Penulis: Paulus Pramudya F.A – Universitas Kristen Indonesia
Setiap pagi kita harus kerepotan untuk nyiapin diri buat pergi sekolah. Mulai dari harus bangun pagi, nyetrika seragam, sampe buru-buru nyari kaos kaki yang entah gimana selalu ilang sebelah. Tapi tau nggak sih, ternyata dibalik seragam yang selalu kita pake setiap pergi ke sekolah itu, punya perjalanan yang panjang dan jarang banget orang-orang tau?
Seragam bukan cuma soal aturan berpakaian biar semua siswa keliatan rapi. Di balik kemeja putih dan bawahan berwarna itu, ada cerita tentang pendidikan pada masa kolonial, perubahan sistem pendidikan setelah Indonesia merdeka, sampai gimana seragam akhirnya jadi salah satu identitas sebagai seorang pelajar.
Masa Kolonial Belanda
Awal mula penggunaan seragam sekolah di Indonesia tidak lepas dari masa penjajahan. Pada masa kolonial Belanda, terutama ketika sistem pendidikan Barat mulai berkembang pada awal abad ke-20. Pendidikan pada masa itu hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu, terutama kaum-kaum bangsawan, pejabat, dan kelompok yang dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi.
Awalnya, murid tidak memakai seragam sekolah seperti sekarang, tapi seragam yang digunakan adalah pakaian formal dan mencerminkan status sosial. Kebijakan pendidikan kolonial cenderung rasial, saat itu terdapat dua sekolah yaitu sekolah khusus anak-anak Eropa dan sekolah khusus anak-anak Pribumi, dan yang paling terlihat adalah perbedaan seragam antara anak-anak Eropa dan Pribumi. Hal ini yang menyebabkan ketimpangan sosial yang sangat jelas di lingkungan sekolah.
Masa Kependudukan Jepang
Setelah Belanda menyerah kepada Jepang pada 1942, sistem pendidikan di Indonesia kembali mengalami perubahan. Sekolah-sekolah sempat ditutup lalu dibuka lagi pada April 1942, akan tetapi hanya sekolah khusus pribumi saja yang boleh beroperasi waktu itu. Jepang mengubah sistem pendidikan dasar dibuat menjadi satu jenjang selama enam tahun yang dulu dikenal sebagai Sekolah Rakyat atau Kokumin Gakko dan mengganti nama sekolah warisan Belanda. Sistem kurikulum dualisme nya pun juga dihapus.
Sistem pendidikan yang sebelumnya membedakan sekolah berdasarkan golongan masyarakat mulai diubah. Pada saat itu Jepang menerapkan sistem yang lebih seragam, termasuk menghapus pengelompokan sekolah berdasarkan kebangsaan dan status sosial seperti pada masa kolonial Belanda.
Namun, penyeragaman itu tidak bisa dilihat sebagai bentuk Pendidikan yang sepenuhnya bebas, Pendidikan pada masa kependudukan Jepang juga digunakan untuk mendukung kepentingan pemerintahan Jepang. kedisiplinan, kegiatan fisik, dan berbagai aktivitas yang mendukung kepentingan pendudukan menjadi bagian dari kehidupan pelajar pada saat itu.
Penggunaan seragam di Indonesia mulai gencar diterapkan pada kependudukan Jepang dan tetap berlanjut setelah kemerdekaan. Penggunaan seragam sekolah mulai diterapkan karena adanya budaya disiplin yang dibawa oleh Jepang dalam dunia pendidikan. Meski begitu, pada masa itu belum diberlakukan adanya corak warna untuk setiap jenjang pendidikan.

Ini mungkin bagian yang sering kita pertanyakan.
Kenapa seragam anak SD itu putih merah? SMP putih biru, dan SMA tiba-tiba berubah jadi putih abu-abu?
Setelah Indonesia merdeka, budaya berseragam sekolah ini masih terus diterapkan sampai sekarang. Aturan itu diresmikan di masa pemerintahan Presiden Soeharto pada 1982 lewat Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah.
SK tersebut berisi tentang penggunaan seragam sekolah bagi para siswa, tepatnya pada 17 Maret 1982. SK itu tidak hanya berisi tentang penyeragaman pakaian sekolah, tetapi juga mengatur corak warna yang berlaku bagi tiap tingkatan sekolah di Indonesia yang dikenakan para pelajar sekolah indonesisa saat ini.
Berdasarkan Surat Keputusan Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 52 tanggal 17 Maret 1982 warna untuk seragam sekolah terbagi menjadi tiga, yaitu:
SD dengan Seragam Putih Merah
Pemilihan warna putih pada atasan dan warna merah pada bawahan bukan tanpa alasan. Warna itu mengisyaratkan keberanian,kekuatan, serta semangat dan energi yang tinggi. Selain itu, warna ini merujuk pada kegembiraan serta keceriaan yang ada di usia SD. Oleh sebab itu, warna merah menjadi pilihan untuk mendorong rasa semangat siswa SD dalam belajar.

