, kakiku sekarang menjadi kaki yang menyilang dan tak bisa berlari atau berjalan lama. Kakiku seakan akan menjadi rapuh dan itu menjadi penyesalan dalam hidupku. Untungnya lubang got waktu itu sekarang sudah di tutup, aku setiap melewati tempat itu selalu merasakan trauma akan kakiku.
Memang benar, setiap perbuatan kadang akan menjadi timbal balik pada diri sendiri. Mungkin saja kalau aku tidak membantah ucapan Nenek dan Ibuku, sekarang kakiku seperti remaja biasanya. Aku bisa berlari dan berjalan lama, aku merasakan kekurangan dari kakiku, entah itu sering keseleo ataupun penyakit lainnya.
Ingatlah untuk tetap mengikuti ucapan Ibu dan Nenek, jangan durhaka pada orang tua. Karena orang tua tahu apa yang mereka rasakan dan apa yang akan terjadi pada anaknya.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.