Majalah Sunday

SS Ourang Medan: Ketika Rasa Berubah Menjadi Pembunuhan

Penulis: Marcello Salvares – Universitas Bunda Mulia

Selat Malaka, 2024. Delapan orang menemukan kapal hantu SS Ourang Medan yang hilang puluhan tahun. Mereka percaya itu hanyalah sebuah kebetulan. Mereka percaya bahwa mereka dapat melarikan diri tanpa cedera. Tapi mereka salah. Karena di dalam kapal itu, terornya bukan berasal dari hantu atau mayat yang bangkit. Kengerian datang dari salah satu dari mereka. Seseorang yang menyimpan rahasia kelam. Seseorang rela membunuh untuk mencapai keinginannya. Seseorang bernama Malik.

Kabut dan Kapal Tua

Bagi Citra, Sinta, Cecep, dan Epen, liburan kali ini berbeda. Kakak-kakak mereka juga datang. Birjon, kakak laki-laki Epen, mengajak pacarnya Ratih Yang juga merupakan kakaknya Sinta. Ada pula Widia yang merupakan teman Ratih, dan Malik teman Birjon.

Delapan orang naik perahu kecil di pantai timur Sumatera.

“Aku senang bisa berlibur bersamamu,” kata Ratih sambil menyandarkan kepalanya di bahu Birjon.

Malik yang duduk paling belakang memegang erat tepi perahu. Matanya tak mampu berpaling dari Ratih.

“Lihat! Ada kapal besar di depan!” teriak Cecep.

Di kejauhan, sebuah kapal tua muncul dari balik kabut. Nama SS OURANG MEDAN terukir di lambung kapal.

“Jangan mendekat,” kata Epen dengan panik, “Aku pernah mendengar cerita tentang kapal itu.”

Namun, perahu mereka hanyut mendekati kapal besar itu. Mesin telah dimatikan. Seakan perahu mereka sedang ditarik.

“Wah, ada tangga yang mengarahkan ke pintu masuk disamping kapal” Ujar Cecep dengan rasa penasaran yang tinggi.

Cecep pun tanpa pikir panjang naik ke lantai atas. 

Duh Cecep kamu ngapain sih naik keatas, kamu nggak takut kalau ada sesuatu di situ?” Teriak Epen pada Cecep.

Karena Cecep tak mengubris, mau tak mau mereka mengikuti satu demi satu. Saat semuanya sudah masuk keatas, tiba-tiba pintu besi di belakang mereka menutup dengan sendirinya.

BAM!

Mereka pun terjebak.

SS Ourang Medan: Ketika Rasa Berubah Menjadi Pembunuhan
Image Source: pexels.com

Mayat dengan Mata Melotot

“Aduh kita harus gimana ini, pintunya keras banget” kata Citra dengan panik.

“Udah tenang aja, pasti ada jalan keluar di sekitar sini. Sayang aja dek Citra kalau udah nemu hal unik, tapi nggak kita periksa” Kata Malik sambil tersenyum aneh.

Mereka Pun sepakat dan memutuskan untuk memeriksa isi  kapal.

Koridor kapal sangat gelap dan berbau busuk. Cecep dengan berani berjalan terlebih dahulu dengan menggunakan senter seadanya.

Tak lama berjalan mereka sampai di ruang kendali dan berhasil menyalakan lampu disana, namun saat lampu menyala mereka menemukan sesosok mayat duduk tegak di kursi operator radio. Matanya menonjol. Mulutnya ternganga dan tangannya terulur seolah dia berteriak histeris.

Sinta kaget dan berteriak dengan penemuan mereka, dan Ratih memeluk adiknya, berusaha menenangkan Shinta.

Hal lebih menyeramkan terlihat di dinding, samping mayat. Disana terdapat tulisan yang terbuat dari cairan berwarna merah menyerupai darah.

“SEMUANYA TEWAS DAN AKU AKAN MATI.”.

Tiba-tiba semua lampu mati, kondisinya kembali ke kegelapan total.

“Awas! Ada yang memegang tanganku!” Teriak Widia.

Birjon berusaha menyalakan lampu sekali lagi. Namun saat lampu menyala Widia sudah berhenti bernapas. Darah menutupi lehernya. Matanya melotot. Persis seperti badan di kursi operator radio.

“SIAPA YANG MELAKUKAN INI?” Teriak Birjon sambil waspada.

Tidak ada yang menjawab. Hanya kepanikan dan rasa takut yang menyelimuti mereka.

“Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi pada mu Widia” Ratih dengan tangis histerisnya.

SS Ourang Medan: Ketika Rasa Berubah Menjadi Pembunuhan
Image Source: unsplash.com

Kecurigaan yang Terbagi

Malik pun mengambil kendali disini, dia menenangkan semuanya seakan tidak terjadi apa-apa. Sambil menunjukkan rasa sedihnya, iya pun meminta untuk berdoa bersama dan  mengusulkan agar mereka berjalan berdua-dua. 