SMP dengan Putih Biru
Masa-masa SMP adalah masa-masa peralihan dari anak-anak ke remaja dan mulai mencari jati diri. Di fase ini biasanya kita menjadi semakin moody an. Warna biru tua sebagai bawahan melambangkan rasa percaya diri, kecerdasan, kemandirian, dan keharmonisan hubungan antar sesama. Inilah alasan kenapa seragam SMP berwarna putih dan biru tua. Dengan warna ini, siswa SMP diharapkan bisa untuk menstabilkan emosi agar kita lebih bisa mengendalikan diri terhadap perubahan yang kita alami.

SMA dengan Putih Abu-Abu
Beranjak ke SMA yang identik dengan masa-masa yang paling seru. Masa SMA merupakan jembatan peralihan remaja ke dewasa dan disini kita mulai mencari jati diri dan juga mulai berani mengambil keputusan untuk memulai melangkah. Terus kenapa seragam SMA berwarna putih abu-abu? Karena abu-abu bermakna kedewasaan dan ketenangan, sehingga dengan harapan siswa bisa lebih tenang dan berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan.

Penggunaan seragam ternyata bukan cuma sekedar untuk mematuhi aturan sekolah dan keliatan rapi aja, tapi ternyata seragam sekolah punya fungsi dan tujuan yang penting banget daripada itu.
Membedakan Tingkat Pendidikan
Dengan kebijakan perbedaan warna dari setiap tingkatan pendidikan, kita akan lebih mudah mengenali jenjang pendidikan yang sedang ditempuh oleh para pelajar.
Melatih Kedisiplinan
Sesuai dengan tujuan awal penggunaan seragam yaitu untuk mendisiplinkan siswa. Sekolah biasanya memberikan ketentuan dalam menggunakan seragam serta pelengkapnya. Mulai dari model baju, jenis ikat pinggang, topi, warna sepatu, kaus kaki, hingga peletakan badge pada seragam. Ketentuan inilah yang menjadi patokan dalam penilaian kedisiplinan siswa.
Simbol Kesetaraan Sosial
Sebelum ditetapkannya aturan berseragam, pelajar Indonesia pergi ke sekolah dengan memakai pakaian bebas. Orang yang mampu pasti akan menggunakan pakaian yang serba bagus, tapi beda cerita dengan mereka yang kurang mampu, mereka hanya berpakaian seadanya. Hal ini seperti menunjukkan adanya ketidaksetaraan ekonomi dan sosial yang dapat memberikan dampak buruk dalam hal pergaulan maupun kesehatan mental para pelajar. Dengan adanya seragam sekolah, tidak akan ada lagi kesenjangan sosial antar pelajar di sekolah.
Coba deh perhatiin kalo lagi nemu siswa dari sekolah lain di suatu tempat. Kadang kita bisa langsung nebak dia dari sekolah mana cuma dari seragamnya, atribut, warna dasi, badge, atau bahkan dari model pakaiannya aja.
Nah dari sinilah seragam berubah jadi suatu identitas. Dalam aturan yang sekarang, selain seragam nasional dan seragam Pramuka, sekolah juga dapat mengatur seragam khas sekolah yang memiliki ciri karakteristik sekolah itu. Dengan kata lain, seragam nggak cuma nunjukkin seseorang sebgai “pelajar” tapi dalam situasi tertentu juga bisa menunjukkan tempat di mana dia belajar.

Setelah kita tau sejarahnya, ternyata seragam sekolah nggak sesederhana yang selama ini kita pikirin.
Seragam udah dikenal di dunia Pendidikan Indonesia dari jaman kolonial, ketika pakaian sekolah bahkan dapat menjadi penanda status sosial dan perbedaan kelompok. Memasuki masa pendudukan Jepang, sistem pendidikan mengalami penyeragaman yang lebih kuat. Setelah Indonesia merdeka, seragam kemudian berkembang menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional dengan fungsi yang lebih menekankan kebersamaan, identitas, kedisiplinan, dan kesetaraan.
Karena ternyata, seragam sekolah bukan cuma soal apa yang kita pakai. Ia juga bercerita tentang siapa kita sebagai pelajar dan bagaimana pendidikan Indonesia berubah dari waktu ke waktu.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.