Penulis: Rafi Bintang Maulana – Telkom University Purwokerto
Pernah nanya sesuatu ke Perplexity atau Gemini buat riset tugas sekolah, terus dapet jawaban yang kedengarannya meyakinkan banget, tapi pas dicek ternyata salah total? Nah, itu yang namanya AI hallucination, dan ini lebih sering kejadian daripada yang kamu kira.
Kabar baiknya, sebagian besar masalah ini bisa dihindari cuma dengan cara kamu menyusun pertanyaan alias prompt. Prompt yang asal-asalan biasanya berujung jawaban yang asal-asalan juga. Ada satu framework simpel yang bisa bikin hasil risetmu jauh lebih akurat, namanya framework RTF: Role, Task, Format. Yuk, bahas satu-satu.
AI hallucination adalah kondisi ketika AI menghasilkan informasi yang terdengar meyakinkan dan percaya diri, padahal sebenarnya salah atau bahkan nggak berdasar sama sekali. Ini bahaya banget buat riset tugas sekolah, karena kamu bisa aja kecolongan kutip fakta yang keliru, angka atau rumus yang salah, bahkan sumber atau kutipan yang sebenarnya nggak pernah ada. Masalahnya, AI biasanya nulis jawaban yang ngarang itu dengan gaya bahasa yang sama percaya dirinya kayak jawaban yang bener, jadi susah dibedain kalau nggak dicek ulang
Framework RTF adalah cara menyusun prompt biar instruksimu ke AI lebih jelas dan terarah, terdiri dari tiga komponen. Role, kasih AI peran spesifik, misalnya “kamu adalah peneliti sejarah yang teliti”, biar jawabannya lebih fokus dan sesuai konteks. Task, kasih instruksi tugas yang jelas dan spesifik, bukan pertanyaan umum yang bisa diartikan macam-macam. Format, tentuin bentuk output yang kamu mau, misalnya poin-poin, tabel perbandingan, atau paragraf lengkap dengan sitasi sumber di setiap klaim yang penting.
.Biar kebayang bedanya, coba bandingin dua prompt ini. Prompt asal biasanya cuma singkat kayak “jelasin penyebab perang dunia 2”, hasilnya AI bakal ngasih jawaban umum yang bisa aja dangkal atau bahkan salah di beberapa bagian tanpa kamu sadari. Sementara prompt yang udah disusun pakai RTF bisa jadi kayak gini: “Kamu adalah sejarawan yang ahli soal Perang Dunia II (Role). Jelaskan tiga penyebab utama pecahnya Perang Dunia II beserta konteks historisnya (Task). Sajikan dalam bentuk poin-poin, masing-masing disertai sumber atau referensi yang bisa dicek (Format).” Hasilnya jauh lebih terarah, lebih detail, dan lebih gampang diverifikasi.
Selain framework RTF, ada beberapa trik tambahan yang bisa kamu pakai. Minta AI sertakan sumber atau link asli buat tiap klaim penting, biar kamu bisa langsung cross-check. Minta AI kasih tau seberapa yakin dia sama jawabannya, ini bisa bantu kamu nentuin bagian mana yang perlu diverifikasi lebih lanjut. Biasakan cross-check manual ke sumber aslinya, jangan langsung percaya 100 persen walaupun jawabannya kedengaran meyakinkan. Terakhir, hindari pertanyaan yang terlalu terbuka atau ambigu, karena semakin spesifik promptmu, semakin kecil ruang buat AI “mengarang” jawaban.
Ada beberapa kebiasaan yang sering bikin hasil riset dari AI jadi kurang akurat. Langsung copy-paste jawaban AI tanpa verifikasi ulang ke sumber lain. Menulis prompt yang terlalu singkat atau general, jadi AI nggak punya cukup konteks buat ngasih jawaban yang tepat. Nggak minta AI sertakan sumber, jadi susah dicek kebenarannya. Dan yang paling sering, percaya 100 persen ke jawaban AI tanpa mikir kritis lebih dulu, padahal AI juga bisa salah.
AI search kayak Perplexity atau Gemini itu alat bantu riset yang powerful, tapi tetap butuh cara pakai yang tepat. Framework RTF bisa bikin prompt-mu lebih terarah, dan kebiasaan cross-check bisa nyelametin kamu dari AI hallucination yang bisa bikin tugas jadi berantakan.
Coba deh, di tugas riset berikutnya, susun promptmu pakai framework RTF: tentuin Role buat AI-nya, kasih Task yang spesifik, dan minta Format yang jelas lengkap dengan sumber. Biasakan juga cross-check manual sebelum kamu pakai jawabannya. Kebiasaan kecil ini bisa bikin hasil risetmu jauh lebih bisa dipercaya.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.