Penulis: Lisa Ariyani – SMKN 48 Jakarta
Sleep paralysis atau yang sering dikenal sebagai “ketindihan” merupakan fenomena tidur yang cukup umum dialami, terutama oleh remaja. Banyak orang masih mengaitkannya dengan hal-hal mistis karena sensasi yang ditimbulkan terasa sangat nyata dan menakutkan. Padahal, dalam dunia medis, kondisi ini sudah dijelaskan secara ilmiah sebagai bagian dari gangguan tidur yang terjadi saat tubuh dan otak tidak bekerja secara sinkron.
Secara ilmiah, sleep paralysis terjadi ketika seseorang terbangun di fase Rapid Eye Movement (REM), yaitu tahap tidur saat mimpi berlangsung dan otak masih aktif. Pada fase ini, tubuh secara alami “melumpuhkan” otot agar kita tidak bergerak mengikuti mimpi. Namun, ketika kesadaran muncul lebih dulu sebelum tubuh siap bergerak, seseorang akan merasa tidak bisa bergerak, bahkan kesulitan bernapas selama beberapa detik hingga menit.

Kondisi ini sering kali disertai dengan pengalaman yang terasa menyeramkan, seperti halusinasi visual atau suara, serta sensasi adanya “kehadiran” di sekitar. Hal tersebut sebenarnya merupakan efek dari otak yang masih berada dalam kondisi setengah bermimpi. Beberapa faktor yang dapat memicu sleep paralysis antara lain kurang tidur, stres, pola tidur yang tidak teratur, serta posisi tidur tertentu seperti telentang. Meski terdengar, kondisi ini umumnya tidak berbahaya secara fisik.

Dengan memahami penjelasan ilmiah di balik sleep paralysis, kita bisa melihat bahwa fenomena ini bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti secara berlebihan. Justru, penting bagi remaja untuk mulai menjaga pola tidur yang sehat dan mengelola stres dengan benar agar kejadian ini bisa diminimalkan. Yuk, mulai biasakan tidur teratur supaya tubuh tetap fit dan pikiran tetap tenang!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.