Penulis: Latisha Adenia Putri – Universitas Negeri Surabaya
Sunners, dulu kalian merasa gak sih waktu kita masih anak-anak, sering banget ada waktu untuk ngobrol sama orang tua? Tapi saat kita udah remaja, mulai jarang banget ngobrol bahkan lebih mementingkan kesibukan atau aktivitas diri sendiri? Padahal ya, saat kita senggang seharusnya kita punya waktu luang untuk bisa menghabiskan waktu bersama keluarga tetapi karena perbedaan itu hubungannya menjadi renggang.
Kira-kira kenapa bisa terjadi ya? Ada alasannya juga lho dan gimana sih cara kita mengatasinya? Yuk simak lebih lanjut!

Setiap kita mutusin untuk ngobrol dengan orang tua, pasti akan ada hal-hal yang tidak mengenakkan terjadi terutama tentang hal-hal tertentu. Kita sebagai anak terutama yang gen z, tentu masih butuh bimbingan dari mereka kan? Biasanya, waktu kita mengutarakan suatu pendapat akan ditentang dan merasa pandangan mereka adalah yang paling benar.
Sebagai contoh, kita ada rencana untuk pergi main bareng teman di siang hari dan waktu kita izin untuk pergi, mereka biasanya menetapkan waktunya seperti, “Jam 5 udah harus di rumah ya.” Pemikiran kita pasti itu terlalu awal untuk pulang di sore hari karena baru beberapa jam aja di luar tapi untuk pemikiran mereka, itu merupakan upaya terbaik agar anaknya aman.
Bagi mereka, bekerja dengan baik adalah yang terbaik untuk anak-anaknya tapi bagi kita, waktu bersama orang tua dan anak adalah hal yang selalu diinginkan. Mereka berpikir bahwa, jika orang tua terus terpaku untuk kerja, mereka bisa memberikan hal-hal yang bisa membahagiakan anak seperti barang-barang yang kita inginkan atau hal lainnya. Padahal, jika mereka meluangkan sedikit waktu untuk kita, itu sudah merupakan hal yang membahagiakan untuk kita.
Pada saat kita udah ada waktu nih untuk menghabiskan waktu bareng, terkadang waktu mereka gak sepenuhnya ada untuk kita. Ada kalanya nanti muncul kesibukan baru seperti ditelepon oleh rekan kerja, sibuk sendiri dengan handphonenya, dan lain-lain. Jadi, dari anak gen z pasti muncul perasaan sebal dan jadi berpikir, “Ngapain spend time bareng kalau akhirnya sibuk sendiri?” Walaupun menurut sisi orang tua, itu merupakan upaya terbaik dan merasa baik-baik saja tanpa adanya perasaan bersalah.

Di saat orang tua senggang dan anak gen z senggang, sebenarnya kita bisa lho untuk coba pelan-pelan ngobrol dengan hal-hal simple seperti tanya basa-basi, “Mama, udah makan siang belum?” Atau, “Hari ini mau masak apa, Ma?” Balasannya tentu akan bervariasi, bisa dijawab dengan panjang lebar, singkat, dan lain-lain. Tapi dari itu, kita bisa lebih ekspresif lagi buat lanjutin ngobrolnya dan sedikit demi sedikit bakal ngerasain hubungan yang lebih baik karena bisa tau orang tua kita lebih banyak.
Masih berkaitan dengan poin sebelumnya mengenai pandangan yang berbeda antara orang tua dan anak gen z, dari kita pasti ada rasa tidak setuju mengenai beberapa hal yang diutarakan oleh mereka. Pada saat ini terjadi, tentu kita ada rasa ingin berargumentasi kan? Maka dari itu, coba untuk validasi perasaan mereka terlebih dulu dengan setuju sama opininya. Setelahnya, baru kasih tau juga pandangan kita kayak apa.
Seperti contoh sebelumnya yaitu waktu pulang, posisinya kita gak setuju nih dengan statement itu. Kita boleh untuk mengelak tetapi dengan validasi dulu, “Ma… Mama benar kalau aku harus pulang sore karena takut aku kenapa-napa kan kalau pulang malam? Tapi aku kurang setuju kalau aku pulang jam 5 karena menurutku waktu mainnya terlalu cepat.”
Dengan itu, orang tua akan coba berpikir kalau waktu mainnya terlalu cepat. Tapi bukan berarti hal itu disetujui langsung oleh mereka dan kita harus tetap coba untuk memikat mereka agar mereka mengerti juga perasaan kita seperti apa.
Hal ini efektif untuk coba memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak. Dengan membuat kesepakatan, bisa membuat kita terbuka dengan orang tua dan mereka bisa percaya dengan apa yang kita sepakati.
Berkaitan dengan contoh sebelumnya, kita sangat bisa untuk menentukan dengan mengutarakan usulan untuk waktu pulang, “Ma… Kalau nggak gini deh, gimana kalau aku pulang jam 7 nanti? Aku bakal kabarin kalau udah mau pulang dan kalau aku belum pulang juga di jam itu, Mama bisa telepon aku untuk minta pulang. Gimana?”
Kesepakatan itu bisa menjalin hubungan erat. Biasanya jika kita langsung menentukan, mereka menyetujui karena kita yang membuat kesepakatannya terlebih dahulu. Yang berarti kita pasti akan menepati kesepakatan itu sehingga mereka juga merasa kalau kita sudah mulai bertanggung jawab dengan yang sudah ditentukan.

Mulailah mencoba untuk lebih terbuka dengan orang tua kita dan tidak apa-apa jika diawal terjadi kegagalan karena semua berawal dari kepercayaan kita dulu, yang berani mengutarakan serta percaya diri untuk bisa memperbaiki hubungan itu. Dengan kita mencoba, pasti akan lebih baik kok asalkan kita ada keinginan untuk memperbaiki dan tetap berusaha.
Hubungan antara kita sebagai anak gen z dan orang tua juga masih saling menyayangi dan membutuhkan walaupun di satu sisi udah mulai susah ngobrol antara satu sama lain. Bukan berarti susah ngobrol itu udah tidak saling menyayangi lagi ya.
Nah, kira-kira gimana nih menurut pandangan kalian? Coba tulis di kolom komentar yuk!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.