Majalah Sunday

Tertarik Kuliah di FIB? Ini 4 Hal Unik Tentang Anak FIB yang Akan Kamu Temui!

Penulis: Selese Putriani Munawarah – Universitas Indonesia

Sunners, jika mendengar tentang Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), apa hal pertama yang terlintas di kepalamu? Mungkin sebagian besar orang akan langsung membayangkan tumpukan buku sejarah yang tebal, diskusi filsafat yang rumit, atau pujangga yang hobi merenung saat senja datang. Namun, bagi kamu yang tertarik untuk mendalami bidang ini, realitas kehidupan kampus di fakultas humaniora sebenarnya jauh lebih dinamis, berwarna, dan penuh dengan kebebasan berekspresi.

Sebagai salah satu fakultas yang plural, karakteristik seluruh mahasiswanya beragam. Baik jurusan sastra, arkeologi, filsafat, maupun sejarah, semua memiliki cara uniknya sendiri untuk menikmati masa perkuliahan. Nah, mari kita intip beberapa tren gaya hidup dan kebiasaan unik yang akan kamu temui di lingkungan FIB. Ini adalah gambaran keseruan dari salah satu sudut kampus yang membuktikan bahwa belajar ilmu humaniora itu bisa sangat menyenangkan dan bermanfaat!

Tertarik Kuliah di FIB? Ini 4 Hal Unik Tentang Anak FIB yang Akan Kamu Temui!
Kumpulan Dokumentasi Kegiatan Mahasiswa FIB UI

Pakaian Sebagai Bentuk Berekspresi

Di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, gaya berpakaian adalah bentuk berekspresi. Kamu akan menjumpai mahasiswa dengan fashion yang beragam. Ada yang memakai setelan kasual, gaya hippie, Y2K, gaya grunge, ada juga yang memilih batik serta beberapa jenis kain tradisional dengan sepatu lokal yang nyaman. Tidak sedikit yang memadukan gaya pakaiannya dengan berbagai aksesoris seperti gelang manik-manik, jam tangan vintage, dan jenis aksesoris lainnya.

Hal yang menarik, ini bukan hanya tentang mengikuti tren pasar, melainkan tentang kebebasan berekspresi. Setiap pilihan pakaian seolah bercerita tentang diri mereka masing-masing dan tidak ada yang menghakimimu karena pilihan gayamu. Kenyamanan dalam mengekspresikan diri inilah “budaya” aslinya.

Pertemanan dan Kegiatan Kreatif

Selasar gedung kuliah, kantin, dan area terbuka kampus adalah ruang kelas kedua bagi mahasiswa. Di sinilah pertemuan-pertemuan itu terjadi. Obrolan yang dimulai dari pembahasan ringan tentang film atau pop culture terbaru, kemudian membahas teori sastra dan linguistik, lalu melompat lagi ke diskusi isu sosial-politik yang tajam. Budaya pertemanan mahasiswa di kampus memiliki berbagai mode, santai sepenuhnya, atau diskusi dengan pemikiran yang kritis. Bagi kamu calon mahasiswa, ini artinya lingkungan pergaulan di kampus akan mendorong kamu untuk tetap bergaul dan terus belajar berpikir kritis dalam berbagai hal.

Dari pertemanan itu juga muncul kegiatan seni yang kolektif. Kamu akan menjumpai mahasiswa yang sedang berlatih teater di sudut gedung, musikalisasi puisi yang digelar spontan, diskusi karya terbuka, dan hiruk-pikuk persiapan festival budaya tahunan yang diadakan oleh mahasiswa.

Hal yang berharga dari semua ini bukan hanya hasilnya, tetapi prosesnya. Mengorganisir sebuah pertunjukan, melatih manajemen acara, kepemimpinan, negosiasi, dan kerja tim secara nyata. Sebelum kamu menginjakkan kaki di dunia kerja, kegiatan di kampus akan membekalimu dengan pengalaman yang berguna.

Kemampuan Literasi

Kemampuan literasi yang dibangun di FIB menjadi fondasi yang kuat. Pemahaman tentang narasi, konteks budaya, dan nuansa bahasa adalah keahlian yang dibutuhkan industri kreatif dan komunikasi. Lebih dari sekadar soal baca-tulis, literasi yang dibangun di rumpun humaniora adalah literasi tentang manusia, budaya, dan cara berpikir yang tidak bisa digantikan oleh industri lain.

Keberagaman yang Hangat

Salah satu yang paling terasa ketika sudah ada di dalamnya adalah keberagaman yang hangat. FIB merupakan salah satu ruang yang mahasiswanya datang dari berbagai latar budaya, pandangan, dan cara berpikir berbeda. Di sini, perbedaan bukan hambatan, melainkan bahan diskusi yang justru memperkaya. Kamu akan belajar berargumen, mendengar perspektif yang berbeda dari milikmu, dan belajar untuk tidak selalu merasa paling benar. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kemampuan ini menjadi salah satu modal terpenting yang bisa kamu bawa ke mana saja.

Selain itu, di tengah wacana bahwa pendidikan harus selalu “sesuai kebutuhan pasar,” justru prodi-prodi humaniora yang terus mengingatkan kita, yaitu di balik setiap skill yang bisa dijual, ada manusia yang perlu mengerti dirinya dan dunia di sekitarnya.

Nah, setelah mengintip keseruan kehidupan mahasiswa FIB di atas, apakah kamu semakin tertarik untuk kuliah di FIB?

*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1