Skip to main content

Majalah Sunday

Karma Dan Bully

Penulis: Nama Lengkap – Institusi

Paragraf pertama
(harus ada keyphrase)

Bu Santi: “Eh Bu Jeni, ga boleh gitu. Hilatus kan kerja jadi maklum lah, Bu.” (Dengan nada meledek)

Bu Jeni: “Makanya neng, jangan terlalu ambisi kalo kerja, sewajarnya aja. Lagian Neng Hilatus terlalu cantik klo cuma kerja di kantoran, kan bisa kerja sampingan sama anak saya di karaoke gajinya besar lho kerjanya juga gampang.” 

Bu Santi: “Bener tuh Hilatus, lagian kamu kan pinter. Sayang lho kepintarannya ga kepake, kan bisa buat minterin orang, ya kan Bu?”

Bu Jeni: “Ya, jangan pinter-pinter banget lah Neng, nanti lelaki pada minder kalo deketin Neng, makanya jadi susah jodoh.”

Bu Santi: “Eh buka sudah jodoh, Bu. Kemarin kan menolak jodoh.” (Bu Santi dan Bu Jeni tertawa)

Menghela napas panjang, Hilatus segera membayar sayuran yang sudah ia pilih dan meninggalkan tempat. 

Hilatus: “Ibu-Ibu, saya duluan, ya.” 

Ibu-Ibu: “Iya, Neng sok mangga.”

Meski begitu Hilatus tak menjawab sepatah kata pun, hanya membalas dengan senyuman dan tak mau berbicara panjang lebar. Hilatus merasa orang-orang di sekitarnya tak pernah memberi celah untuk menunjukkan kebebasan dalam hal pendidikan, pekerjaan, bahkan status sosial.

Produk Rekomendasi Sunday

Setelah perkenalan singkat itu, Lisa dan Alis menjadi teman dekat di sekolah; mereka selalu barengan pulang sekolah karena rumah mereka juga dekat. Suatu hari ketika mereka sedang makan di kantin, tiba-tiba geng sekolah itu menghampiri mereka dan mulai membully Lisa.

“Hei Alis… kamu kenapa mau bergaul sama Lisa? Kamu ga malu punya teman kayak dia?” tanya Bela.

“Dia juga tidak secantik kita yah gengss. Malu banget punya teman kayak dia,” kata Putri dan Dila.

Kemudian Alis menjawab pertanyaan sombong mereka, “Aku tidak pernah malu memiliki teman seperti Lisa dan aku lebih malu punya teman seperti kalian yang suka membully orang.”

“Apa kamu bilang? Kamu itu harusnya punya teman kayak kita yang glow up dan bisa beli apa pun sesuka kita,” jawab Bela.

Bener, ngapain bergaul dengan dia, mukanya kek pizza, jerawataaannn! Eh atau jangan-jangan Alis juga belum pernah makan pizza, aduh!” kata Putria.

Diva pun menyela, “Eh tapi, tapi, muka Alis sekarang bersihan lho, dulunya kotoran.”

Akhirnya mendengar bullyan dari mereka geng anak sekolah itu Lisa dan Alis pergi keluar dari kantin tersebut, Lisa sangat merasa sakit hati dan dia menangis. Setelah kejadian itu Lisa dan Alis membenci geng sekolah mereka.

Suatu hari ketika musim pergantian semester gasal tiba…

Nilai ujian akhir Lisa dan Alis ternyata menjadi yang paling tinggi di kelas, sementara geng yang dianggap paling keren di sekolah justru ada di posisi terakhir. Tak terhindarkan, teman sekelas menertawakan anak geng sekolah itu saat guru membacakan perolehan nilai. Lisa dan Alis hanya saling bertukar senyum – mereka paham tidak enaknya menjadi bahan olok-olok. 

“Itulah sikap yang selalu menganggap diri sudah baik, tapi tanpa disadari masih memiliki banyak kekurangan,” bisik Alis.

“Tapi dengan prestasi yang kita raih sekarang, semoga kita juga jangan meninggikan diri sama mereka, sampai membully-nya juga ya. Kita coba tawarkan mereka belajar bersama aja, supaya di akhir tahun kita semua bisa lulus bareng” kata Lisa.

 

Oleh: Lois Ernike Hutabarat-Universitas Kristen Indonesia

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1,761