Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia
Sunners, kulitmu pernah tiba-tiba memerah, gatal, atau muncul ruam setelah beberapa waktu berada di bawah sinar matahari? Kalau iya, kamu mungkin mengalami apa yang dikenal sebagai alergi sinar matahari. Kondisi ini bukan berarti kamu benar-benar alergi terhadap matahari, melainkan reaksi sistem imun tubuh terhadap perubahan yang terjadi pada kulit akibat paparan sinar ultraviolet (UV).
Tinggal di negara tropis seperti Indonesia membuat kulitmu terpapar sinar matahari hampir setiap hari. Bagi sebagian orang, paparan ini tidak hanya menyebabkan kulit gelap atau terbakar, tetapi memicu reaksi yang cukup mengganggu. Meski kondisi ini umum terjadi, banyak yang belum tahu cara menanganinya dengan tepat, termasuk bagaimana menyesuaikan rutinitas perawatan kulit. Yuk, simak penjelasan lengkapnya!

Istilah “alergi sinar matahari” sebenarnya adalah istilah umum yang merujuk pada beberapa kondisi kulit yang dipicu oleh paparan sinar UV. Hal yang paling umum adalah Polymorphous Light Eruption (PMLE) diperkirakan memengaruhi sekitar 20% populasi dunia dan lebih sering terjadi pada perempuan muda, meski bisa dialami siapa saja tanpa memandang jenis atau warna kulit.
Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi terhadap protein di kulit yang berubah akibat paparan sinar UV. Respons imun itulah yang kemudian memunculkan gejala. Selain PMLE, ada dua jenis lain yang perlu diketahui, yaitu Photoallergic eruption. Ini terjadi ketika bahan kimia tertentu dalam produk perawatan kulit atau obat-obatan bereaksi dengan sinar UV dan memicu respons alergi. Contoh pemicunya antara lain wewangian sintetis, tabir surya kimia yang mengandung oxybenzone, atau beberapa jenis antibiotik topikal. Selain itu, ada Solar urticaria atau biduran akibat sinar matahari adalah jenis yang lebih jarang. Gejalanya berupa bentol-bentol gatal yang muncul dalam hitungan menit setelah kulit terpapar sinar matahari.
Gejala alergi sinar matahari biasanya muncul dalam 1–4 jam setelah paparan dan paling sering terjadi di area yang terpapar langsung seperti leher, lengan, punggung tangan, wajah, dan kaki. Gejala yang umum meliputi ruam merah yang gatal, bentol kecil atau lepuhan, kulit terasa panas dan terbakar, serta dalam kasus yang lebih berat, terjadi pembengkakan.
Penting untuk dibedakan dari sunburn biasa bahwa gejala alergi sinar matahari biasanya berupa ruam yang gatal dan muncul di area terpapar, sementara sunburn lebih merata dan terasa seperti kulit terbakar tanpa ruam yang jelas.
Intensitas sinar UV yang tinggi. Alergi matahari sering kali muncul pertama kali atau memburuk saat kulit tiba-tiba terpapar sinar matahari intens setelah lama berada di dalam ruangan, misalnya di awal musim panas atau setelah musim hujan panjang.
Bahan kimia fotosensitif dalam produk kulit. Beberapa bahan dalam produk perawatan kulit bereaksi dengan sinar UV dan dapat memperparah kondisi kulit. Bahan yang paling sering menjadi pemicu adalah wewangian sintetis (fragrance), oxybenzone dalam tabir surya kimia, dan beberapa kandungan antibiotik topikal.
Obat-obatan tertentu. Sejumlah obat-obatan meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar matahari. Jika kamu sedang mengonsumsi obat-obatan dan tiba-tiba kulit menjadi lebih sensitif terhadap matahari, konsultasikan dengan dokter.
Ada beberapa rutinitas perawatan kulit yang bisa dilakukan untuk kamu yang alergi sinar matahari. Tujuan utamanya adalah mempersiapkan lapisan pelindung kulit sebelum terpapar sinar UV.
1) Pembersih Wajah
2) Pelembap
3) Sunscreen
Beberapa bahan aktif dalam produk perawatan kulit akan meningkatkan sensitivitas kulit terhadap sinar UV. Hindari penggunaan retinol, AHA (asam glikolat), dan BHA (asam salisilat) di pagi hari. Bahan-bahan ini sebaiknya hanya digunakan pada malam hari.
Mengetahui bahan apa yang harus dihindari sama pentingnya dengan mengetahui bahan apa yang bermanfaat. Berikut daftar bahan yang perlu diwaspadai jika kulitmu reaktif terhadap matahari:
Sebelum mencoba produk baru, selalu lakukan patch test di area kecil kulit, misalnya di bagian dalam pergelangan tangan atau belakang telinga dan tunggu beberapa jam untuk memastikan tidak ada reaksi.

Alergi matahari adalah kondisi yang umum dan dapat dikelola dengan rutinitas perawatan kulit yang tepat. Kunci utamanya adalah perlindungan konsisten menggunakan tabir surya mineral broad-spectrum SPF 50+, memilih produk bebas pewangi dan bahan iritan, serta menenangkan kulit di malam hari dengan bahan aktif yang ramah untuk kulit sensitif.
Jika ruam tidak membaik setelah beberapa hari, gejala disertai demam atau pembengkakan, atau reaksi terjadi bahkan saat berada di dalam ruangan, segera konsultasikan ke dokter kulit. Kondisi seperti ini bisa jadi tanda kondisi medis lain yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
*****
Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.