Penulis: Lubna Apdria Kuwaysa – SMKN 48 Jakarta
Malam itu, kampus sudah benar-benar sunyi. Bagas, mahasiswa kuliah tingkat akhir yang mengambil jalur kelas karyawan, masih setia mendekam di area parkir belakang.
Sebagai budak korporat di siang hari dan pejuang gelar di malam hari, waktu Bagas memang seharga emas batangan.
Bukannya langsung pulang buat rebahan, dia malah buka laptop, berduel dengan barisan kodingan yang lebih rumit dari teka-teki silang tanpa petunjuk.
Suasana parkiran belakang sebenarnya agak “suram”. Lampu jalannya kedap-kedip mirip lampu diskotik yang mau pensiun. Sesekali terdengar suara burung hantu, atau mungkin itu cuma suara perut Bagas yang lapar tapi ditahan demi revisi bab tiga.
“Duh, ini kodingan kenapa error terus sih? Kayak hubungan gue sama mantan, nggak pernah nemu titik terang,” gerutu Bagas sambil mengacak rambutnya yang sudah semrawut mirip sarang burung emprit.
Pas lagi asik-asiknya ngetik—yang sebenarnya lebih banyak Backspace daripada ngetik kalimat baru—tiba-tiba ada suara berat yang memecah keheningan.
“Waduh, jam segini masih betah aja, Mas? Nggak takut apa?”
Bagas hampir saja melempar laptopnya ke semak-semak. Dia menoleh dan melihat seorang pria berseragam safari biru tua lengkap dengan topi dan pentungan di pinggangnya. Satpam.
Bagas langsung menghela napas lega. Safe, pikirnya. Dia mengira itu Pak Bambang, satpam yang memang sering muter kalau malam.

“Eh, Bapak. Ngagetin aja! Ini nih Pak, tugas kuliah belum kelar-kelar, malah disuruh bikin skripsi yang revisinya ngalahin jumlah dosa saya,” jawab Bagas sambil terkekeh canggung.
Si Satpam itu duduk di pembatas jalan, tak jauh dari meja semen tempat Bagas nangkring. Wajahnya terlihat tenang, meski kalau diperhatikan lagi, kulitnya agak pucat, mungkin karena kelamaan kena AC atau emang kurang asupan vitamin D gara-gara jaga malam terus.
“Hahaha, namanya juga perjuangan, Dek Bagas. Dulu saya juga sering lihat mahasiswa kayak Adek begini. Tapi biasanya mereka milih di depan, bukan di belakang sini yang… yah, agak ‘dingin’ dan sepi,” sahut si Satpam mulai akrab. Bagas merasa beruntung.
Biasanya satpam kampus galak-galak kayak dosen killer, tapi yang ini malah hobi diajak curhat. Bagas pun mulai “menumpahkan” segala keluh kesahnya, mulai dari dosen pembimbing yang hobinya Ghosting sampai susahnya bagi waktu antara kerja dan belajar.
Si Satpam dengerin dengan khusyuk, sesekali manggut-manggut kayak paham banget soal database. “Emang Adek fakultas mana? Prodi apa?” tanya si Satpam.
“Sistem Informasi, Pak. Susah banget! Ini skripsi saya tentang optimasi basis data, tapi otak saya sendiri yang nggak teroptimasi,” curhat Bagas lagi.
Obrolan makin mengalir, dari soal birokrasi kampus sampai harga bensin yang makin nggak masuk akal. Bagas benar-benar lupa kalau dia lagi di pojokan kampus yang terkenal angker di jam dua pagi.

Tapi namanya juga manusia, rasa parno itu tiba-tiba muncul tanpa diundang saat angin malam berhembus lebih kencang dari biasanya. Bagas melirik sekelilingnya yang makin gelap karena satu-satunya lampu yang menyala tiba-tiba mati total.
“Pak,” panggil Bagas pelan dengan suara agak bergetar.
“Ya, Dek?” jawab si Satpam kalem.
“Bapak… Bapak beneran orang kan? Maksud saya, Bapak bukan penunggu sini yang lagi nyamar kan?” tanya Bagas frontal. Efek kurang tidur memang suka bikin filter otak rusak total.
Si Satpam terdiam sejenak, lalu meledak dalam tawa yang cukup nyaring, tapi anehnya suara tawanya tidak bergema. “Hahahaha! Ya ampun, Dek Bagas. Adek kebanyakan nonton konten horor nih. Ya kali saya hantu. Kalau saya hantu mah, kaki saya udah nggak nyentuh tanah, melayang-layang kayak layangan putus!”
Bagas langsung refleks melirik ke bawah. Memang sih, si Bapak pakai sepatu pantofel hitam mengkilap, dan terlihat “menempel” di aspal. Bagas mengusap dadanya lega. “Alhamdulillah. Habisnya Bapak munculnya tiba-tiba banget.”
“Sudah, jangan parno. Selesaikan itu ketikannya. Saya temenin di sini sampai jam dua kalau perlu, biar aman dari ‘gangguan’ lain,” kata si Satpam sambil tersenyum lebar. Bagas pun lanjut ngetik dengan semangat baru.
Benar saja, dia ditemani sampai jam dua pagi. Si Satpam benar-benar teman ngobrol yang asik. Dia tahu banyak soal sejarah setiap sudut gedung tempat Bagas kuliah. Pas jam menunjukkan pukul 02.15, Bagas memutuskan untuk cabut dengan motornya karena matanya sudah mengantuk.
Di kaca spion, dia sempat melihat si Satpam masih berdiri di sana, tersenyum, sebelum akhirnya sosok itu perlahan hilang di balik bayangan gedung fakultas.

