Penulis: Gresia Latifany Putri
Ramadan di masa kecilku selalu penuh keajaiban. Tidak hanya karena bau harum kolak yang menyeruak dari dapur ibu atau gema suara bedug yang menggetarkan senja. Momen ini tak akan pernah bisa aku lupakan. Sesuatu yang hanya bisa kualami saat aku masih kecil, di sebuah tempat yang kusebut dengan Kampung Bintang.
Aku masih mengingat malam itu, saat aku terbangun untuk sahur. Biasanya diriku sulit untuk dibangunkan untuk sahur karena rasa kantuk yang masih menguasai. Tapi entah mengapa malam itu seakan-akan ada yang membangunkanku. Mataku terbuka begitu saja. Aku melangkah keluar dari kamarku berharap menemukan ibu di dapur, tetapi yang kudapatkan adalah ruangan yang dingin, sunyi serta keheningan.
Namun, ada yang aneh. Rumah kami masih sama seperti biasa, tapi di luar jendela aku melihat sesuatu yang berbeda. Langit tak lagi berwarna malam yang gelap, melainkan biru keunguan dengan bintang-bintang yang bersinar lebih terang dan dekat dari biasanya; seakan-akan mereka hanya berjarak beberapa meter dari tanah.
Aku membuka pintu rumahku dan menemukan sesuatu yang lebih ajaib lagi. Bukannya halaman rumah kami, aku berdiri tegak di tengah sebuah desa kecil yang sangat bercahaya. Masing-masing rumah seakan akan memiliki cahaya. Rumah-rumah tersebut tentu bukan rumah biasa, melainkan rumah-rumah tersebut terbuat dari kristal yang berkilauan, dan di atasnya terdapat bintang-bintang menggantung seperti lampion.
Seketika mataku terbelalak kagum kar’na melihat indahnya rumah-rumah itu. Namun di satu sisi, aku melihat seorang anak laki-laki berdiri tak jauh dariku. Ia mengenakan pakaian berwarna putih dengan syal emas yang terpasang rapi di lehernya.

“Eh? Kamu baru datang?” tanyanya ramah.
Aku mengangguk, terlihat bingung dengan suasana di sekitarku. “Ini di mana ya?”
“Oh, selamat datang di Kampung Bintang,” jawabnya ramah. “Tempat di mana anak–anak datang saat mereka memiliki kenangan Ramadan yang saat kuat saat mereka masih kecil,” sambungnya.
Aku tidak mengerti, tapi entah mengapa hati ini merasa sangat hangat. Seperti ada sesuatu yang menuntunku untuk tetap di sini.
Suatu hari, anak-laki laki itu mengajakku berjalan melewati desa. Di sepanjang jalan, aku melihat beberapa anak-anak lain yang sedang tertawa gembira, bercanda ria, ada yang bermain petasan, dan ada juga yang duduk di depan rumah, menatap langit dengan mata berbinar.
“Halo, kalian semua ke sini karena kenangan Ramadan?” tanyaku.
Mereka mengangguk dengan tersenyum. “Ramadan membawa keajaiban. Setiap anak yang memiliki kenangan Ramadan yang indah saat mereka masih kecil, bisa datang ke sini kapanpun dalam mimpinya.”
Aku terdiam. Kenangan Ramadan? Aku mengingat bagaimana setiap tahun, aku selalu berbuka puasa bersama Ayah dan Ibuku. Bagaimana aku tertawa saat Ayah dengan sengaja menyembunyikan kurmaku, atau bagaimana Ibu yang selalu menggenggam tanganku saat tarawih karena takut kehilangan diriku yang berenang ke dalam lautan manusia.
Tiba-tiba, anak-anak mulai berjalan menuju sebuah bangunan besar di tengah desa. Sebuah masjid bercahaya dengan kubah emas berkilauan.
“Ini waktunya tarawih,” ujar anak laki-laki itu.
Kami masuk ke dalam, dan tiba-tiba aku melihat sesuatu yang lebih ajaib lagi dan terlebih lagi berhasil mencuri perhatianku. Para makmum di sana bukan hanya anak–anak, tapi juga cahaya-cahaya kecil yang melayang di udara. Mereka berbaris rapi, mengikuti gerakan imam yang juga bersinar.
Saat aku berdiri dan mengangkat kedua tanganku takbir, aku merasakan ketenangan yang sangat luar biasa. Seakan-akan, di tempat ini tidak ada yang bisa mengganggu kedamaian Ramadan.
Setelah tarawih, anak laki-laki itu mengajakku ke sebuah lapangan luas di tengah desa. Di sana, anak-anak lain duduk melingkar, menunggu sesuatu.
Aku bertanya, “Apakah kita akan berbuka puasa?”
Ia tersenyum, “Tentu. Tapi di sini, kami berbuka dengan cahaya.”

