Penulis:Aisya Putri Anjani
Malam itu, malam pertama Ramadan, rembulan bersinar terang memberi kehangatan di tengah kesunyian, untuk gadis yang sedang kalut pada kesedihan. Entah sudah berapa lama ia menangis tanpa suara, di dalam kamar bernuansa merah muda, warna kesukaan sang Bunda. Baginya, kamar itu selalu memberi kehangatan untuknya. Namun, pada malam ini kamarnya terasa dingin, di tambah lampu kamar yang sudah redup mengingatkannya pada sang Bunda tercinta.
Satu tahun yang lalu adalah adalah suatu hal yang membuat dirinya kehilangan segalanya, kehilangan sosok Bunda dalam hidupnya. Satu tahun telah berlalu, hati sang gadis berangsur angsur kembali pulih. Gadis tersebut bernama Lestari Ayuningtyas, kini ia sudah menginjakan kakinya di umur 18 tahun, ia tumbuh menjadi gadis cantik yang berperilaku sopan santun. Ayu adalah anak bungsu, ia memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Ika, perbedaan umur mereka hanya terpaut 2 tahun. Sang kakak sangat menyayangi Ayu, Ika sampai rela untuk tidak berkuliah, demi membantu sang Ayah kerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya
Ayu masih ingat saat-saat Ramadan di rumahnya. Suasana yang tenang dan damai, aroma masakan sang Bunda yang menggugah selera, dan suara adzan yang menggema di pagi hari. Namun, tahun ini berbeda. Sang Bunda tidak ada lagi. Beliau meninggalkan keluarga kecilnya dengan banyak kenangan hangat, termasuk Ramadan di tahun lalu dan terkadang keluarganya masih merasa kehilangan.
Ramadan kali ini terasa kosong tanpa sang Bunda. Kakak beradik tersebut tidak bisa menyambutnya dengan penuh semangat seperti biasanya. Tapi, sang Ayah selalu mengingatkan mereka bahwa Ramadan bukan hanya tentang menyambutnya dengan penuh semangat, tapi juga tentang meningkatkan iman dan taqwa. Mereka tetap melakukan kegiatan Ramadan seperti biasanya, tapi dengan perasaan yang berbeda. Mereka lebih banyak berdoa dan memohon ampun kepada Allah.

***
Pada hari Jumat, Ayah mengajak Ayu dan Ika untuk melakukan kegiatan menarik di Ramadan. Mereka memutuskan untuk mengunjungi panti asuhan dan memberikan bantuan kepada anak-anak yang membutuhkan. Ayu membeli beberapa barang yang dibutuhkan oleh anak-anak di panti asuhan, seperti makanan, minuman, dan mainan. Ayu dan Ika juga mempersiapkan beberapa kegiatan menarik, seperti menggambar, mewarnai, dan bermain game.
Saat Ayu dan keluarganya tiba di panti asuhan, anak-anak sangat gembira melihat kedatangan Ayu. Mereka langsung menghampiri Ayu dan memeluknya.
“Hai kakak cantik, nama kakak siapa?” kata salah satu anak panti.
“Hai juga, nama aku Ayu,”jawab Ayu sembari menundukkan diri agar menyamakan tingginya dengan anak itu, “Kalau kamu namanya siapa?”
“Nama aku Cika, kakak cantik.” Cika tersenyum dengan menunjukkan gigi kecil miliknya. Ayu sangat gemas dengan tingkah laku Cika.
“Cika mau roti gak? Aku punya roti enak banget lho.” Ayu menunjukkan roti rasa coklat itu kepada Cika. Betapa gembiranya anak kecil di hadapan Ayu, matanya langsung berbinar ketika melihat roti dengan isian coklat.

“CIKA MAU KAK!” jawab Cika dengan antusias. Setelahnya, Ayu memberi roti tersebut kepada anak kecil bertubuh mungil itu. Cika sangat menikmati roti coklat itu, ia memakannya dengan lahap. Betapa bahagianya Ayu, melihat anak perempuan kecil di hadapannya sangat bahagia hanya karena roti coklat pemberiannya.
Kemudian Ayu dan Ika melakukan kegiatan yang telah dipersiapkan. Anak-anak sangat antusias dan bersemangat. mereka menggambar, mewarnai, dan bermain game dengan sangat gembira. Setelah melakukan kegiatan, Ayu dan Ika memberikan bantuan kepada anak-anak. Anak-anak itu sangat berterima kasih dan memeluk Ayu.
Ayu dan Ika kemudian kembali ke rumah dan merasa sangat puas dengan kegiatan yang telah mereka lakukan. Sang Ayah sangat bangga dengan kedua putrinya dan mengatakan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang sangat baik. Ayu dan Ika merasa bahwa kegiatan ini telah membantu mereka untuk melupakan kesedihan dan melakukan sesuatu yang positif.
*****
Keesokan malamnya, Ayu bermimpi sang Bunda, Bunda datang memeluk tubuh ramping Ayu dan mengusap pelan punggung putri bungsunya. Pelukan itu terasa nyata, pelukan hangat yang sangat Ayu rindukan dan tidak bisa dia rasakan lagi.
“Bunda, Ayu kangen sekali,” rintih Ayu dengan sekuat tenaga menahan isak tangisnya, air mata sedikit demi sedikit mengalir di pipi putih nan mungil milik Ayu.
“Bunda juga kangen sama Ayu, nak.” jawab sang Bunda, sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi putri bungsunya.
“Ayu, terima kasih sudah mengizinkan Bunda pergi. Sekarang, Ayu harus terus maju dan tidak boleh menyerah. Masa depan Ayu masih panjang, dan jangan tinggalkan salat fardu ya nak, agar Allah SWT selalu menyayangi Ayu. Bunda berharap di Ramadan kali ini, Ayu fokus untuk berbenah diri, jangan lupa untuk berkunjung ke rumah Bunda dan mendoakan Bunda, nak.” ucap sang Bunda sambil menangkup kedua pipi putri bungsunya.

“Tapi, Ayu takut sendirian,” isak tangis Ayu pecah, ia tak mampu membendung air matanya lagi, dadanya mulai sesak, oksigen di udara seperti hilang begitu saja.
“Ayu tidak sendiri, Bunda selalu bersama kalian.” Sejenak, Bunda memandangi wajah Ayu dan tersenyum hangat kepada sang bungsu, “Bunda selalu ada di dalam sini.” jawab Bunda, sembari meletakkan tangannya di dada Ayu. Itu menandakan bahwa Bundanya akan selalu berada di dalam hati sang putri bungsu tercinta.
Ayu terbangun dari tidurnya, pipinya basah karena air mata, mimpinya terasa sangat nyata. Pelukan Bundanya juga terasa sangat nyata. Ia teringat kembali pesan Bundanya untuk terus melangkah maju dan membenah diri di bulan Ramadan kali ini, dengan mendekatkan diri kepada Allah. Ayu akan selalu mengingat pesan sang Bunda, dan tidak akan pernah melupakannya.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.