Penulis: Alya Khanza Ramadhani Yuwono
Aku duduk di ruang makan, menatap makanan hidangan untuk berbuka yang tersaji rapi di atas meja. Kolak pisang hangat menguap di mangkuk, di sampingnya terdapat es blewah kesukaanku. Ibu sibuk di dapur, memastikan soto ayam tidak gosong. Sementara Ayah, duduk di sofa membaca koran seperti biasanya.
Adikku, Azalea, menarik-narik lenganku. “Kak, ayo kita bermain. Aku bosan!”
Aku tertawa kecil, “Nanti, habis tarawih saja. Bisa?” Azalea cemberut lalu mengangguk kecil, Awas bohong. Ya udah habis tarawih aja.”
Suara azan Maghrib berkumandang, sebuah melodi yang kita tunggu akhirnya terdengar. Ayah tersenyum, melipat korannya. “Ayo berbuka!”
Kami berbuka puasa dengan semangat. Hangatnya suasana Ramadan benar-benar memenuhi ruang makan. Setelah makan, kita bersiap-siap untuk pergi ke masjid.
Aku menggandeng tangan Azalea, berjalan melewati gang-gang kecil menuju masjid di ujung jalan. Anak-anak kecil berlarian, membawa obor, tertawa bahagia.
Malam ini sangat sempurna, seperti Ramadan sebelumnya. Namun, sesuatu terasa… aneh.

Saat aku melangkah masuk ke dalam masjid, suasana mendadak hening. Aku seketika itu juga melihat sekelilingku, tidak ada siapa-siapa. Masjid yang tadinya ramai kini kosong.
Aku panik, kemudian berteriak, “Azalea!!! Di mana kamu?”
Adikku tidak ada. Begitu juga Ayah dan Ibu.
Aku merasakan sesuatu yang dingin merayap di leher belakangku. Aku berlari keluar, mencari mereka.
Aku mempercepat langkah menuju rumah. Begitu sampai, rumah itu kosong. Jendelanya berdebu, catnya mengelupas, dan pintu tergembok rapat. Seperti… rumah yang telah lama ditinggalkan.
“Tidak mungkin…” Aku mundur selangkah, kepalaku berdenyut. Barusan saja aku berbuka puasa bersama di rumah ini, bersama keluargaku.
Lalu kenapa sekarang rumah ini terlihat seperti sudah bertahun-tahun tak berpenghuni?
Tiba-tiba seorang pria tua menepuk pundakku dari belakang, “Mas cari siapa? Ini rumah kosong, apa mas tersesat?” tanya satpam itu kepadaku.
Aku langsung menatap pria tua itu, “Pak, apakah Bapak kenal dengan keluarga Vian?” tanyaku, menyebut nama Ayahku.
Pria itu menyerit, “Vian?” dia menggeleng. “Tidak ada keluarga bernama Vian di kampung ini, Nak. Ada apa?”
Hatiku saat itu juga sakit, napasku tersentak, jantungku mencelos. “Tidak mungkin, Pak. Saya tumbuh dan besar di rumah ini.”

Pria tua itu terdiam sejenak, lalu menatapku dengan sorot iba. “Nak, rumah ini sudah kosong selama belasan tahun lalu. Keluarga yang tinggal di sini mengalami kecelakaan.”
“Kecelakaan?” suaraku hampir tidak terdengar.
Pria tua itu mengangguk, “Seingat saya, hanya ada satu anggota keluarga yang selamat dari insiden itu.”
Aku mundur selangkah. Napasku tiba-tiba tercekat. Aku satu-satunya yang selamat?
Aku merasakan air mata mengalir di pipiku. Aku ternyata kehilangan mereka sejak lama… tapi aku terus hidup dalam bayangan masa lalu, seolah-olah mereka masih hidup.
Aku terjatuh di trotoar, memegangi kepalaku yang terasa seperti dihantam ribuan jarum. Ingatan-ingatan lain menyeruak. Ingatan yang selama ini kusangkal.
Aku tidak pernah berbuka puasa dengan keluargaku. Aku tidak pernah berjalan ke masjid bersama Azalea. Aku tidak pernah merasakan kehangatan rumah itu lagi. Karena mereka sudah pergi.
Semua kenangan yang selama ini aku rasakan… ternyata hanya ilusi yang diciptakan oleh pikiranku yang menolak kenyataan.
Kecelakaan itu… aku ingat sekarang. Mobil kami ditabrak oleh truk dengan kecepatan tinggi, kemudian terguling dalam perjalanan pulang ke kampung. Aku tidak punya siapa-siapa lagi saat itu.
Tak lama aku bangkit, berpamitan dengan pria tua, satpam lalu pergi dari sana.
Malam itu, aku berjalan pulang ke panti asuhan tempatku dibesarkan setelah kecelakaan itu. Tempat yang selama ini kulupakan karena aku terlalu sibuk memeluk kenangan yang ternyata bukan kenyataan.
Ramadan kali ini… aku akhirnya benar-benar mengingat semuanya.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.