Penulis: Ayu Anjani – Universitas Pendidikan Indonesia
Lingkungan yang tersayat bermula dari sungai keruh penuh cemaran yang kelam,
Langit menghitam oleh asap, napas manusia terasa semakin dalam,
Jagat yang tersiksa saat rimba hilang oleh penebangan yang kejam,
Lahan teracuni limbah, diam namun menyimpan ancaman.
Pesisir yang terkoyak, abrasi menghapus batas daratan,
Samudra merintih, ekosistem runtuh kehilangan keseimbangan,
Kehidupan liar meredup, keanekaragaman kian kehilangan peran,
Sisa buangan sampah menumpuk tinggi, jadi luka yang tak tertahankan.
Kota yang terendam, banjir datang tanpa jeda waktu,
Ruang serapan menghilang, terganti beton yang kaku,
Permukaan bumi longsor, erosi jadi ancaman pilu,
Sumber air bersih menipis, krisis hadir tanpa ragu.
Planet yang memanas, suhu terus naik tak terkendali,
Bahan bakar fosil dipuja luas, dampaknya meluas berkali-kali,
Lahan gambut terbakar, asapnya menyesakkan setiap hari,
Partikel mikroplastik menyelinap halus ke tubuh tanpa disadari.

Kesunyian tercabik oleh kebisingan yang tak pernah mati,
Cahaya berlebih menghapus malam, ritme alam jadi tak pasti,
Air bawah tanah tercemar, sumber kehidupan tak lagi murni,
Siklus kerusakan terus berulang, jadi kenyataan bahwa sulit untuk dipahami.
Alam yang terluka bukan sekadar cerita atau wacana,
Ini tentang masa depan dan arah kehidupan manusia,
Semesta yang merintih memanggil kesadaran kita semua,
Bahwa tempat berpijak ini adalah rumah kita bersama.
Bumi yang terluka bertanya, masihkah ada kepedulian terhadap ku kini?
Di tengah krisis iklim, sampah, dan polusi yang tak henti,
Jagat yang tersakiti menuntut aksi, bukan sekadar janji,
Jika terus diabaikan, bumi hanya tinggal kenangan nanti.
Lingkungan bumi bukan sekadar tempat tinggal yang bisa terus dieksploitasi, tapi ruang hidup yang harus dijaga bersama. Semua kerusakan bumi dari polusi, sampah, sampai krisis iklim itu bukan terjadi begitu saja, tapi hasil dari pilihan manusia yang abai. Puisi ini menekankan bahwa kalau kita terus cuek, dampaknya akan balik menghantam kehidupan kita sendiri. Jadi intinya, perubahan itu harus dimulai sekarang, sekecil apa pun aksinya, karena menjaga lingkungan bukan pilihan tambahan, tapi tanggung jawab yang tidak bisa kita tunda.
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.