Skip to main content

Majalah Sunday

Ada Hari-Hari Ketika Kita Cuma Ingin Pulang

Penulis: Keisya Rahardjo – SMK 1 Perguruan Cikini

Ada hari-hari ketika kita menjalani semuanya seperti biasa. Bangun pagi, berangkat sekolah, bertemu teman, mengerjakan tugas, berbicara dengan banyak orang, lalu pulang ketika hari mulai selesai. Dari luar, semuanya mungkin terlihat baik-baik saja. Kita masih bisa tertawa, menjawab pertanyaan, dan melakukan hal-hal yang memang perlu dilakukan.Namun, entah kenapa, ada rasa lelah yang sulit dijelaskan. Bukan cuma lelah karena banyak kegiatan, tetapi juga lelah karena harus terus menghadapi berbagai hal sepanjang hari. Rasanya ingin segera pulang, menutup pintu kamar, berganti pakaian, lalu duduk diam tanpa perlu memikirkan apa pun untuk sementara waktu.

Mungkin ada kalanya kita tidak benar-benar ingin pergi ke suatu tempat. Kita hanya ingin berada di tempat yang membuat kita merasa tidak perlu melakukan apa-apa untuk membuktikan bahwa kita baik-baik saja.

Ketika Lelah Bukan Cuma Soal Fisik

Kita sering menganggap rasa lelah muncul karena terlalu banyak aktivitas. Padahal, ada juga kelelahan emosional yang muncul setelah kita terus-menerus menghadapi tekanan, mengatur perasaan, atau mencoba memenuhi berbagai tuntutan.

Sepanjang hari, kita mungkin harus menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kita berusaha memahami orang lain, menjaga cara berbicara, menyelesaikan tanggung jawab, dan tetap bersikap baik meskipun sedang tidak memiliki banyak energi.

Hal-hal seperti ini bisa menguras tenaga tanpa selalu kita sadari.

Ada kalanya kita tetap menjalankan semua kegiatan karena memang harus dilakukan. Kita tidak selalu punya kesempatan untuk berhenti dan bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang sedang kita rasakan.

Sampai akhirnya, ketika semua kegiatan selesai, barulah kita menyadari betapa lelahnya diri kita. Dan mungkin, pada hari-hari seperti itu, pulang menjadi satu-satunya hal yang ingin kita lakukan.

Rumah Untuk Pulang — Sebuah puisi dari Majalah Sunday tentang seseorang yang merindukan rumah, berharap untuk pulang. || Ada Hari-Hari Ketika Kita Cuma Ingin Pulang

Rumah Bukan Selalu Tentang Tempat

Ketika mendengar kata pulang, kita mungkin langsung membayangkan rumah, kamar tidur, atau tempat yang sudah sangat familiar. Namun, perasaan ingin pulang terkadang punya makna yang lebih luas daripada sekadar kembali ke suatu tempat.

Pulang bisa berarti kembali ke keadaan ketika kita merasa aman, diterima, dan tidak harus terus-menerus menyesuaikan diri.

Kita ingin berada di tempat yang memungkinkan kita untuk diam tanpa dianggap sedang marah. Tempat ketika kita tidak harus menjelaskan mengapa hari ini terasa berat, atau mengapa kita tidak punya banyak energi untuk berbicara.

Dalam psikologi, perasaan aman secara emosional berkaitan dengan pengalaman ketika seseorang merasa cukup nyaman untuk menunjukkan dirinya tanpa terus-menerus takut dihakimi.

Itulah sebabnya, bagi sebagian orang, kamar sendiri terasa begitu menenangkan setelah seharian berada di lingkungan yang ramai. Bukan karena dunia luar selalu buruk, tetapi karena kita juga membutuhkan ruang untuk beristirahat dari berbagai tuntutan di dalamnya.

Namun, rasa aman tidak selalu ditemukan di rumah. Terkadang, rasa itu hadir saat bersama seseorang yang membuat kita nyaman, mendengarkan musik kesukaan, atau melakukan kegiatan sederhana yang terasa akrab.

Pada akhirnya, yang kita cari mungkin bukan tempat tertentu, melainkan perasaan bahwa kita boleh menjadi diri sendiri di sana.

Lelah karena Terus Berusaha Terlihat Baik-Baik Saja

Ada hal lain yang terkadang membuat hari terasa lebih berat: usaha untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya sedang kita rasakan.