“Kayaknya kita harus bagi tim nih, biar kita bisa lebih cepat menemukan pintu keluar dan memanggil tim penyelamat untuk membawah mayat Widia” Kata Malik sambil mengusap punggung Birjon, yang sedang berduka.

Birjon bersama Ratih, Cecep bersama Citra, dan Epen bersama Sinta. Sedangkan Malik sendirian di belakang.

 

Sinta berbisik pada Epen, “Aku tidak percaya pada Malik. Dia terus memperhatikan kakak ku dari tadi, kayak orang freak.”

“Mari kita buktikan dulu,” jawab Epen.

Tiba-tiba, Birjon berhenti karena merasa ada yang tidak beres. “Di mana Malik?”

Mereka berbalik, dan Malik menghilang.

Suara Malik terdengar dari mana-mana. “Jangan mencariku!” Aku ada disini. Aku ada di mana-mana.”.

Lampu padam sekali lagi. Saat dinyalakan, Birjon tidak ada di samping Ratih.

Namun hal tak terduga terjadi, mereka menemukan Birjon tergeletak di lorong dengan kondisi terluka. Di dadanya berlumuran darah, dan terdapat kertas bertuliskan “Aku suka Ratih. Namun, Ratih adalah milik Birjon. JADI BIRJON HARUS MATI”.

Ratih dan Epen panik. Mereka akhirnya mengerti. Malik lah yang membawa bencana itu.

SS Ourang Medan: Ketika Rasa Berubah Menjadi Pembunuhan
Image Source: unsplash.com

Pengakuan Dosa di Ruang Mesin

Sembari mengobati Birjon, Epen yang diselimuti amarah mengajak untuk mencari Malik demi menuntut pertanggung jawabannya. 

“Gak bisa dimaafkan, kita harus menemukan si Malik-Malik itu lalu kita hajar dia. Aku nggak terima kakak ku dibuat begini olehnya” Epen yang sudah memanas dan termakan emosi.

Ratih sebagai orang dewasa disini berusaha untuk menenangkan semuanya, sambil menangis Ratih meminta mereka untuk kembali menjadi satu.

“Adek-adek, kita… kumpul jadi satu ya, dan jaga satu sama lain” Kata Ratih yang berusaha tegas dengan tangan yang gemetar.

Mereka pun kembali berjalan setelah Birjon diobati. Tak lama berjalan, mereka berhasil menemukan Malik di ruang mesin yang memegang pisau berlumuran darah.

“Woy kenapa kamu melakukan ini, apa salahnya Widia dan Birjon. MALIK?” Ratih bertanya sambil gemetaran.

“KARENA AKU CINTA SAMA KAMU SEJAK SEMESTER SATU, TAPI KAU MALAH GAK PERNAH PEDULI SAMA AKU!” Teriak Malik.

“Tapi kenapa kau membunuh kak Widia?” Epen bertanya.

“Dia tahu terlalu banyak. Dia melihatku memotong kabel mesin perahu, dan menutup pintu secara paksa sehingga pintu tertutup rapat” Kata Malik sambil tertawa girang.

Malik menekan tombol di dinding. Mesin kapal menderu-deru hidup dengan suara yang sangat mengerikan.

“Kapal ini akan segera meledak, biarin kita semua mati bersama hahaha” Malik sambil menunjukkan benda mirip peledak.

“TIDAK!” teriak Ratih.

Image Source: pexels.com

Sebuah akhir bahagia atau awal dari trauma?

Birjon berlari menuju Malik. Mereka saling tukar pukulan, sampai pisau dan benda ditangan Malik jatuh.

Tapi dengan kondisi Birjon yang tidak prima, iya berhasil di dorong oleh Malik ke dinding. Birjon kepalanya terbentur dan pingsan.

Cecep dan Epen menyerang Malik secara bersamaan. Tapi Malik sepertinya sedang kesurupan. Matanya terlihat merah.

Citra mengambil alat pemadam kebakaran dan memukul kepala Malik dari belakang.

Brak!

Malik terjatuh. Tidak bergerak.

Mereka mengangkat Birjon dan berlari mencari pintu keluar. Mereka menemukan pintu darurat yang tidak terkunci, dan melompat ke laut satu per satu. Perahu kecil mereka tetap mengambang.

SS Ourang Medan meledak segera setelah semua orang menaikinya. Malik tidak pernah ditemukan lagi setelah kejadian itu.

“Maafkan aku, Malik,” tangis Ratih.

“Ini bukan tanggung jawab kamu, tapi ini pilihanmu” kata Birjon sambil memeluk Ratih.

Delapan orang berangkat. Hanya enam yang kembali ke rumah.

Citra, Sinta, Cecep, Epen, Birjon, dan Ratih selamat.

Tapi mereka tidak pernah membicarakan liburan itu lagi.

Setiap kali mereka mengingatnya, suara Malik masih terngiang di telinga mereka.

“Aku di sini. Aku ada di mana-mana.” 

*****

Majalah Sunday, Teman Memahami Tips Belajar, Edukasi Seksual dan Kesehatan Mental

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.

Ikutan berkarya di
Majalah Sunday

Post Views: 1