Aku mengerutkan kening, bingung. Tapi kemudian, aku melihatnya. Bintang-bintang kecil mulai jatuh dari langit. Tapi mereka bukanlah sekadar bintang biasa, melainkan buah-buahan bercahaya. Ada yang berbentuk apel keemasan, ada juga yang menyerupai kurma berwarna biru terang, dan ada juga yang seperti anggur berpendar lembut.
Satu bintang jatuh tepat ke tanganku. Saat aku menggenggamnya, bintang itu berubah menjadi sebutir kurma hangat. Dan kemudian aku menggigitnya, dan rasanya luar biasa. Seperti setiap kenangan berbuka puasa yang pernah kumiliki, bercampur menjadi satu.
Aku memejamkan mata. Dalam sekejap, aku teringat bagaimana Ibu selalu menyuapiku saat aku masih kecil, bagaimana Ayah tersenyum setiap kali aku berhasil menyelesaikan puasaku dengan baik, dan bagaimana rumah kami selalu dipenuhi cahaya lampu minyak di malam-malam Ramadan.
Aku membuka mata, dan aku melihat anak laki-laki itu tersenyum kepadaku.
“Kamu ingat kenangan Ramadan terindahmu ya?”
Aku mengangguk pelan. “Ya… Aku ingat.”
Malam semakin larut di Kampung Bintang. Aku mulai merasakan kantuk yang luar biasa, dan dunia di sekitarku perlahan-lahan menjadi kabur.
“Sudah waktunya kamu pulang,” kata anak laki-laki itu.
Padahal aku sangat ingin bertanya lebih banyak tentang siapa dia sebenarnya, tentang bagaimana tempat ini bisa ada, dan apakah aku bisa kembali lagi. Tapi sebelum aku sempat berbicara, aku merasakan cahaya yang lembut menyelimutiku dan membuat mataku semakin berat.
Sebelum segalanya menjadi gelap, aku mendengar suara lembutnya berkata, “Jangan pernah lupakan kenangan Ramadanmu ya? Karena selama kau mengingatnya, Kampung Bintang akan selalu ada.”

Kembali ke rumah, aku terbangun dengan suara lembut ibu yang membangunkanku untuk sahur. Aku masih di kamarku, dan dunia di luar sudah kembali seperti biasanya. Tidak ada rumah kristal, tidak ada bintang jatuh, dan tidak ada anak laki-laki dengan syal emas.
Tapi entah mengapa, aku merasa berbeda. Ada kehangatan di dadaku, seakan-akan aku baru saja mengalami sesuatu yang sangat luar biasa.
Saat aku duduk di bangku meja makan, Ibu bertanya kepadaku, “Kamu terlihat bahagia hari ini, ada apa? Mimpi indah ya?”
Aku tersenyum kecil. “Iya, Bu. Aku bermimpi tentang Ramadan yang penuh keajaiban.”
Ibu tersenyum, mengusap kepalaku dengan lembut. “Ramadan memang penuh keajaiban, nak. Dan selama kita menyimpannya dalam hati, ia akan selalu terasa istimewa.”
Aku menggenggam sendok, menatap makanan sederhana yang ada di hadapanku, telur dadar, ayam goreng, tempe goreng, sayur sop dan sepiring nasi hangat. Tidak ada istilah buah bintang atau minuman bercahaya. Tetapi aku tahu satu hal. Keajaiban Ramadan bukan hanya ada dalam mimpi saja, ia ada di setiap detik yang kita lewati. Dalam tawa keluarga, dalam doa yang kita panjatkan, dan dalam setiap kenangan yang kita simpan dalam hati.
Dan sejak malam itu, aku percaya bahwa suatu hari nanti, di Ramadan yang akan datang, aku akan kembali ke kampung Bintang. Tempat di mana kenangan-kenangan indah tidak akan pernah pudar.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.