Kita mungkin tetap tersenyum meskipun sedang sedih, ikut tertawa meskipun pikiran sedang penuh, atau menjawab “nggak apa-apa” karena tidak tahu bagaimana menjelaskan keadaan kita.

Bukan berarti kita sedang berpura-pura sepanjang waktu. Terkadang, kita memang belum siap membicarakan perasaan sendiri. Ada juga saat ketika kita takut penjelasan kita tidak akan dipahami, atau khawatir malah membuat orang lain ikut terbebani.

Akhirnya, kita memilih untuk tetap menjalani hari seperti biasa.

Namun, terus-menerus menahan perasaan juga bisa melelahkan. Ketika tidak memiliki ruang untuk memproses apa yang sedang terjadi, beban emosional itu mungkin baru terasa ketika kita sudah sendirian.

Kalau kamu pernah mengalami hal seperti ini, kamu tidak harus langsung menemukan penjelasan untuk semua yang kamu rasakan. Ada kalanya kita memang membutuhkan waktu untuk memahami diri sendiri sebelum bisa menceritakannya kepada orang lain.

Kamu juga tidak harus selalu terlihat kuat hanya karena selama ini orang lain mengenalmu sebagai seseorang yang baik-baik saja.

Mengapa Kita Ingin Menjauh Sebentar dari Semuanya?

Keinginan untuk menyendiri setelah menjalani hari yang panjang bukan sesuatu yang aneh. Manusia memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dalam mengatur energi dan menghadapi rangsangan dari lingkungan.

Setelah berinteraksi dengan banyak orang, menerima banyak informasi, atau menghadapi situasi yang menegangkan, sebagian orang membutuhkan waktu tanpa banyak gangguan untuk memulihkan diri.

Waktu sendiri bisa membantu kita menenangkan pikiran, mengenali emosi, dan kembali memperhatikan kebutuhan yang mungkin terabaikan sepanjang hari.

Namun, ada perbedaan antara mengambil jeda untuk beristirahat dan merasa harus menjauh dari semua orang setiap kali menghadapi kesulitan.

Beristirahat dapat memberi kita kesempatan untuk kembali menghadapi masalah dengan lebih tenang. Sebaliknya, jika kita terus menghindari semua hal yang terasa berat, masalah tersebut mungkin tetap ada dan semakin sulit untuk dihadapi.

Kita tidak perlu memaksakan diri untuk selalu bersosialisasi ketika sedang lelah. Namun, kita juga tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Terkadang, cukup memberi tahu seseorang yang dipercaya bahwa kita sedang membutuhkan waktu bisa menjadi langkah kecil untuk menjaga diri.

Tidak Semua Hari Harus Dijalani dengan Maksimal

Kita hidup di tengah lingkungan yang sering menghargai kesibukan dan pencapaian. Ada tugas yang harus selesai, target yang ingin dicapai, dan berbagai hal yang membuat kita merasa harus terus bergerak.

Tanpa sadar, kita bisa mulai menganggap waktu yang tidak produktif sebagai waktu yang terbuang.

Ketika ingin beristirahat, muncul pikiran bahwa seharusnya kita melakukan sesuatu. Ketika tidak punya energi untuk berbicara, kita merasa tidak cukup menyenangkan. Bahkan saat sedang tidak baik-baik saja, kita mungkin tetap menuntut diri untuk menyelesaikan semuanya.

Padahal, kemampuan kita tidak selalu sama setiap hari.

Ada hari ketika kita bisa melakukan banyak hal, dan ada hari ketika menyelesaikan satu tugas saja terasa membutuhkan usaha lebih besar. Kondisi tubuh, suasana hati, tekanan yang sedang dihadapi, dan kualitas istirahat bisa memengaruhi kemampuan kita menjalani aktivitas.

Bukan berarti kita harus berhenti berusaha setiap kali merasa lelah. Namun, kita juga perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa terus-menerus merasa bersalah.

Kita boleh memiliki hari yang biasa saja. Kita boleh menyelesaikan sesuatu secara bertahap. Kita juga boleh mengakui bahwa hari ini terasa lebih berat daripada biasanya.

Nilai diri kita tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan dalam satu hari.

Tidak Semua Hari Harus Dijalani dengan Maksimal

Kita hidup di tengah lingkungan yang sering menghargai kesibukan dan pencapaian. Ada tugas yang harus selesai, target yang ingin dicapai, dan berbagai hal yang membuat kita merasa harus terus bergerak.

Tanpa sadar, kita bisa mulai menganggap waktu yang tidak produktif sebagai waktu yang terbuang.