Paginya, dunia terasa berputar bagi Bagas. Kepalanya berat, hidungnya meler, dan suhu tubuhnya naik drastis sampai bisa buat ngeringin handuk basah. Fix, demam.
Tapi karena dia adalah budak korporat yang takut potong gaji, dia tetap memaksakan diri berangkat kerja. Di kantor, Bagas duduk lemas sambil terus-terusan bersin.
Rio, teman kantor yang kebetulan satu kampus di program kelas karyawan juga, menghampiri meja Bagas dengan muka penuh keheranan.
“Woi, Gas! Muka lu udah kayak cucian nggak kering, kusut banget. Habis digebukin massa apa gimana?” tanya Rio sambil menaruh kopi di meja.
“Sakit gue, Yo. Semalam begadang di kampus nyicil skripsi sampai jam dua pagi di parkiran belakang,” jawab Bagas dengan suara sengau yang seksi-seksi becek.
Rio mengerutkan kening, mukanya mendadak berubah serius. “Gila lu. Di parkiran belakang? Sendirian? Lu nggak tahu ceritanya apa gimana?”
Bagas berusaha duduk tegak meski kepalanya nyut-nyutan. “Enggak sendirian, elah. Ada Pak Bambang, satpam senior yang kumisnya tipis itu. Dia nemenin gue ngobrol lama banget. Orangnya asik, humoris lagi. Dia bahkan sempat becanda kalau dia hantu, kakinya nggak bakal napak tanah. Lawak banget kan si Bapak?” Bagas tertawa kecil, meski berakhir dengan batuk-batuk yang cukup dramatis.
Dia merasa bangga bisa akrab sama “orang lama” di kampus.
Rio tidak ikut tertawa. Dia malah meletakkan gelas kopinya perlahan, lalu menatap Bagas dengan tatapan kasihan yang mendalam—tipe tatapan yang biasanya diberikan orang kepada mereka yang baru saja kena tipu investasi bodong.
“Gas… lu beneran nggak tahu ya? Pak Bambang, satpam yang lu ceritain itu… dia udah meninggal dua bulan lalu, Gas. Serangan jantung pas lagi patroli malam tepat di titik lu nongkrong semalam.”
Dunia Bagas serasa berhenti berputar. Hening. Suasana kantor yang tadinya bising suara printer mendadak senyap di telinga Bagas.
Dia teringat lagi ucapan si Satpam: “Kalau saya hantu mah kaki saya udah ga nyentuh tanah, dek.”
Bagas baru sadar satu detail kecil yang dia lewatkan semalam karena gelap. Dia memang melihat sepatu si Satpam ada di atas aspal, tapi dia tidak pernah melihat ada bayangan di bawah sepatu itu, meskipun ada lampu di dekat mereka.
“Terus… yang ngobrol sama gue semalam siapa, Yo? Dia bahkan tahu jadwal kuliah gue!” tanya Bagas lemas, wajahnya makin pucat mengalahkan kertas printer.

Rio cuma bisa menepuk bahu Bagas pelan, berusaha menahan tawa sekaligus ngeri. “Mungkin dia cuma mau bantuin lu biar cepet lulus, Gas. Anggap aja itu layanan konsultasi skripsi jalur astral. Lagian lu juga sih, berani banget PDKT sama almarhum.”
Bagas langsung menyandarkan kepalanya ke meja, pasrah. Sekarang dia tahu penyebab demamnya bukan karena angin malam, tapi karena syok jantung yang tertunda.
Bagas cuma bisa merem. Dalam hatinya dia berjanji: Besok-besok kalau mau nyicil skripsi, mending di McD yang lampunya terang dan banyak orangnya, biarpun nggak beli apa-apa cuma numpang Wi-Fi!
*****

Dapatkan informasi mengenai kesehatan mental, edukasi seksual, dan tips pelajar hanya di Majalah Sunday, teman curhat remaja Indonesia.