Ketika ingin beristirahat, muncul pikiran bahwa seharusnya kita melakukan sesuatu. Ketika tidak punya energi untuk berbicara, kita merasa tidak cukup menyenangkan. Bahkan saat sedang tidak baik-baik saja, kita mungkin tetap menuntut diri untuk menyelesaikan semuanya.

Padahal, kemampuan kita tidak selalu sama setiap hari.

Ada hari ketika kita bisa melakukan banyak hal, dan ada hari ketika menyelesaikan satu tugas saja terasa membutuhkan usaha lebih besar. Kondisi tubuh, suasana hati, tekanan yang sedang dihadapi, dan kualitas istirahat bisa memengaruhi kemampuan kita menjalani aktivitas.

Bukan berarti kita harus berhenti berusaha setiap kali merasa lelah. Namun, kita juga perlu memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa terus-menerus merasa bersalah.

Kita boleh memiliki hari yang biasa saja. Kita boleh menyelesaikan sesuatu secara bertahap. Kita juga boleh mengakui bahwa hari ini terasa lebih berat daripada biasanya.

Nilai diri kita tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak hal yang berhasil diselesaikan dalam satu hari.

Kalau Hari Ini Terasa Berat, Kamu Boleh Berhenti Sejenak

Mungkin kita tidak selalu bisa mengubah keadaan yang membuat kita lelah. Tanggung jawab tetap ada, masalah mungkin belum selesai, dan besok kita mungkin masih harus menjalani rutinitas yang sama.

Namun, kita bisa mulai memperhatikan hal-hal kecil yang membantu kita merasa lebih baik.

Kita bisa memberi waktu untuk beristirahat, makan dengan cukup, mendengarkan musik yang menenangkan, menulis apa yang sedang dipikirkan, atau berbicara dengan seseorang yang kita percaya.

Kita juga bisa belajar mengenali kapan diri sendiri membutuhkan jeda, tanpa harus menunggu sampai semuanya terasa terlalu berat.

Kalau rasa lelah terus berlangsung, mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, atau membuat kita kesulitan menjalani rutinitas, tidak ada salahnya mencari dukungan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional.

Kita tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi sangat buruk untuk mulai memperhatikan diri sendiri.

Sebab, menjaga diri bukan hanya tentang melakukan sesuatu ketika kita sudah tidak sanggup lagi. Menjaga diri juga berarti belajar mendengarkan kebutuhan kita sebelum semuanya terasa terlalu berat.

Pada Akhirnya, Kita Semua Membutuhkan Tempat untuk Pulang

Mungkin kita tidak selalu bisa mengubah keadaan yang membuat kita lelah. Tanggung jawab tetap ada, masalah mungkin belum selesai, dan besok kita mungkin masih harus menjalani rutinitas yang sama.

Namun, kita bisa mulai memperhatikan hal-hal kecil yang membantu kita merasa lebih baik.

Kita bisa memberi waktu untuk beristirahat, makan dengan cukup, mendengarkan musik yang menenangkan, menulis apa yang sedang dipikirkan, atau berbicara dengan seseorang yang kita percaya.

Kita juga bisa belajar mengenali kapan diri sendiri membutuhkan jeda, tanpa harus menunggu sampai semuanya terasa terlalu berat.

Kalau rasa lelah terus berlangsung, mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, atau membuat kita kesulitan menjalani rutinitas, tidak ada salahnya mencari dukungan dari orang yang dipercaya atau tenaga profesional.

Kita tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi sangat buruk untuk mulai memperhatikan diri sendiri.

Sebab, menjaga diri bukan hanya tentang melakukan sesuatu ketika kita sudah tidak sanggup lagi. Menjaga diri juga berarti belajar mendengarkan kebutuhan kita sebelum semuanya terasa terlalu berat.

Produk Rekomendasi Sunday

Pada akhirnya, ada hari-hari ketika kita merasa lelah bukan karena terlalu banyak melakukan sesuatu, tetapi karena terlalu lama menahan banyak hal sendirian. Keinginan untuk pulang atau menyendiri bisa menjadi tanda bahwa kita membutuhkan waktu untuk beristirahat dan merasa aman. Nggak apa-apa kalau sesekali kita berhenti sejenak dan nggak memaksakan diri untuk selalu terlihat baik-baik saja. Kita juga berhak memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas, memulihkan energi, dan menghadapi semuanya kembali saat sudah siap.

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Views: 2